𝐏𝐄𝐑𝐌𝐀𝐈𝐍𝐀𝐍 𝐓𝐄𝐑𝐀𝐊𝐇𝐈𝐑

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah kota yang selalu terjaga oleh cahaya lampu dan bisikan rahasia, nama Damar Alviero beredar seperti bayangan yang sulit ditangkap. Ia bukan hanya seorang pria dengan kekuasaan, tetapi juga simbol ketenangan yang berbahaya.

Orang-orang tidak mengenalnya karena wajahnya, melainkan karena keputusan-keputusannya yang selalu tepat, dingin, dan tanpa ragu. Di dunia yang dipenuhi oleh pengkhianatan, Damar adalah satu-satunya yang tidak pernah terlihat goyah.

Malam itu, hujan turun perlahan, membasahi aspal jalanan yang memantulkan cahaya kota seperti cermin retak. Dari lantai atas sebuah gedung tua yang telah diubah menjadi markasnya, Damar berdiri di dekat jendela besar. Ia tidak sedang menikmati pemandangan, melainkan menghitung. 

Setiap cahaya yang menyala, setiap kendaraan yang bergerak, setiap kemungkinan yang bisa berubah menjadi ancaman. Baginya, kota ini bukan tempat tinggal. Kota ini adalah papan permainan.

Di belakangnya, suara langkah kaki terdengar pelan. Reno, orang kepercayaannya sejak lama, berdiri dengan sikap tegap. Wajahnya serius, namun ada sedikit kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Mereka mulai bergerak,” katanya singkat.

Damar tidak langsung menoleh. Ia membiarkan kata-kata itu menggantung beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Di mana?”

“Distrik barat. Wilayah kita.”

Damar mengangguk pelan. Tidak ada ekspresi marah, tidak ada tanda terkejut. Seolah-olah ia sudah menunggu ini terjadi.

“Siapa?”

Reno menarik napas sejenak sebelum menjawab, “Kelompok Ravel.”

Nama itu cukup untuk membuat suasana berubah. Ravel bukan kelompok baru, tapi selama ini mereka selalu bergerak di bawah, menghindari perhatian. Jika sekarang mereka berani masuk ke wilayah Damar, berarti ada sesuatu yang berubah.

Damar akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, namun tetap tenang.

“Siapkan mobil,” katanya.

Distrik barat malam itu terlihat seperti biasa. Lampu-lampu toko masih menyala, beberapa orang berlalu-lalang tanpa menyadari bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di balik bayangan. 

Di sebuah gudang tua yang hampir tak terpakai, transaksi sedang berlangsung. Uang dan barang berpindah tangan dengan cepat, seperti ritual yang sudah terlalu sering dilakukan.

Damar tiba tanpa suara. Mobil hitamnya berhenti beberapa meter dari gudang, dan ia keluar dengan langkah tenang. Reno mengikuti di belakangnya, matanya terus mengawasi sekitar.

Begitu pintu gudang dibuka, suasana langsung berubah. Semua orang berhenti. Beberapa menatap dengan cemas, yang lain langsung mundur sedikit. Kehadiran Damar tidak pernah dianggap biasa.

Di tengah ruangan, seorang pria berdiri dengan sikap santai. Rambutnya disisir rapi ke belakang, jasnya mahal, dan senyumnya terlalu percaya diri.

Namanya Leon Ravel.

“Akhirnya kita bertemu,” katanya sambil membuka kedua tangannya seolah menyambut tamu lama.

Damar berjalan mendekat tanpa tergesa. “Kamu masuk tanpa izin.”

Leon tersenyum. “Kota ini milik semua orang, bukan?”

Damar berhenti beberapa langkah darinya. “Tidak.”

Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat beberapa orang di ruangan itu menahan napas.

Leon tertawa kecil. “Aku suka cara kamu bicara. Singkat, jelas, dan sedikit mengancam.”

Damar tidak membalas. Ia hanya menatap, seolah mencoba membaca setiap lapisan dari pria di depannya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Kamu tahu kenapa aku di sini?” tanya Leon.

“Karena kamu ingin mati cepat,” jawab Damar datar.

Beberapa orang langsung menegang. Reno bahkan sedikit maju, bersiap jika situasi berubah.

Namun Leon tetap tersenyum. “Atau mungkin karena aku ingin bekerja sama.”

Kata-kata itu membuat suasana berubah. Bukan karena terdengar menarik, tapi karena terlalu berani.

Damar memiringkan kepalanya sedikit. “Kerja sama?”

Leon mengangguk. “Kamu punya kekuasaan. Aku punya jaringan. Kita gabungkan, dan kota ini jadi milik kita sepenuhnya.”

Damar diam. Ia tidak langsung menolak, tapi juga tidak terlihat tertarik.

“Dan sebagai gantinya?” tanyanya.

“Aku ingin setengah,” jawab Leon tanpa ragu.

Reno langsung menggeleng pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi Damar tetap tenang.

“Setengah?” ulangnya.

Leon mengangguk lagi. “Itu harga yang adil.”

Damar menatapnya beberapa detik. Lalu, perlahan, ia tersenyum tipis.

“Tidak.”

Satu kata itu cukup untuk mengubah semuanya.

Leon masih tersenyum, tapi matanya sedikit berubah. “Kamu bahkan tidak mau mempertimbangkannya?”

“Aku sudah mempertimbangkannya,” jawab Damar. “Dan jawabannya tetap tidak.”

Hening sejenak. Hujan di luar terdengar lebih jelas, seolah ikut menekan suasana di dalam gudang.

“Kalau begitu,” kata Leon pelan, “kita punya masalah.”

Damar melangkah satu langkah lebih dekat. “Kamu yang punya masalah.”

Tiba-tiba, suara langkah terdengar dari luar. Beberapa orang Leon mulai bergerak, bersiap. Reno langsung memberi isyarat kepada orang-orang mereka yang sudah tersebar di sekitar.

Situasi berubah dalam hitungan detik.

Namun Damar tetap tenang. Ia menatap Leon tanpa berkedip.

“Kamu datang ke wilayahku,” katanya pelan, “dengan harapan bisa mengambil sesuatu.”

Leon tidak menjawab.

“Sekarang kamu punya dua pilihan,” lanjut Damar. “Pergi sekarang dan lupakan semuanya… atau tetap di sini dan lihat apa yang terjadi.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Leon menarik napas dalam. Ia tahu, ini bukan ancaman kosong.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Akhirnya, ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih tipis. “Kamu benar-benar tidak berubah.”

Damar tidak menjawab.

Leon mundur satu langkah. “Baik. Kita lihat saja nanti.”

Ia memberi isyarat kepada orang-orangnya. Satu per satu mereka mundur, meninggalkan gudang tanpa suara.

Saat pintu tertutup, suasana langsung terasa lebih ringan. Tapi Reno tahu, ini bukan akhir.

“Dia tidak akan berhenti,” katanya.

Damar mengangguk pelan. “Aku tahu.”

“Lalu?”

Damar menatap keluar, ke arah hujan yang masih turun tanpa henti.

“Biarkan dia berpikir dia punya waktu,” katanya.

Reno mengernyit. “Maksudmu?”

Damar tersenyum tipis.

“Semakin lama dia bergerak, semakin jelas langkahnya.”

Ia berbalik dan berjalan keluar dari gudang. Langkahnya tetap tenang, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Terkadang,” lanjutnya, “cara terbaik untuk menang bukan dengan menyerang lebih dulu.”

Reno mengikuti di belakang, masih mencoba memahami.

“Lalu bagaimana?”

Damar berhenti sejenak di dekat mobilnya.

“Dengan membuat lawanmu yakin bahwa dia sedang menang,” jawabnya.

Hujan masih turun. Kota masih hidup seperti biasa. Tapi di balik semua itu, sesuatu telah dimulai.

Dan seperti biasa, hanya satu yang pasti—

Dalam permainan ini, tidak semua orang akan bertahan sampai akhir.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama