Kereta Terakhir ke Stasiun Sunyi

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Angin malam berhembus dingin saat Raka berdiri di peron tua yang nyaris runtuh. Lampu-lampu redup menggantung, berkedip pelan seperti menahan napas terakhirnya. Tidak ada petugas, tidak ada penumpang lain. Hanya suara jam tua yang berdetak lambat—tik… tok… tik… tok…

Ia melihat papan nama stasiun yang berkarat.

“Stasiun Sunyi.”

Raka mengerutkan kening. Ia tidak ingat pernah melihat nama itu di peta. Padahal ia hanya berniat pulang ke kota setelah perjalanan kerja. Kereta terakhir seharusnya membawanya ke arah sebaliknya.

“Mas, ini kereta ke kota, kan?”

Ia menoleh. Seorang pria tua berdiri di ujung bangku kayu. Pakaiannya lusuh, wajahnya pucat seperti tidak pernah terkena matahari.

Pria itu tidak menjawab. Hanya menunjuk rel di depan.

Dari kejauhan, suara kereta terdengar.

GROOOONGGG…

Lampu depan muncul dari gelap, semakin terang, semakin dekat. Anehnya, tidak ada suara pengereman saat kereta berhenti. Ia meluncur perlahan, seperti melayang.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Pintunya terbuka sendiri.

Raka ragu sejenak.

Namun pikirannya berkata: ini satu-satunya jalan pulang.

Ia naik.

Begitu kakinya menapak di dalam gerbong, pintu langsung tertutup dengan keras.

BRAK!

Lampu di dalam berkedip. Kursi-kursi kosong berderet panjang. Tidak ada satu pun penumpang.

Atau… setidaknya begitu yang ia kira.

Kereta mulai berjalan.

Raka duduk di dekat jendela. Di luar hanya gelap, tidak ada lampu kota, tidak ada tanda kehidupan. Hanya bayangan pepohonan yang melintas cepat.

Beberapa menit berlalu.

Tiba-tiba—

Seorang wanita duduk di seberangnya.

Raka tersentak.

Ia yakin tadi kursi itu kosong.

Wanita itu menunduk, rambut panjang menutupi wajahnya. Pakaiannya putih kusam, seperti baju lama yang tidak pernah dicuci.

“Maaf… Anda naik dari mana?” tanya Raka pelan.

Wanita itu tidak menjawab.

Hanya mengangkat kepalanya perlahan.

Matanya hitam. Kosong. Tanpa cahaya.

Raka langsung berdiri.

“Maaf… saya pindah tempat.”

Ia berjalan ke gerbong berikutnya.

Namun saat pintu terbuka—

Gerbong itu penuh.

Bukan penuh manusia biasa.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Mereka duduk diam. Semua menunduk. Beberapa mengenakan pakaian lama, beberapa terlihat… rusak. Seperti tubuh yang tidak utuh.

Seorang pria dengan wajah setengah hancur menoleh ke arah Raka.

“Baru ya…” katanya lirih.

Raka mundur.

Pintu di belakangnya tertutup.

BRAK!

Ia terjebak di antara dua gerbong.

Panik mulai menguasai dirinya.

“Apa ini…? Ini bukan kereta biasa…”

Tiba-tiba suara pengeras terdengar.

“Perhatian… Kereta terakhir akan segera tiba di tujuan…”

Suara itu serak. Tidak manusiawi.

Lampu mulai mati satu per satu.

Gelap perlahan menelan gerbong.

Raka berlari kembali ke tempat duduk awalnya.

Namun wanita itu sudah berdiri.

Tepat di depannya.

“Tidak ada yang turun…” bisiknya.

Raka gemetar. “Apa maksudmu…?”

Wanita itu tersenyum.

Senyum yang terlalu lebar.

“Kamu sudah naik kereta yang salah.”

Kereta tiba-tiba berhenti.

Tanpa suara.

Tanpa peringatan.

Pintu terbuka perlahan.

Di luar—

Kabut tebal.

Dan sebuah stasiun.

Lebih rusak dari sebelumnya.

Papan namanya hampir jatuh.

Namun masih bisa terbaca:

“Tujuan Akhir.”

Semua penumpang berdiri bersamaan.

Gerakan mereka kaku. Tidak alami.

Satu per satu, mereka berjalan keluar.

Raka ingin tetap di dalam.

Namun sesuatu menarik kakinya.

Ia tidak bisa melawan.

Ia ikut melangkah keluar.

Begitu kakinya menyentuh peron—

Pintu kereta tertutup.

Kereta pergi.

Meninggalkan mereka.

Dalam diam.

Raka melihat sekeliling.

Tidak ada jalan keluar.

Tidak ada rel lain.

Hanya stasiun tua yang dikelilingi kegelapan tanpa ujung.

“Selamat datang…”

Suara itu terdengar lagi.

Raka menoleh.

Pria tua yang ia lihat di awal kini berdiri di depan.

Namun wajahnya—

Sudah berubah.

Matanya kosong.

Kulitnya pucat seperti mayat.

“Kamu sekarang penumpang tetap.”

Raka mundur. “Tidak… saya harus pulang… ini salah…”

Pria tua itu tertawa pelan.

“Semua yang naik kereta terakhir… selalu bilang begitu.”

Di belakang Raka, para penumpang mulai mendekat.

Perlahan.

Mengelilinginya.

Wanita berbaju putih itu berdiri paling dekat.

“Kamu akan terbiasa…” bisiknya.

Raka berteriak, mencoba lari.

Namun langkahnya terasa berat.

Seperti ditarik ke bawah.

Kabut mulai menutup pandangannya.

Satu per satu wajah mereka mendekat.

Dan sebelum semuanya gelap—

Ia mendengar satu kalimat terakhir:

“Kereta berikutnya akan datang… membawa penumpang baru.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Di dunia lain—

Seorang pria berdiri di sebuah stasiun kecil.

Melihat papan jadwal.

Aneh.

Ada satu kereta yang tidak tercatat di sistem.

Kereta terakhir.

Ia ragu.

Namun tetap menunggu.

Karena tidak ada pilihan lain.

Dari kejauhan—

Suara kereta mulai terdengar.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama