𝐀𝐑𝐋𝐀𝐍 - 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟑

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D   - Malam itu kota terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu-lampu jalan berdiri seperti saksi bisu, sementara hujan kembali turun tipis, membasahi aspal yang dingin. Di dalam mobil, Arlan duduk diam dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram ponsel, matanya menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun.

Naluri lamanya bangkit.

Naluri seorang penguasa.

Sejak Naura menghilang, dunia Arlan berubah menjadi medan perang.

Ia mengerahkan semua jaringan yang ia miliki. Kamera-kamera jalanan diputar ulang. Informan di gang-gang sempit dihubungi. Pelabuhan, terminal, rumah kosong, hingga gudang lama mulai disisir.

Nama Naura bergaung di setiap perintahnya.

Bagi orang-orang Arlan, ini bukan pencarian biasa.

Ini perburuan.

Di sebuah gudang tua di pinggir kota, Arlan berdiri di depan seorang pria yang berlutut dengan wajah lebam. Darah menetes di lantai semen. Bau besi dan keringat bercampur menjadi satu.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Pria itu hanyalah anak buah kecil dari kelompok rival.

Ia gemetar.

Arlan tidak berteriak. Tidak memaki. Ia hanya menatap.

Tatapan itu lebih menakutkan daripada ancaman.

“Aku tanya sekali lagi,” suara Arlan datar. “Di mana gadis itu.”

Pria itu menangis, tubuhnya bergetar.

“Gudang Dermaga Selatan… bos… sumpah… aku cuma disuruh jaga…”

Arlan berbalik tanpa berkata apa pun.

Di dalam hatinya, amarahnya sudah berubah menjadi dingin yang mematikan.

Mobil-mobil hitam melaju dalam konvoi sunyi.

Dermaga Selatan terlihat seperti kota mati. Peti-peti kontainer berdiri seperti bangunan kuburan. Angin laut membawa aroma asin yang menusuk hidung.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Arlan turun lebih dulu.

Langkahnya mantap.

Di dalam gudang, Naura duduk terikat di kursi kayu. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Matanya merah karena menangis terlalu lama.

Tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin.

Ia takut.

Ia mencoba tetap tenang, memikirkan Tio. Ia terus mengulang dalam hatinya bahwa Arlan akan datang. Ia tidak tahu kenapa begitu yakin. Tapi nama Arlan adalah satu-satunya hal yang membuatnya bertahan.

Pintu gudang terbuka dengan suara berat.

Beberapa pria masuk, disusul Arlan.

Tatapan mereka bertemu.

Naura terisak.

Arlan berhenti melangkah.

Untuk sesaat, dunia terasa membeku.

Naura tidak bisa menahan air matanya. Ia tidak berteriak. Tidak memanggil. Hanya menatap Arlan seperti anak kecil yang akhirnya menemukan orang dewasa yang ia percaya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Arlan maju perlahan.

Satu pria mencoba menghalangi.

Suara tembakan memecah udara.

Tubuh itu jatuh sebelum sempat bicara.

Arlan tidak melihat ke arah korban.

Ia langsung menuju Naura.

Tangannya melepas tali dengan gerakan cepat, lalu mengangkat tubuh Naura yang hampir ambruk.

Naura menangis di dadanya.

“Aku takut…” bisiknya.

Arlan memeluknya erat.

“Aku di sini.”

Itu saja yang ia katakan.

Sisanya diurus oleh orang-orangnya.

Malam itu menjadi pembantaian sunyi.

Arlan membawa Naura pulang.

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama