LAMPU4D - Hujan turun sejak subuh, seperti tidak punya alasan untuk berhenti. Air menetes dari ujung atap rumah kontrakan mereka yang sudah lama bocor, jatuh satu-satu ke ember plastik yang diletakkan di tengah ruang tamu. Bunyi “tik… tik… tik…” itu selalu sama, seperti jam yang menghitung sisa-sisa tenaga Ibu setiap hari.
Di sudut ruangan, Gisel duduk memeluk lutut. Seragam sekolahnya masih ia pakai, meski jam sudah menunjukkan sore. Bukan karena ia lupa berganti, tapi karena hari ini rasanya tubuhnya terlalu berat untuk melakukan hal sederhana. Matanya terasa panas, bukan karena mengantuk, melainkan karena tangisan yang sudah lama ia tahan.
Di kamar belakang, Ibu batuk-batuk. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Itu batuk yang membuat dada terasa seperti digores, batuk yang membuat napas tertahan di tenggorokan, batuk yang membuat Gisel selalu menoleh cepat, takut ada sesuatu yang lebih buruk terjadi setelahnya.
Sejak Ayah pergi, suara batuk itu seperti menjadi penghuni tetap rumah mereka. Bersama dengan tumpukan tagihan yang tidak pernah benar-benar habis, dan surat-surat peringatan yang semakin sering datang.
Gisel tidak pernah membenci hujan, sampai ia sadar hujan adalah alasan pelanggan jarang datang ke toko kecil tempat Ibu bekerja. Hujan adalah alasan jalanan sepi. Hujan adalah alasan uang hari itu “kurang sedikit lagi”.
Dan “kurang sedikit lagi” selalu berarti satu hal: mereka harus mengurangi makan.
Hari itu, Gisel pulang membawa selembar kertas dari sekolah. Surat tagihan juga. Kertas yang baunya seperti tinta kantor, dengan tulisan yang terlalu rapi untuk hidup mereka yang berantakan. Ia menaruhnya di atas meja, tepat di samping piring kosong yang belum sempat dicuci.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Ibu keluar dari kamar dengan langkah pelan. Kain selendang menutup bahunya, tapi tidak menutup pucat di wajahnya. Matanya menatap Gisel sebentar, lalu ke meja. Ia tahu ada sesuatu.
“Kamu dapat apa dari sekolah?” suara Ibu pelan. Terlalu pelan untuk sebuah pertanyaan, terlalu berat untuk sebuah percakapan.
Gisel menelan ludah. “Surat… pembayaran, Bu.”
Ibu menghela napas. Bukan napas panjang yang melegakan, melainkan napas yang seperti menahan runtuh. Ia duduk perlahan, telapak tangannya memegang kertas itu tanpa benar-benar membacanya. Seperti sudah hafal isi dunia: bayar ini, bayar itu, kalau tidak, semuanya akan lebih sulit.
“Berapa?” tanya Ibu, masih pelan.
Gisel menatap lantai. “Dua ratus lima puluh ribu. Untuk… kegiatan akhir semester sama buku tambahan.”
Ibu diam. Hujan di luar terdengar semakin keras. Ember menampung tetesan air dengan irama yang memalukan, seolah rumah mereka pun ikut mengingatkan bahwa mereka kekurangan.
“Bu…” Gisel ingin mengatakan sesuatu, tetapi kalimatnya tersangkut di dada. Ia ingin bilang, tidak apa-apa kalau tidak dibayar. Ia bisa pinjam buku, bisa tidak ikut kegiatan. Ia bisa pura-pura tidak peduli. Tapi ia juga tahu, kalau ia terus bilang “tidak apa-apa”, hidup mereka akan benar-benar menjadi “tidak apa-apa” yang lain—yang lebih menyakitkan.
Ibu meletakkan kertas itu kembali. Matanya tidak menatap Gisel, melainkan menatap kosong ke arah pintu.
“Nanti Ibu usahakan,” katanya.
Kalimat itu, bagi orang lain, mungkin terdengar seperti janji. Tapi bagi Gisel, itu adalah kalimat yang selalu membuatnya takut. Karena “nanti” sering berarti: menunda makan, menunda obat, menunda istirahat.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
“Nggak usah, Bu,” Gisel akhirnya berkata, suaranya serak. “Aku bisa… aku bisa cari cara. Aku bisa kerja part time.”
Ibu menoleh cepat, seperti tersentak.
“Jangan,” tegas Ibu. Ada ketegasan yang masih tersisa, walau tubuhnya terlihat rapuh. “Kamu sekolah yang benar. Kamu jangan ikut-ikutan cari uang. Itu tugas Ibu.”
Gisel ingin tertawa, tapi yang keluar justru napas yang bergetar. “Tapi Bu… kita—”
“Kita masih bisa,” potong Ibu, lebih cepat. “Masih bisa.”
Gisel menatap wajah Ibu. Ia melihat urat-urat lelah di sana. Ia melihat garis yang tidak seharusnya dimiliki seorang ibu yang masih seharusnya bisa tertawa tanpa beban. Ia melihat bibir Ibu yang pucat, dan mata yang terlalu sering menahan tangis.
“Bu,” suara Gisel lebih pelan, hampir seperti bisikan, “IBU, bukankah kami juga harus hidup?”
Pertanyaan itu menggantung, bukan hanya di ruang tamu sempit mereka, tapi di seluruh hidup Gisel yang selama ini dipenuhi kata “nanti” dan “usahakan”.
Ibu menatapnya lama. Dalam tatapan itu ada banyak hal: cinta, marah, takut, juga sesuatu yang seperti rasa bersalah. Ibu membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar. Lalu, tiba-tiba, Ibu memalingkan wajah, seperti tidak sanggup menahan mata yang mulai basah.
“Kamu pikir Ibu nggak tahu?” Ibu akhirnya berkata. “Kamu pikir Ibu nggak merasa?”
Gisel menahan napas. Ia tidak ingin pertengkaran. Ia hanya ingin… sesuatu yang tidak membuat mereka tenggelam pelan-pelan.
“Aku capek, Bu,” Gisel mengaku, suaranya pecah. “Aku capek pura-pura kuat. Aku capek lihat Ibu makin kurus, makin sering sakit, tapi tetep bilang kita masih bisa.”
Ibu menutup mata sebentar, lalu mengusap wajahnya. “Ibu nggak mau kamu ngerasain dunia yang Ibu rasain.”
“Tapi aku udah ngerasain, Bu.” Gisel menatap Ibu, kali ini tidak menghindar. “Aku udah hidup di dalamnya.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sempit. Bahkan hujan pun seperti menahan diri sebentar, sebelum kembali deras.
Malam itu, Gisel tidak makan. Bukan karena tidak ada, tapi karena lidahnya terasa pahit. Ibu juga tidak makan. Ibu hanya minum teh hangat, dan memaksa diri menelan obat batuk yang tersisa dua butir.
Gisel tidur di kasur tipis di kamar depan, sementara Ibu di kamar belakang. Tapi Gisel tidak benar-benar tidur. Ia mendengar batuk Ibu di balik tembok tipis. Ia mendengar Ibu menahan napas. Ia mendengar langkah pelan ke dapur, mungkin mengambil air, mungkin hanya memastikan Gisel tertidur.
Dan di antara suara-suara itu, Gisel mendengar sesuatu yang paling membuatnya takut: suara tangis.
Tangis Ibu yang ditahan pelan, seperti tidak ingin anaknya tahu bahwa seorang ibu pun bisa runtuh.
Pagi berikutnya, Gisel bangun lebih cepat. Ia menyiapkan air panas, membantu Ibu meneguk obat. Ia tidak berkata apa-apa tentang semalam. Ia tahu ada kata-kata yang terlalu tajam untuk diulang.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Di sekolah, Gisel duduk di bangku paling belakang. Ia menatap papan tulis, tapi yang ia lihat hanyalah angka-angka: 250 ribu, 150 ribu, 300 ribu. Semua tagihan punya wajah sendiri di kepala Gisel.
Di jam istirahat, teman-temannya berbicara soal rencana liburan, soal baju baru, soal kafe yang baru buka. Gisel tersenyum kecil, tapi ia merasa seperti menonton hidup orang lain dari balik kaca.
Ketika bel pulang berbunyi, Gisel tidak langsung pulang. Ia berdiri sebentar di depan gerbang sekolah, memandangi jalan raya. Motor lewat, orang-orang berjalan tergesa, semua seperti punya tujuan yang jelas.
Gisel punya tujuan juga.
Ia harus mencari uang.
Ia berjalan ke deretan ruko dekat pasar. Di sana ada warung makan, minimarket, dan toko fotokopi. Gisel masuk ke minimarket kecil yang lampunya terang, lalu bertanya dengan suara sehalus mungkin, “Maaf, Kak… di sini lagi butuh karyawan part time nggak?”
Pegawai kasir menatapnya. “Umur berapa?”
“Delapan belas.”
“Kamu sekolah?”
“Iya.”
\Pegawai itu mengangguk pelan, lalu memanggil manajer. Manajer datang, wajahnya lelah tapi profesional. Ia bertanya beberapa hal, lalu memberi Gisel secarik kertas.
“Datang besok sore,” kata manajer. “Coba dulu seminggu. Kalau cocok, lanjut.”
Gisel menggenggam kertas itu seperti menggenggam harapan. Tangannya gemetar sedikit. Ia mengucap terima kasih berkali-kali, lalu keluar dengan napas yang terasa lebih panjang.