𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Hujan turun perlahan di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan kilauan seperti ilusi yang indah namun dingin. Di balik gemerlap itu, ada dunia lain yang hidup—dunia yang tak terlihat oleh orang-orang biasa. Dunia mafia.
Raka berdiri di depan jendela kantor kecilnya di lantai tiga. Ia menatap ke luar dengan mata yang tenang, tapi pikirannya penuh perhitungan. Sudah lima tahun ia berada di dalam lingkaran ini, naik perlahan dari seorang kurir biasa menjadi tangan kanan seorang bos besar yang dikenal hanya dengan satu nama: Arman.
“Semua sudah siap?” suara Arman terdengar dari belakang.
Raka menoleh. Pria paruh baya itu duduk santai di kursi kulit, menghisap cerutu mahal. Wajahnya tampak tenang, tapi siapa pun tahu—di balik ketenangan itu, ada kekuasaan yang bisa menghancurkan siapa saja.
“Sudah, Bos. Malam ini kita ambil alih wilayah utara,” jawab Raka singkat.
Arman tersenyum tipis. “Bagus. Sudah saatnya mereka tahu siapa yang menguasai kota ini.”
Wilayah utara bukan sekadar tempat biasa. Itu adalah wilayah yang selama ini dikuasai oleh kelompok lain—kelompok yang dipimpin oleh seorang pria bernama Damar. Ia terkenal kejam, tak ragu menghabisi siapa pun yang mengganggu bisnisnya. Banyak yang bilang, perang dengan Damar adalah bunuh diri.
Tapi Arman tidak pernah takut.
Dan Raka… tidak punya pilihan selain setia.
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Mobil hitam melaju perlahan memasuki kawasan industri yang gelap. Lampu-lampu gudang sebagian besar mati, hanya menyisakan bayangan panjang yang menari di dinding.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Raka turun lebih dulu. Ia memberi isyarat kepada anak buah lainnya. Mereka bergerak cepat, senyap, seperti bayangan. Semua sudah direncanakan dengan detail—tak boleh ada kesalahan.
Namun, tepat saat mereka hampir mencapai pintu gudang utama, suara tembakan memecah keheningan.
“Serangan!” teriak seseorang.
Seketika suasana berubah kacau. Peluru beterbangan. Raka berlindung di balik kontainer besi, napasnya tetap stabil. Ia tahu ini tidak akan mudah, tapi ia tidak menyangka Damar sudah siap.
“Raka!” suara Arman terdengar melalui alat komunikasi kecil di telinganya. “Masuk dari sisi kiri. Jangan beri mereka waktu!”
Raka mengangguk, meskipun tak terlihat. Ia memberi isyarat lagi. Dengan gerakan cepat, ia dan dua orang lainnya menyelinap ke sisi kiri gudang.
Pintu belakang terbuka sedikit. Mereka masuk tanpa suara.
Di dalam, suasana lebih mencekam. Bau minyak dan logam bercampur dengan aroma mesiu. Beberapa orang terlihat berjaga, tapi tidak menyadari kehadiran mereka.
Raka mengangkat tangannya—satu, dua, tiga.
Tembakan dilepaskan bersamaan.
Dalam hitungan detik, area itu sudah bersih.
Namun langkah mereka terhenti ketika suara berat terdengar dari dalam ruangan utama.
“Akhirnya kau datang juga, Raka.”
Raka membeku sejenak. Ia mengenali suara itu.
Damar.
Perlahan, ia melangkah masuk. Di tengah ruangan, berdiri seorang pria dengan tubuh tinggi dan tatapan tajam. Di tangannya, pistol mengarah lurus ke arah Raka.
“Kau pikir bisa mengambil wilayahku begitu saja?” tanya Damar dengan senyum sinis.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap balik, mencoba membaca situasi. Jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat satu kesalahan berarti kematian.
“Ini bukan tentang wilayah,” kata Raka akhirnya. “Ini tentang kekuasaan.”
Damar tertawa kecil. “Kekuasaan? Kau masih terlalu muda untuk mengerti.”
Tiba-tiba, suara langkah terdengar dari belakang. Arman masuk dengan tenang, diikuti beberapa anak buahnya.
“Kalau begitu, biar aku yang menjelaskan,” kata Arman.
Situasi berubah seketika. Kini Damar yang terpojok.
Namun alih-alih panik, Damar justru tersenyum.
“Kalian benar-benar berpikir ini sudah berakhir?” katanya pelan.
Dalam sekejap, lampu padam.
Kegelapan menyelimuti ruangan.
Tembakan kembali terdengar, kali ini lebih liar.
Raka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia bergerak mengikuti insting, menghindari peluru, mencari posisi aman.
Beberapa detik yang terasa seperti menit berlalu.
Ketika lampu kembali menyala, pemandangan di depan mereka berubah drastis.
Beberapa orang tergeletak. Darah mengalir di lantai beton.
Dan Damar… sudah tidak ada.
Arman menghela napas panjang. “Dia lolos.”
Raka menatap ke arah pintu belakang yang terbuka. Ada rasa tidak puas, tapi juga kesadaran bahwa ini belum selesai.
“Kejar dia?” tanya Raka.
Arman menggeleng. “Tidak. Biarkan dia lari. Orang seperti dia akan kembali.”
Raka diam. Ia tahu Arman benar.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Malam itu, mereka memang berhasil mengambil alih wilayah utara. Tapi kemenangan itu terasa kosong.
Karena perang sebenarnya… baru saja dimulai.
Beberapa hari kemudian, kota kembali terlihat normal. Orang-orang menjalani hidup seperti biasa, tanpa tahu apa yang terjadi di balik layar.
Raka duduk di sebuah kafe kecil, memandang secangkir kopi yang sudah dingin. Pikirannya terus memutar kejadian malam itu.
Ia tahu satu hal pasti—selama Damar masih hidup, tidak akan ada kedamaian.
“Banyak berpikir, ya?”
Suara itu membuat Raka tersentak. Ia menoleh dan melihat seorang wanita berdiri di samping mejanya.
Namanya Sinta.
Ia bukan bagian dari dunia itu. Tapi entah bagaimana, ia selalu muncul di saat yang tidak tepat.
“Cuma kerjaan,” jawab Raka singkat.
Sinta duduk tanpa diundang. “Kerjaanmu selalu berbahaya, ya?”
Raka tidak menjawab.
Sinta menatapnya lama. “Kamu tahu, kamu bisa keluar dari semua ini.”
Raka tersenyum tipis. “Tidak semudah itu.”
“Selalu ada pilihan,” kata Sinta pelan.
Raka menatapnya. Untuk sesaat, ia ingin percaya.
Tapi kemudian bayangan Arman, Damar, dan semua yang sudah ia lakukan muncul di pikirannya.
“Beberapa pilihan datang dengan harga yang terlalu mahal,” katanya akhirnya.
Sinta menghela napas. Ia tahu tidak bisa memaksa.
Di luar, hujan mulai turun lagi.
Raka berdiri. “Aku harus pergi.”
Sinta hanya mengangguk.
Saat Raka melangkah keluar, ia tahu satu hal—hidupnya tidak akan pernah kembali normal.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam terparkir.
Di dalamnya, seseorang memperhatikan.
Damar.
Ia tersenyum tipis, matanya penuh rencana.
“Permainan baru saja dimulai, Raka…”
Dan kota itu, sekali lagi, menjadi panggung bagi perang yang tak terlihat—perang antara bayangan, kekuasaan, dan takdir yang tak bisa dihindari.
--------------
