𝐀𝐋𝐄𝐗𝐀 𝐆𝐀𝐃𝐈𝐒 𝐋𝐔𝐆𝐔

 

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D   - Alexa dikenal sebagai gadis yang terlalu polos untuk dunia yang penuh tipu daya. Usianya baru menginjak delapan belas tahun, namun cara berpikirnya masih seperti anak kecil yang percaya bahwa semua orang memiliki niat baik. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang tenang, tempat orang-orang saling mengenal, dan gosip menyebar lebih cepat daripada angin sore.

Setiap pagi, Alexa berjalan menyusuri jalan sempit menuju sekolah dengan langkah ringan. Rambut hitamnya selalu diikat seadanya, wajahnya jarang tersentuh riasan, dan senyumnya mudah muncul bahkan kepada orang asing. Banyak yang menyebutnya lugu, sebagian lagi menganggapnya bodoh. Alexa tidak pernah mempermasalahkan itu. Baginya, hidup sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan penilaian orang lain.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Ia hidup bersama ibunya yang bekerja keras di sebuah toko kecil. Ayahnya telah lama pergi, meninggalkan mereka tanpa banyak penjelasan. Sejak saat itu, Alexa belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup, meski ia tidak sepenuhnya mengerti alasannya. Ia hanya tahu bahwa ibunya sering menangis diam-diam di malam hari, dan sejak itu Alexa berusaha menjadi anak yang tidak merepotkan.

Di sekolah, Alexa bukanlah siswi yang menonjol. Nilainya biasa saja, keberadaannya sering terlewatkan. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda—ia selalu percaya. Percaya pada janji, percaya pada kata-kata manis, dan percaya bahwa orang akan menepati apa yang mereka ucapkan. Kepercayaan itulah yang kelak menjadi kelemahannya.

Hari-hari Alexa berubah ketika ia mulai mengenal dunia di luar rutinitasnya. Dunia yang menawarkan perhatian, pujian, dan rasa diterima. Ia tidak menyadari bahwa tidak semua perhatian datang dengan ketulusan. Bagi Alexa, perhatian sekecil apa pun terasa seperti cahaya di tengah gelapnya rasa sepi yang selama ini ia simpan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Ia mulai sering pulang lebih larut, dengan alasan kegiatan tambahan. Ibunya tidak banyak bertanya karena percaya pada anaknya sepenuhnya. Kepercayaan itu membuat Alexa merasa bersalah, namun ia juga merasa untuk pertama kalinya, ada orang-orang yang benar-benar melihat keberadaannya.

Alexa mulai berubah, bukan secara drastis, tetapi perlahan. Senyumnya masih sama, namun matanya menyimpan kebingungan. Ia sering termenung, memikirkan hal-hal yang belum pernah ia pahami sebelumnya. Ia merasa dewasa, namun juga takut. Ia ingin percaya, tetapi hatinya mulai ragu.

Di titik itulah Alexa mulai belajar bahwa dunia tidak selalu seindah yang ia bayangkan. Bahwa tidak semua yang berkata lembut memiliki niat baik. Beberapa hanya datang untuk mengambil, lalu pergi tanpa peduli pada sisa yang ditinggalkan.

Ia pernah merasa bersalah, merasa dirinya bodoh karena terlalu mudah percaya. Namun di sisi lain, ia juga marah. Marah karena tidak ada yang mengajarinya cara melindungi diri. Marah karena keluguannya dianggap sebagai undangan untuk dimanfaatkan.

Malam-malamnya kini dipenuhi air mata yang jatuh tanpa suara. Alexa tidak pernah menceritakan apa yang ia rasakan pada siapa pun. Ia takut dianggap berlebihan, takut disalahkan, dan takut kenyataan akan lebih menyakitkan jika diucapkan. Ia memilih diam, karena diam terasa lebih aman.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Namun, diam tidak selalu menyembuhkan. Luka yang tidak dibicarakan justru tumbuh lebih dalam. Alexa mulai kehilangan dirinya sendiri. Ia tidak lagi yakin pada senyum yang ia tunjukkan, tidak lagi percaya pada hati kecilnya yang dulu begitu jujur.

Hingga suatu hari, Alexa menyadari satu hal penting: keluguan bukanlah kesalahan. Kesalahan ada pada mereka yang memanfaatkan ketulusan. Ia mulai belajar berkata tidak, belajar ragu, dan belajar menjaga jarak. Proses itu tidak mudah, sering kali menyakitkan, namun perlahan membuatnya lebih kuat.

Alexa masih gadis yang sama—lembut, baik hati, dan penuh empati. Namun kini ia tidak lagi menyerahkan kepercayaannya dengan cuma-cuma. Ia belajar bahwa menjadi baik tidak berarti harus mengorbankan diri sendiri.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Di usianya yang masih muda, Alexa memahami satu pelajaran besar tentang hidup. Bahwa tumbuh dewasa tidak selalu tentang menjadi keras, tetapi tentang tahu kapan harus melindungi hati. Ia mungkin masih lugu, namun ia tidak lagi buta.

Dan di kota kecil itu, Alexa terus melangkah. Dengan luka yang mulai sembuh, dengan harapan yang lebih realistis, dan dengan kekuatan yang lahir dari pengalaman. Ia bukan gadis sempurna, tetapi ia adalah gadis yang bertahan.

Alexa, gadis lugu yang belajar menjadi kuat tanpa kehilangan jiwanya.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama