LAMPU4D - Naura jatuh sakit keesokan harinya. Demam tinggi membuat tubuhnya lemah. Dokter datang silih berganti. Arlan tidak pergi ke mana-mana. Ia duduk di sisi ranjang, memperhatikan napas Naura naik turun.
Untuk pertama kalinya, Arlan takut kehilangan.
Ia memegangi tangan Naura sepanjang malam.
Naura beberapa kali mengigau memanggil nama Tio.
Arlan memastikan Tio aman di rumah pengawalan.
Beberapa hari kemudian, Naura sadar sepenuhnya.
Ia menatap langit-langit kamar mansion dengan bingung. Ingatannya datang perlahan.
Arlan duduk di kursi dekat jendela.
Naura menoleh.
“Arlan…”
Arlan berdiri, mendekat.
“Kamu aman.”
Naura menangis lagi.
Bukan karena trauma.
Karena lega.
Hari-hari setelah itu terasa berbeda.
Naura tinggal di mansion. Arlan tidak memaksanya, tapi Naura tidak ingin pulang ke kontrakan kecil itu. Ia takut. Dan Arlan tahu.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Naura mulai melihat sisi lain hidup Arlan.
Penjaga di setiap sudut.
Ruang kerja dengan layar penuh peta kota.
Telepon yang tidak pernah berhenti.
Kadang suara tembakan dari latihan di halaman belakang.
Naura tidak bertanya.
Ia hanya belajar diam.
Namun perlahan, Naura juga melihat sisi Arlan yang lain.
Arlan yang menyiapkan sup sendiri saat Naura sulit makan.
Arlan yang memastikan Naura minum obat.
Arlan yang duduk di lantai saat Naura mimpi buruk.
Tidak ada kata cinta.
Tapi ada kehadiran.
Hari demi hari, Naura mulai memahami bahwa Arlan adalah pria yang hidup di dunia keras, tapi memilih lembut padanya.
Dan Arlan mulai sadar bahwa Naura bukan sekadar gadis polos.
Naura adalah rumah.
Suatu sore, mereka duduk di taman belakang.
Naura menatap langit jingga.
“Arlan… hidup kamu selalu begini?”
Arlan tidak langsung menjawab.
“Begini bagaimana.”
“Penuh bahaya.”
Arlan menghela napas.
“Iya.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Naura terdiam.
Lalu berkata pelan, “Aku takut… tapi aku nggak mau ninggalin kamu.”
Arlan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Di mata Naura tidak ada kepura-puraan.
Hanya ketulusan.
Dan itu menghantam Arlan lebih keras daripada peluru mana pun.
Beberapa minggu kemudian, Arlan melamar Naura.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada cincin mahal.
Hanya Arlan, Naura, dan satu kalimat sederhana.
“Aku nggak bisa janji hidupmu tenang,” kata Arlan. “Tapi aku janji kamu nggak akan sendirian.”
Naura mengangguk sambil menangis.
“Aku mau.”
Pernikahan mereka dijaga ketat.
Dunia gelap mengetahui bahwa Arlan kini punya kelemahan.
Namun Arlan tidak peduli.
Karena sekarang, ia punya alasan untuk hidup.
Naura belajar menjadi istri mafia.
Ia tetap polos.
Tetap lembut.
Tetap sederhana.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Namun kini berdiri di samping pria paling ditakuti di kota.
Dan Arlan…
tetap kejam pada musuh-musuhnya.
Tapi pulang dengan pelukan.
Karena cinta tidak selalu lahir dari dunia yang baik.
Kadang cinta tumbuh di antara darah dan air mata.
Dan Arlan menemukan cahaya itu…
dalam diri seorang gadis polos bernama Naura.
