𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Langit kota malam itu tampak tenang, seolah tidak ada yang salah. Lampu-lampu gedung menjulang tinggi, memantulkan kemewahan yang memikat mata siapa saja. Namun di balik semua itu, tersembunyi dunia yang penuh intrik, pengkhianatan, dan darah yang tak pernah benar-benar kering.
Raka berdiri di balkon apartemennya, memandang jalanan di bawah yang ramai. Sejak kejadian di gudang beberapa waktu lalu, semuanya berubah. Wilayah utara memang sudah dikuasai, tapi ancaman belum hilang. Damar masih hidup, dan itu berarti bahaya masih mengintai.
Ponsel di tangannya bergetar. Sebuah pesan masuk tanpa nama. “Jam 10. Datang sendiri. Kita harus bicara.” Raka tidak perlu berpikir lama untuk tahu siapa pengirimnya. Damar. Ia menarik napas panjang. Ia tahu ini jebakan, tapi di dunia seperti ini, jebakan sering kali menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah.
Tempat pertemuan itu berada di sebuah klub malam tua di pinggir kota. Musik berdentum keras, lampu warna-warni berkedip, dan orang-orang larut dalam dunia mereka sendiri. Raka melangkah masuk dengan tenang, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Instingnya bekerja, membaca bahaya dari setiap gerakan kecil.
Di sudut ruangan VIP, Damar duduk santai dengan segelas minuman di tangannya. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Tidak berubah,” katanya saat Raka mendekat. “Selalu datang meski tahu ini bisa jadi akhir.”
Raka duduk tanpa diundang. “Langsung saja. Apa maumu?”
Damar tertawa kecil. “Aku suka caramu. Tidak suka basa-basi.” Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Aku ingin kerja sama.”
Raka mengernyit. “Kerja sama?”
“Arman akan menjatuhkanmu,” lanjut Damar dengan tenang. “Cepat atau lambat. Kau terlalu kuat untuk jadi tangan kanan selamanya.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Kata-kata itu membuat suasana menjadi lebih berat. Raka tidak langsung menjawab, tapi pikirannya mulai bergerak. Ia menatap Damar dengan tajam. “Dan kenapa aku harus percaya padamu?”
Damar tersenyum. “Karena aku jujur tentang niatku. Aku ingin kekuasaan, tapi aku tidak menusuk dari belakang tanpa alasan.”
Raka berdiri. “Aku sudah dengar cukup.” Ia berbalik dan melangkah pergi. Namun sebelum ia benar-benar menjauh, suara Damar kembali menghentikannya. “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja siapa yang membocorkan rencanamu di gudang malam itu.”
Langkah Raka terhenti. Ia menoleh perlahan, tapi tidak berkata apa-apa. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya bahkan setelah ia meninggalkan tempat itu.
Malam terasa lebih dingin saat Raka kembali ke mobilnya. Ia mulai memikirkan kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia pertimbangkan. Jika benar ada pengkhianat, maka orang itu pasti sangat dekat. Seseorang yang ia percaya.
Keesokan harinya, Raka kembali ke markas Arman. Semua terlihat normal seperti biasa. Orang-orang bekerja, berbicara, dan tertawa tanpa rasa curiga. Namun kali ini, Raka melihat semuanya dengan cara berbeda. Ia memperhatikan setiap detail kecil yang sebelumnya terlewatkan.
Arman memanggilnya ke ruang kerja. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya santai.
“Baik,” jawab Raka singkat.
Arman menatapnya sejenak. “Kau terlihat seperti banyak pikiran.”
“Hanya lelah,” kata Raka.
Arman mengangguk. “Istirahatlah. Tapi jangan terlalu lama. Kita masih punya banyak urusan.”
Raka keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang tidak nyaman. Ia mulai menghubungkan potongan-potongan kecil yang ia temukan. Dan perlahan, sebuah nama muncul di pikirannya. Nama yang tidak ingin ia percaya.
Sinta.
Raka menemui Sinta di kafe kecil tempat mereka biasa bertemu. Suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang ia jalani. Sinta tersenyum saat melihatnya, tapi senyum itu terasa berbeda kali ini.
“Kamu kelihatan capek,” kata Sinta lembut.
Raka langsung menatapnya. “Kamu kenal Damar?”
Senyum Sinta menghilang. Ia terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Jangan bohong,” kata Raka pelan tapi tegas. “Aku sudah tahu.”
Sinta menunduk. Tangannya sedikit gemetar. “Aku tidak punya pilihan,” katanya dengan suara lirih. “Mereka mengancamku.”
“Sejak kapan?” tanya Raka.
“Sejak sebelum kejadian di gudang,” jawab Sinta. “Aku hanya memberi sedikit informasi.”
Raka menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi yang mulai memuncak. “Sedikit informasi itu hampir membunuhku.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Air mata jatuh dari mata Sinta. “Aku tidak ingin ini terjadi…”
Raka berdiri tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia pergi, meninggalkan Sinta dengan penyesalan yang tak terucapkan.
Malam itu, Raka membuat keputusan. Ia menemui Damar sekali lagi. “Kau benar,” katanya singkat. “Ada pengkhianat.”
Damar tersenyum puas. “Aku sudah bilang.”
“Tapi jangan salah paham,” lanjut Raka. “Aku tidak datang untuk bekerja sama.”
Damar mengangkat alis. “Lalu untuk apa?”
“Aku datang untuk mengakhiri semuanya.”
Raka mengeluarkan pistolnya. Namun sebelum ia sempat menembak, suara tembakan terdengar dari belakang. Raka terhuyung, darah mengalir dari bahunya. Ia menoleh dan melihat Arman berdiri dengan pistol di tangannya.
“Maaf, Raka,” kata Arman dengan tenang. “Aku tidak bisa mengambil risiko.”
Segalanya menjadi jelas dalam satu momen. Damar tersenyum lebar, seolah sudah menunggu ini. Raka tertawa kecil meski rasa sakit menjalar di tubuhnya. “Jadi… ini akhirnya,” katanya.
Dengan sisa tenaga, Raka bergerak cepat. Ia menjatuhkan diri ke samping dan membalas tembakan. Suara peluru bergema di ruangan itu. Kacau, cepat, dan mematikan.
Beberapa detik kemudian, semuanya sunyi. Damar tergeletak tanpa bergerak. Arman terluka parah. Raka berdiri dengan susah payah, napasnya berat.
Ia menatap Arman untuk terakhir kalinya. “Permainan ini berakhir,” katanya pelan.
Tanpa ragu, ia mengangkat pistolnya dan menarik pelatuk.
Beberapa hari kemudian, kota kembali seperti biasa. Orang-orang tetap menjalani hidup mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik bayangan.
Raka berdiri di balkon apartemennya. Kali ini, ia sendirian di puncak. Tidak ada Arman. Tidak ada Damar. Tidak ada lagi yang mengendalikan dirinya.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. “Permainan belum selesai.”
Raka tersenyum tipis. Ia tahu, di dunia seperti ini, tidak ada akhir yang benar-benar akhir.
Hanya awal dari permainan yang baru.
--------------
