𝐀𝐑𝐋𝐀𝐍 - 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟏

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D Hujan turun pelan seperti suara yang sengaja ditahan. Jalanan kota memantulkan lampu-lampu mobil dengan warna kekuningan, membuat semuanya tampak seperti lukisan yang basah dan dingin. Di balik kaca mobil hitam yang nyaris tak tembus pandang, Arlan hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya tak menunjukkan apa pun, tapi pikirannya seperti ruangan yang lampunya tak pernah padam.

Arlan bukan tipe pria yang mudah tertarik pada siapa pun. Hidupnya terlalu keras untuk hal-hal lembut. Ia dibesarkan oleh aturan dan ketakutan, oleh perintah-perintah yang tak boleh dibantah, oleh dunia yang mengenal cinta sebagai kelemahan.

Ia terbiasa melihat orang datang dan pergi tanpa pamit. Terbiasa melihat kebahagiaan hanya sebagai jeda sebelum masalah berikutnya.

Maka ketika ia melihat gadis itu berdiri di bawah atap halte yang bocor, memeluk tas kain lusuhnya, Arlan seharusnya tetap diam—seperti biasanya.

Namun malam itu, sesuatu di dadanya bergerak, seperti pintu yang lama terkunci tiba-tiba terbuka sedikit.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Gadis itu basah. Rambutnya menempel di pipi, ujung-ujungnya menggumpal karena hujan. Ia menggigil, tapi masih berusaha tersenyum kepada seorang ibu tua yang baru saja membantunya menutup payung yang patah. Senyum yang tidak dibuat-buat. Senyum yang tidak memikirkan untung rugi. Senyum yang mengingatkan Arlan pada sesuatu yang tidak pernah ia miliki.

Polos.

Dan anehnya… itu membuat Arlan ingin tahu lebih jauh.

Mobil berhenti. Salah satu anak buahnya, Dima, menoleh dengan mata bertanya.

“Bos?”

Arlan tidak menjawab cepat. Ia menatap gadis itu sekali lagi, lalu turun dari mobil seperti keputusan itu bukan keputusan besar. Padahal, bagi Arlan, turun dari mobil untuk sesuatu yang bukan urusan bisnis adalah hal yang hampir tak pernah terjadi.

Langkahnya mantap. Sepatunya menyentuh genangan air tanpa ragu. Ketika ia mendekat, gadis itu mengangkat kepala dan mematung. Tatapannya seperti rusa yang kaget melihat lampu.

“Apa kamu sendirian?” tanya Arlan pelan.

Gadis itu menelan ludah. “Iya… aku cuma nunggu angkot.”

Arlan melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Hampir tengah malam. Halte itu sepi. Jalanan bukan tempat yang ramah untuk gadis sendirian, apalagi dengan wajah semurni itu. Arlan tak perlu menjadi orang baik untuk tahu ada bahaya yang mengintai.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

“Kamu tinggal di mana?”

Gadis itu ragu sejenak. “Di arah Pasar Lama… gang kecil, dekat kios roti.”

Arlan mengangguk. Ia tidak tersenyum, tapi suaranya tidak kasar. “Masuk mobil. Aku antar.”

Gadis itu spontan mundur selangkah. “Nggak usah, Kak. Aku bisa—”

Arlan memotong dengan tenang. “Hujannya deras. Jam segini bukan waktu aman.”

Gadis itu menatap Arlan, lalu ke mobil hitam besar di belakangnya, lalu kembali ke Arlan dengan wajah bingung. Ia jelas bukan gadis yang biasa berhadapan dengan pria sekelas Arlan. Ada aura tertentu pada Arlan—bukan sekadar tampan atau rapi, melainkan sesuatu yang membuat orang otomatis berhati-hati.

Gadis itu menghela napas kecil, seperti sedang memilih antara rasa takut dan kebutuhan pulang. Akhirnya ia mengangguk.

“Terima kasih,” katanya lirih.

Di dalam mobil, kehangatan membuat pipinya memerah. Gadis itu duduk kaku, dua tangannya memeluk tas. Ia menoleh sedikit, memastikan jarak aman antara mereka. Arlan membiarkannya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Ia menatap gadis itu tanpa membuatnya merasa ditatap. Ia hanya ingin memahami. Bagaimana bisa seseorang terlihat sebersih itu di kota yang begitu kotor?

“Namamu?” Arlan bertanya.

“Naura,” jawabnya. “Naura Aksari.”

Nama itu terdengar seperti hujan yang jatuh pelan. Tidak keras. Tidak mengancam. Hanya… ada.

Arlan mengangguk. “Aku Arlan.”

Naura memandangnya cepat, lalu menunduk lagi. “Arlan… Kak Arlan?”

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama