𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Hujan turun tanpa henti sejak sore itu. Langit kelabu menggantung rendah, seakan menekan desa kecil di kaki bukit yang sudah lama ditinggalkan. Di ujung jalan berbatu yang licin, berdiri sebuah rumah tua—kusam, berlumut, dan nyaris runtuh. Warga sekitar menyebutnya “Rumah Pintu Terakhir.”
Tak ada yang berani mendekat sejak kejadian puluhan tahun lalu.
Namun, malam itu, Arga datang.
Ia bukan penduduk desa. Seorang penulis yang haus cerita, Arga telah mendengar berbagai kisah tentang rumah tersebut—tentang keluarga yang hilang tanpa jejak, tentang suara tangisan di malam hari, dan tentang pintu terakhir yang tak pernah boleh dibuka.
“Cerita seperti ini yang gue cari,” gumamnya sambil menatap rumah itu dari balik payung.
Ia melangkah mendekat.
Pintu depan terbuka sedikit, berderit pelan saat disentuh. Aroma lembap bercampur bau kayu lapuk langsung menyergap. Arga menyalakan senter dan masuk tanpa ragu.
Di dalam, semuanya terasa... diam.
Terlalu diam.
Debu tebal menutupi lantai, jejak kaki terakhir entah milik siapa masih samar terlihat. Dinding dipenuhi retakan panjang seperti luka lama yang tak pernah sembuh.
Arga berjalan perlahan, mencatat setiap detail dalam pikirannya. Ia melihat foto keluarga di dinding—sepasang suami istri dan seorang anak perempuan. Namun anehnya, wajah mereka tercoret, seolah sengaja dihapus dari dunia.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Menarik…” bisiknya.
Tiba-tiba—
KREK…
Suara lantai kayu berderit dari lantai atas.
Arga membeku.
Ia yakin tidak ada orang lain di sana.
Dengan napas tertahan, ia mengarahkan senter ke arah tangga. Gelap. Sunyi. Tapi ada sesuatu yang terasa… mengawasi.
Rasa takut mulai merayap, tapi rasa penasaran jauh lebih kuat.
Ia menaiki tangga.
Setiap langkah menghasilkan bunyi yang menggema di seluruh rumah. Saat sampai di atas, lorong panjang menyambutnya. Pintu-pintu berjajar di kanan dan kiri—semuanya tertutup.
Kecuali satu.
Pintu paling ujung.
Sedikit terbuka.
Seolah… menunggu.
Arga mendekat perlahan. Udara di sekitar terasa lebih dingin. Nafasnya mulai terlihat seperti uap tipis.
“Cuma sugesti…” katanya mencoba menenangkan diri.
Namun saat ia menyentuh gagang pintu—
TANGISAN.
Pelan. Serak. Seperti suara anak kecil.
Arga tersentak mundur.
Suara itu berasal dari dalam ruangan.
Tangisan itu berubah menjadi bisikan.
“…jangan buka…”
Arga terpaku.
Logikanya mengatakan untuk pergi. Tapi instingnya sebagai penulis justru mendorongnya lebih jauh.
Ia membuka pintu.
Ruangan itu kosong.
Hanya ada sebuah kursi tua di tengah, dan sebuah cermin besar di dinding. Cermin itu kusam, tapi cukup untuk memantulkan bayangan Arga.
Namun ada yang aneh.
Bayangannya… tidak bergerak.
Arga mengangkat tangannya.
Bayangannya tetap diam.
Jantungnya berdegup kencang.
Perlahan, bayangan itu tersenyum.
Senyum yang tidak pernah ia buat.
Arga mundur, panik.
“Ini… ini nggak mungkin…”
Tiba-tiba bayangan itu mengetuk kaca dari dalam.
Tok… tok… tok…
Seolah ingin keluar.
Cermin retak perlahan.
Dan dari balik retakan itu, muncul tangan hitam pucat—panjang, kurus, dan bergerak seperti hidup.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Arga berteriak dan berlari keluar ruangan.
Lorong yang tadi sepi kini terasa berubah. Pintu-pintu terbuka sendiri satu per satu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Suara langkah kaki mengejarnya.
Bukan satu.
Banyak.
Arga berlari menuruni tangga, hampir terjatuh. Nafasnya terengah, jantungnya seperti mau meledak.
Saat sampai di bawah—
Pintu depan tertutup.
Keras.
Ia mencoba membukanya, tapi tidak bergerak.
Dari belakang—
Suara bisikan.
Dekat sekali.
“…kamu sudah masuk…”
“…tidak ada jalan keluar…”
Arga menoleh perlahan.
Bayangan-bayangan hitam berdiri di ujung tangga. Wajah mereka kosong, namun mata mereka… menatap lurus ke arahnya.
Dan di antara mereka—
Seorang anak perempuan.
Wajahnya sama seperti di foto.
Namun matanya hitam pekat.
“Kenapa kamu datang…” suaranya datar.
Arga gemetar. “Aku… aku cuma ingin menulis…”
Anak itu tersenyum.
“Sekarang kamu jadi bagian cerita.”
Lampu senter Arga mati.
Gelap total.
Hanya suara langkah yang semakin dekat.
Dan satu kalimat terakhir yang ia dengar—
“Pintu terakhir… sudah tertutup.”
Keesokan harinya, hujan berhenti.
Seorang warga desa memberanikan diri mendekat, karena melihat pintu rumah terbuka.
Ia masuk.
Sunyi.
Kosong.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Di dinding ruang tamu, terdapat foto baru.
Foto seorang pria.
Memegang kamera.
Tersenyum.
Wajahnya tercoret.
Dan di bawahnya tertulis samar:
“Selamat datang di rumah.”
