𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐝𝐢 𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐊𝐨𝐬𝐨𝐧𝐠 𝐁𝐮𝐤𝐢𝐭 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di pinggiran sebuah kota kecil yang dikelilingi hutan pinus, terdapat satu bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan. Warga menyebutnya Rumah Bukit Senja. Tidak ada yang tahu pasti siapa pemilik terakhirnya, dan tidak ada yang berani tinggal terlalu lama di sekitarnya setelah matahari terbenam. Rumah itu berdiri sendiri di atas bukit kecil, dengan jendela kayu yang sudah lapuk dan pagar besi yang berkarat.

Cerita tentang rumah itu selalu berubah-ubah. Ada yang mengatakan pernah terjadi pembunuhan di dalamnya. Ada pula yang percaya bahwa rumah itu menyimpan harta karun yang tidak pernah ditemukan. Namun satu hal yang pasti: setiap orang yang mencoba masuk sendirian pada malam hari, selalu kembali dengan cerita yang sama—suara langkah kaki di lantai atas, padahal rumah itu kosong.

Arga, seorang jurnalis muda yang haus akan cerita besar, tidak percaya pada mitos tanpa bukti. Ia menganggap semua itu hanya sugesti masyarakat. Ketika redaksinya menantang dirinya untuk membuktikan kebenaran rumah tersebut, ia langsung menerima tanpa ragu.

Malam itu, dengan hanya membawa senter, kamera, dan buku catatan, Arga berjalan menaiki bukit. Udara dingin menusuk kulitnya, sementara kabut tipis mulai turun, membuat jalan setapak terlihat seperti menghilang di antara pepohonan. Semakin dekat ia ke rumah itu, semakin sunyi suasana di sekelilingnya, seolah-olah alam pun menahan napas.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Ketika sampai di depan rumah, Arga berhenti sejenak. Pintu kayu besar itu setengah terbuka, berderit pelan tertiup angin. Ia menyalakan kameranya dan mulai merekam.

“Tidak ada apa-apa di sini,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.

Ia melangkah masuk.

Debu beterbangan ketika kakinya menyentuh lantai kayu tua. Ruangan utama tampak luas, dengan furnitur yang masih utuh namun tertutup kain putih kusam. Jam dinding berhenti di pukul 02:17. Arga mencatatnya.

Di lantai pertama, tidak ada hal aneh. Hanya kesunyian yang terlalu dalam, terlalu sempurna. Namun ketika ia menaiki tangga menuju lantai dua, suara itu mulai terdengar.

Tok… tok… tok…

Arga berhenti.

Suara itu berasal dari atas.

Ia menahan napas. “Mungkin tikus,” pikirnya.

Namun suara itu tidak seperti tikus. Ritmenya teratur. Seperti seseorang mengetuk kayu dengan jari.

Tok… tok… tok…

Dengan langkah pelan, Arga melanjutkan naik.

Semakin dekat ke lantai dua, semakin jelas suara itu. Tapi anehnya, setiap kali ia berhenti, suara itu juga berhenti. Seolah-olah apa pun yang ada di atas sana sedang memperhatikannya.

Ketika akhirnya sampai di lantai dua, suara itu menghilang.

Ruangan di lantai atas lebih gelap dari yang ia bayangkan. Senter Arga menyapu dinding, memperlihatkan deretan pintu kamar yang sebagian terbuka. Udara di sini lebih dingin, lebih lembap, dan berbau kayu tua yang membusuk.

Tiba-tiba, kamera Arga menangkap sesuatu di ujung lorong.

Siluet.

Seorang anak kecil.

Arga membeku.

“Hey?” suaranya pelan, hampir berbisik.

Siluet itu tidak bergerak.

Arga mengarahkan senter lebih jelas. Tapi ketika cahaya jatuh tepat ke arah sosok itu, tidak ada siapa-siapa.

Lorong itu kosong.

Jantung Arga mulai berdetak lebih cepat. Ia menoleh ke kamera. Rekamannya menunjukkan lorong kosong sejak awal.

“Tidak mungkin…” gumamnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangnya.

Tap… tap… tap…

Arga langsung berbalik.

Tidak ada siapa pun.

Namun suara itu sekarang berpindah ke sisi kiri.

Tap… tap… tap…

Ia kembali berputar, tapi tetap tidak ada apa-apa.

Suara itu seperti bermain dengannya, mengelilinginya tanpa wujud.

Arga mulai mundur pelan menuju tangga, namun saat ia menyorotkan senter ke bawah, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Tangga yang tadi ia lewati… sudah hilang.

Yang ada hanya dinding kayu polos.

“Ini tidak masuk akal…” katanya dengan suara gemetar.

Ia kini terkunci di lantai dua.

Suara langkah itu berhenti.

Sunyi total.

Lalu, sebuah bisikan terdengar tepat di telinganya.

“Kenapa baru datang?”

Arga langsung menoleh, tapi tetap tidak ada siapa pun.

Bisikan itu muncul lagi, kali ini dari belakangnya.

“Kami sudah menunggu lama…”

Arga jatuh terduduk, napasnya tidak teratur. Kamera jatuh dari tangannya, tetapi masih merekam.

Di layar kamera, sesuatu mulai terlihat yang tidak ia lihat langsung: banyak bayangan bergerak di lorong, perlahan mendekatinya.

Arga menutup mata sejenak, mencoba mengatur napas. Ketika ia membukanya kembali, semua berubah.

Lorong yang tadi gelap kini dipenuhi cahaya redup. Dinding-dindingnya tidak lagi tua, tetapi terlihat seperti baru. Suara tawa anak-anak terdengar dari kejauhan.

Ia berdiri perlahan.

Di salah satu pintu, tertulis nama dengan cat yang masih segar: “Arga”.

Arga terkejut. “Apa ini…?”

Pintu itu perlahan terbuka sendiri.

Di dalamnya, ia melihat sebuah ruangan kecil. Dan di dalam ruangan itu, ada seseorang yang sedang duduk menulis—wajahnya tidak terlihat jelas.

Orang itu berhenti menulis.

Lalu berkata pelan,

“Sekarang kamu mengerti, kan? Ini bukan rumah yang kosong.”

Arga mencoba mundur, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.

Suara itu melanjutkan, lebih dalam dan tenang.

“Ini tempat untuk cerita yang belum selesai. Dan kamu… adalah bagian berikutnya.”

Cahaya di sekeliling Arga mulai meredup. Suara kamera semakin melemah, hingga akhirnya hanya menyisakan noise putih.

Beberapa hari kemudian, tim redaksi menemukan kamera Arga di kaki bukit Bukit Senja. Namun Arga tidak pernah ditemukan.

Video terakhir yang terekam hanya menunjukkan satu hal:

Pintu rumah itu terbuka perlahan… dan seseorang berdiri di dalamnya, melambaikan tangan ke arah kamera.

Dan setelah itu, layar menjadi gelap.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama