𝐀𝐑𝐋𝐀𝐍 - 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟐

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D   -  “Cukup Arlan.”

Naura mengangguk, lalu seperti merasa perlu menjelaskan sesuatu. “Aku kerja di toko buku. Pulang lembur karena bosku minta beresin stok.”

Arlan menatap jalan. “Kamu tinggal sendiri?”

Naura menggeleng. “Aku sama adik kecilku. Namanya Tio. Umurnya sembilan.”

“Orang tua?”

Naura diam lebih lama dari sebelumnya. “Udah nggak ada,” jawabnya akhirnya, pelan dan datar, seperti kalimat yang sudah terlalu sering diucapkan sampai rasanya habis.

Arlan tidak bertanya lagi.

Mobil melaju di tengah hujan, membelah kota. Naura kadang menatap kaca, melihat lampu-lampu berlarian. Kadang menunduk, seperti takut terlihat terlalu banyak bertanya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Arlan memperhatikan satu hal: Naura bukan gadis yang sok kuat. Ia memang kuat, tapi dalam cara yang diam. Cara orang yang terbiasa menahan.

Saat mobil berhenti di mulut gang kecil, Naura menoleh dengan mata kaget.

“Udah nyampe,” kata Arlan.

Naura tersenyum kecil. “Terima kasih banget, Arlan. Aku… aku nggak punya apa-apa buat balas.”

Arlan menatapnya, lalu menggeleng tipis. “Nggak perlu balas.”

Naura turun dan menutup pintu pelan-pelan, seperti takut mengganggu. Lalu ia melangkah masuk gang, berlari kecil ketika hujan kembali turun lebih deras.

Arlan tidak langsung pergi.

Ia menatap gang itu lama.

Perasaan yang muncul di dadanya bukan perasaan biasa. Bukan keinginan singkat. Bukan godaan. Ada sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih berbahaya—karena Arlan tidak tahu cara menghadapinya.

Keinginan untuk melindungi.

Dan Arlan tahu, di dunianya, melindungi seseorang berarti mengundang badai.

Dua hari setelahnya, Arlan kembali melihat Naura—bukan kebetulan.

Ia berdiri di luar toko buku kecil itu, menyamar sebagai pelanggan biasa. Tidak ada jas mahal. Tidak ada rombongan. Hanya kemeja gelap dan jam tangan yang tetap tak pernah ia lepaskan.

Toko itu sederhana. Rak-rak kayu penuh buku bekas. Aroma kertas tua dan kopi murah memenuhi udara.

Naura berdiri di balik meja kasir, menyusun buku sambil bersenandung pelan. Tangannya bergerak hati-hati, seolah setiap buku punya perasaan.

Arlan masuk tanpa suara. Naura tidak langsung sadar. Ia baru menoleh saat Arlan berdiri di depan meja.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Mata Naura membesar. “Arlan?”

Arlan mengangguk. “Kamu kerja di sini.”

Naura tersenyum canggung. “Iya… kok kamu ke sini?”

Arlan mengangkat satu buku dari meja. “Aku cari sesuatu buat dibaca.”

Naura terlihat lega, seperti baru sadar bahwa Arlan tidak datang membawa masalah.

“Genre apa?” tanyanya.

Arlan menatap rak-rak. “Apa saja. Yang bagus.”

Naura tertawa kecil, pelan. “Kalau ‘yang bagus’ itu luas banget. Tapi… aku bisa rekomendasiin.”

Ia berjalan ke rak sudut dan mengambil novel tipis. “Ini tentang orang yang kelihatan dingin, tapi sebenernya capek sendiri.”

Naura menyerahkan buku itu. Arlan menerimanya tanpa komentar.

Buku itu terasa ringan di tangan, tapi kalimat Naura terasa berat di kepala.

Arlan membayar. Naura memberi kembalian dengan sopan. Semua terlihat normal, tapi bagi Arlan, itu seperti memasuki ruangan yang tidak pernah ia kenal: ruangan bernama “kehidupan sederhana.”

Sebelum Arlan pergi, Naura berkata pelan, “Makasih ya… waktu itu.”

Arlan menatapnya. “Kamu selalu pulang malam?”

Naura menggeleng. “Nggak selalu. Kadang-kadang.”

Arlan menahan napas, lalu berkata, “Kalau pulang malam, kabari.”

Naura kaget. “Kabari?”

Arlan mengangguk. “Aku bisa antar.”

Naura tampak bingung, tapi tidak menolak langsung. Mungkin karena Arlan tidak terdengar seperti pria yang minta balasan. Ia terdengar… sungguh-sungguh.

“O-oke,” jawab Naura akhirnya.

Arlan keluar dari toko itu dengan buku di tangan, tapi pikirannya bukan pada halaman-halaman. Pikirannya pada cara Naura tertawa kecil. Pada caranya menatap orang tanpa curiga. Pada caranya hidup—seolah dunia tidak kejam.

Padahal Arlan tahu dunia sangat kejam.

Malam-malam berikutnya, Arlan mulai muncul di pinggir hidup Naura seperti bayangan yang tidak menakutkan.

Kadang ia mengantar Naura pulang ketika Naura lembur. Kadang ia hanya mengirim pesan singkat—“Udah pulang?”—yang membuat Naura awalnya kikuk, lalu perlahan terbiasa.

Naura mulai bercerita sedikit demi sedikit.

Tentang adiknya yang suka menggambar robot.

Tentang uang sewa yang naik.

Tentang bos toko yang kadang memotong gaji kalau telat.

Dan Arlan mendengarkan.

Bagi Arlan, mendengarkan adalah hal yang lebih sulit daripada memerintah. Tapi setiap kali Naura bicara, Arlan merasa ada sesuatu yang menenangkan di dalam dirinya. Seperti suara hujan yang turun di atas atap, menutup kebisingan dunia.

Suatu malam, saat Arlan mengantar Naura pulang, mereka melihat dua pria di ujung gang. Berdiri terlalu dekat, menatap terlalu lama. Naura tidak sadar, tapi Arlan sadar.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Arlan menurunkan kaca sedikit, menatap tajam.

Dua pria itu langsung menoleh pergi.

Naura tetap tersenyum kecil, tidak tahu apa pun. “Makasih ya, Arlan. Kamu baik banget.”

Arlan menatap jalan. “Aku nggak baik.”

Naura terdiam, lalu menoleh. “Tapi kamu nggak jahat juga.”

Arlan tidak menjawab.

Karena Arlan tahu, ia bukan “nggak jahat.” Ia jahat—kalau harus. Dunia Arlan menuntut itu. Dan Naura tidak tahu bahwa pria yang ia anggap penolong ini, adalah pria yang namanya bisa membuat orang gemetar.

Namun justru di situlah masalahnya.

Arlan tidak ingin Naura tahu.

Arlan ingin Naura tetap polos.

Karena jika Naura tahu, Naura akan takut.

Dan Arlan… tidak sanggup melihat mata polos itu berubah jadi ketakutan.

Suatu pagi, Naura tidak datang bekerja.

Bos toko buku mengomel, telepon Naura tidak aktif. Arlan baru tahu kabar itu dari salah satu orangnya yang kebetulan lewat toko tersebut.

Arlan berdiri di depan toko buku sore itu, napasnya berat. Ada hal yang mengganggu nalurinya, seperti peringatan.

Ia menuju gang rumah Naura.

Pintu kontrakan Naura terbuka setengah. Lampu tidak menyala. Arlan mengetuk sekali, tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras.

Tidak ada.

Arlan mendorong pintu perlahan.

Di dalam, suasana berantakan. Kursi jatuh. Tas Naura terbuka, isinya tumpah. Dan yang paling membuat dada Arlan seperti diremas—

Gambar robot milik Tio sobek di lantai.

Arlan menatap sekeliling. Matanya dingin, tapi di balik itu ada sesuatu yang lebih gelap: kemarahan yang sangat terkontrol.

Ia mendengar suara kecil dari kamar.

“Tio?” panggil Arlan pelan.

Anak kecil itu keluar perlahan, wajahnya pucat. Matanya bengkak karena menangis.

“Kak…” suara Tio gemetar. “Kak Naura dibawa orang…”

Arlan jongkok di depan Tio. “Siapa yang bawa?”

Tio menggeleng cepat, menangis. “Aku nggak tahu… mereka pake jaket hitam… Kak Naura bilang suruh aku lari ke kamar, kunci pintu…”

Arlan menutup mata sebentar, menahan amarah yang hampir meledak.

“Dia bilang apa sebelum dibawa?” tanya Arlan.

Tio mengusap air mata. “Dia bilang… ‘Tio jangan keluar, ya. Apa pun yang terjadi, jangan keluar.’ Terus dia teriak… dia… dia bilang nama Kak Arlan…”

Dada Arlan seketika dingin.

Naura memanggil namanya.

Artinya Naura percaya padanya untuk menyelamatkan.

Arlan berdiri perlahan. Tangannya mengepal.

“Dima,” Arlan menelpon, suaranya datar namun tajam. “Kerahkan semua orang. Cari Naura. Sekarang.”

“Bos, siapa yang berani—”

“Aku nggak peduli siapa,” potong Arlan. “Bawa dia pulang.”

Telepon ditutup.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Arlan menatap Tio yang masih menangis. Ia berjongkok lagi, lebih pelan.

“Aku janji,” kata Arlan, suaranya rendah, “aku akan balikin kakakmu.”

Tio menatap Arlan dengan mata penuh harap.

Arlan tidak terbiasa membuat janji. Tapi untuk Naura, ia membuatnya tanpa ragu.

Karena sejak pertama kali melihat Naura di halte itu, Arlan sudah tahu satu hal.

Gadis polos itu… bukan sekadar kebetulan.

Dia adalah kelemahan Arlan.

Dan siapa pun yang menyentuh kelemahannya, akan melihat sisi Arlan yang paling kejam.

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama