𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Hujan turun tanpa henti di kota Argenza, menutupi jalanan dengan genangan yang memantulkan lampu-lampu neon. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur, hanya berganti wajah. Siang hari dipenuhi bisnis legal dan senyum palsu, sementara malam hari dikuasai oleh bayangan dan kesepakatan yang tak pernah tercatat.
Di sebuah gedung tua di pusat kota, seorang pria berdiri di depan jendela besar, memandangi jalanan yang basah. Namanya Arkan Virelli. Di dunia luar, ia dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang logistik. Namun bagi mereka yang tahu, Arkan adalah penguasa jaringan bawah tanah terbesar di Argenza.
Ia tidak pernah berteriak, tidak pernah menunjukkan emosi berlebihan. Justru ketenangannya yang membuat orang-orang takut.
Pintu di belakangnya terbuka pelan. Seorang pria muda masuk dengan langkah hati-hati.
“Bos, kiriman dari pelabuhan sudah aman,” katanya.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap keluar, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat.
“Ada yang mengikuti?” tanyanya akhirnya.
“Tidak ada tanda-tanda mencurigakan.”
Arkan tersenyum tipis. “Kalau begitu, berarti mereka semakin pintar.”
Pria muda itu menelan ludah. Ia tahu maksud Arkan. Di dunia ini, tidak adanya ancaman seringkali justru pertanda bahaya yang lebih besar.
Beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang tidak beres. Jalur distribusi mereka terganggu, beberapa orang kepercayaan menghilang tanpa jejak, dan yang paling mencurigakan, salah satu gudang mereka ditemukan kosong—tanpa tanda pembobolan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Seseorang sedang bermain di belakang layar.
Malam itu, Arkan memutuskan turun langsung. Ia mengenakan jas hitam sederhana dan berjalan keluar gedung tanpa pengawalan mencolok. Hanya satu mobil hitam yang menunggunya di depan.
Perjalanan mereka berakhir di sebuah klub malam bernama Vantros. Tempat itu dikenal sebagai titik pertemuan berbagai pihak, dari pengusaha hingga penjahat kelas atas.
Musik berdentum keras saat Arkan masuk. Semua mata tertuju padanya sejenak, lalu kembali ke aktivitas masing-masing. Di dunia ini, mengenali seseorang seperti Arkan adalah hal yang tidak pernah diucapkan.
Ia menuju ruang VIP di lantai atas. Di sana, seorang wanita sudah menunggu.
Namanya Selene.
Selene adalah broker informasi. Tidak ada yang tahu asal-usulnya, tapi semua tahu satu hal—informasi darinya selalu akurat.
“Kau terlambat,” katanya tanpa melihat Arkan.
“Informasi bagus selalu layak ditunggu,” jawab Arkan santai.
Selene tersenyum tipis. “Seseorang mencoba mengambil alih jaringanmu.”
“Siapa?”
“Bukan dari dalam kota. Ini pemain baru. Mereka bergerak cepat, bersih, dan… berani.”
Arkan duduk di kursi seberangnya. “Tidak ada yang berani tanpa alasan.”
Selene akhirnya menatapnya. “Nama mereka dikenal sebagai Black Vortex.”
Ruangan seketika terasa lebih dingin.
Arkan belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dan itu berarti satu hal—mereka sengaja menyembunyikan diri.
“Apa yang mereka inginkan?” tanya Arkan.
“Bukan sekadar uang. Mereka ingin kontrol penuh.”
Arkan tersenyum, tapi kali ini ada sedikit ketajaman di matanya. “Berarti mereka salah memilih kota.”
Beberapa hari berikutnya berubah menjadi perang diam. Tidak ada baku tembak di jalanan, tidak ada ledakan besar. Yang ada hanya pergerakan halus—orang-orang yang hilang, transaksi yang dibajak, dan informasi yang bocor.
Arkan mulai menyusun strategi. Ia tidak menyerang secara langsung. Ia memancing.
Sebuah pengiriman besar diumumkan secara sengaja, seolah-olah itu adalah jalur terpenting mereka. Informasi itu disebar melalui jalur yang sudah ia tandai.
Dan seperti yang ia duga, umpan itu diambil.
Malam penyerangan tiba.
Gudang tua di pinggiran kota menjadi titik pertemuan. Namun saat tim Black Vortex masuk, mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka duga.
Kosong.
Lampu tiba-tiba menyala terang.
Arkan berdiri di tengah ruangan, ditemani beberapa orang kepercayaannya.
“Selamat datang,” katanya tenang.
Dari bayangan, beberapa sosok muncul. Mereka berpakaian serba hitam, wajah tertutup.
Pemimpin mereka melangkah maju.
“Arkan Virelli,” katanya. “Akhirnya kita bertemu.”
“Seharusnya kau tetap di bayangan,” jawab Arkan.
“Dan melewatkan kesempatan ini? Tidak.”
Pertarungan tak terhindarkan.
Namun ini bukan sekadar perkelahian. Ini adalah benturan dua cara berpikir.
Black Vortex bergerak cepat, terlatih, dan terkoordinasi. Tapi Arkan sudah memperhitungkan segalanya. Setiap pintu keluar dijaga, setiap sudut sudah dipetakan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Dalam waktu singkat, situasi berbalik.
Pemimpin Black Vortex terdesak.
“Ini belum berakhir,” katanya dengan napas berat.
Arkan mendekat perlahan. “Tidak. Ini baru awal.”
Ia memberi isyarat, dan anak buahnya menahan pria itu.
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun, suara tembakan terdengar dari luar. Kaca jendela pecah. Kekacauan terjadi.
Sniper.
Seseorang dari luar menyerang.
Arkan langsung bergerak, berlindung sambil menarik pemimpin itu ke bawah.
Dalam kekacauan itu, beberapa anggota Black Vortex berhasil melarikan diri. Termasuk pemimpinnya.
Ketika semuanya mereda, gudang itu dipenuhi keheningan yang berat.
Arkan berdiri, melihat ke arah jendela yang hancur.
“Mereka tidak datang hanya untuk menyerang,” katanya pelan. “Mereka ingin menguji.”
Kael, tangan kanannya, mendekat. “Apa langkah kita selanjutnya?”
Arkan menatap kota di kejauhan.
“Kita tidak menunggu lagi,” jawabnya. “Kita yang berburu.”
Malam itu, Argenza berubah.
Bukan lagi tentang siapa yang bertahan, tapi siapa yang menguasai.
Dan di balik semua itu, perang sebenarnya baru saja dimulai.
Karena di dunia Arkan, tidak ada yang benar-benar kalah.
Hanya ada yang belum selesai.
𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
x
