LAMPU4D - Namun begitu ia sampai rumah, ia melihat Ibu duduk di teras kecil, menunggu. Wajah Ibu pucat. Matanya seperti habis menangis.
“Kamu dari mana?” tanya Ibu.
Gisel menelan ludah. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu Ibu pasti merasa ada sesuatu.
“Aku… aku cari kerja, Bu.” Gisel mengaku. Ia tidak ingin bohong.
Ibu menatapnya lama, lalu berdiri. “Ibu sudah bilang jangan.”
Gisel menahan air mata. “Bu, aku nggak bisa lagi lihat Ibu sakit-sakitan.”
“Terus kamu pikir kerja itu gampang? Kamu pikir orang-orang akan baik sama kamu?” suara Ibu naik sedikit, bukan karena marah, tapi karena takut.
“Aku nggak minta dunia baik, Bu,” jawab Gisel, lebih berani dari yang ia kira. “Aku cuma minta kita bisa makan tanpa mikir besok gimana.”
Ibu terdiam. Tangannya gemetar saat memegang pagar teras. Matanya beralih ke jalan, lalu kembali ke Gisel.
“Kamu masih anak Ibu,” kata Ibu akhirnya, suaranya melemah. “Ibu takut kehilangan kamu.”
Gisel mendekat pelan. “Aku juga takut kehilangan Ibu.”
Kalimat itu menghantam mereka berdua.
Ibu menutup wajahnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha terlihat kuat. Ia menangis di depan Gisel, tanpa menahan, tanpa menutup-nutupi. Tangisnya bukan tangis dramatis, tetapi tangis yang paling menyakitkan—tangis orang yang terlalu lama bertahan sampai akhirnya tidak punya tenaga.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Gisel memeluk Ibu, erat. Tubuh Ibu terasa lebih ringan dari yang seharusnya. Seperti beban hidup sudah mengikisnya pelan-pelan.
“Aku minta maaf,” Ibu berbisik. “Ibu minta maaf…”
“Jangan minta maaf,” Gisel menggeleng, juga menangis. “Kita cuma… kita cuma harus hidup, Bu. Itu aja.”
Hari-hari setelah itu berjalan seperti dua sisi pisau.
Gisel sekolah pagi, bekerja sore. Ia belajar menghafal barcode, menyusun barang, membersihkan lantai, tersenyum pada pelanggan meski kakinya pegal dan matanya berat. Ia pulang larut, menahan dingin malam, dan masih menyempatkan mengecek napas Ibu di kamar.
Ibu tetap bekerja, tapi lebih sering batuk. Kadang Ibu memaksakan diri ke toko, kadang tidak sanggup bangun. Gisel mulai membawa pulang roti dari minimarket, kadang sisa makanan yang boleh dibeli diskon. Mereka makan sambil duduk di lantai, karena meja terlalu dipenuhi kertas-kertas tagihan.
Di satu sisi, ada sedikit uang yang mulai terkumpul. Di sisi lain, kesehatan Ibu semakin mengkhawatirkan.
Suatu malam, Gisel pulang dan mendapati Ibu duduk di lantai dapur. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis.
“Bu!” Gisel menjatuhkan tasnya, berlutut. “Ibu kenapa?”
Ibu mencoba tersenyum, tapi bibirnya gemetar. “Nggak apa-apa… cuma pusing.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Gisel mengangkat Ibu pelan, membantunya ke kasur. Tangannya bergetar, pikirannya kosong. Ia ingin menelpon ambulans, tapi ia juga tahu biaya. Ia ingin membawa Ibu ke rumah sakit, tapi ia takut tidak sanggup.
Namun malam itu, Gisel memilih satu hal: ia tidak akan menunda lagi.
Ia meminjam motor tetangga, membawa Ibu ke puskesmas. Di sana, dokter memeriksa, menatap hasil pemeriksaan dengan wajah yang terlalu serius.
“Ini sudah lama?” tanya dokter.
Gisel mengangguk, tenggorokannya kering.
Dokter menghela napas. “Ibu kamu harus dirujuk. Kondisinya tidak bisa dianggap ringan.”
Kata-kata itu membuat Gisel seperti jatuh dari tangga yang tidak terlihat. Ia menatap Ibu yang terbaring lemah. Di mata Ibu, ada ketakutan, tapi juga ketenangan aneh—seolah Ibu sudah lama tahu bahwa tubuhnya tidak akan kuat selamanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Gisel tidak berhenti memikirkan satu kalimat: kalau Ibu pergi, aku hidup dengan siapa?
Di rumah, Gisel duduk di samping Ibu. Ia menggenggam tangan Ibu, merasakan dingin di kulit itu.
“Bu,” suara Gisel bergetar, “kita pasti bisa, kan?”
Ibu menatap Gisel lama. Matanya sayu, tetapi hangat. Ia mengusap punggung tangan Gisel pelan.
“Kita sudah bisa sejauh ini,” kata Ibu lirih. “Gisel… kamu hebat.”
Gisel menggeleng cepat. “Aku nggak mau hebat, Bu. Aku mau Ibu sehat.”
Ibu tersenyum tipis, dan senyum itu membuat Gisel semakin sesak. “Kadang… hidup nggak ngasih pilihan yang kita mau.”
Malam itu, Gisel tidak tidur. Ia duduk, mendengarkan napas Ibu, menghitung tiap tarikan udara. Ia takut, dan ketakutan itu seperti monster yang duduk di dada.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Keesokan paginya, Ibu semakin lemah.
Sore menjelang, ketika matahari turun dan langit jadi jingga, Ibu memanggil Gisel pelan.
“Gisel…”
Gisel mendekat cepat. “Iya, Bu?”
Ibu menatap wajah Gisel, seolah ingin menghafalnya. “Kalau nanti Ibu nggak ada…”
“Jangan ngomong gitu,” Gisel memotong, suaranya pecah.
Ibu menggeleng kecil. “Dengerin. Kalau nanti Ibu nggak ada, kamu tetap harus hidup. Kamu harus makan. Kamu harus sekolah. Kamu harus… bahagia.”
Gisel menangis, menekan wajahnya ke tangan Ibu. “Aku nggak bisa bahagia kalau Ibu nggak ada.”
Ibu menarik napas pelan, lalu berkata, “Kamu bisa. Karena Ibu pernah lihat kamu bertahan dari hari-hari yang lebih gelap dari malam. Kamu bisa, Nak.”
Malam itu, hujan turun lagi. Dan di tengah bunyi tetesan air yang tidak berhenti, napas Ibu mulai melemah. Pelan. Lebih pelan dari biasanya.
Gisel memanggil Ibu berkali-kali. Mengguncang bahu Ibu pelan. Menangis sampai suara habis.
“Ibu… Ibu bangun… Bu… jangan gini…”
Tetapi tubuh Ibu tetap diam. Wajah Ibu seperti tidur—tenang, seolah semua beban akhirnya dilepas.
Gisel menjerit, tapi suara itu tertahan di tenggorokan. Ia menutup mulutnya, menangis tanpa bentuk, memeluk Ibu seerat mungkin, seolah pelukan bisa menahan seseorang tetap tinggal.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Di luar, hujan terus turun.
Dan untuk pertama kalinya, rumah kontrakan mereka benar-benar terasa kosong.
Hari-hari setelahnya berjalan seperti kabut. Ada orang-orang datang, ada yang membantu pemakaman, ada yang memberi uang seadanya, ada yang berkata “yang sabar ya” seolah sabar bisa membayar tagihan.
Gisel berdiri di samping makam Ibu, menatap tanah yang masih basah. Angin menampar pelan. Bunga-bunga layu cepat karena hujan.
Gisel ingin bicara, ingin memanggil Ibu, ingin memohon dunia membatalkan semuanya. Tapi yang keluar hanya satu kalimat, pelan, putus-putus, seperti doa yang patah.
“Bu… aku masih butuh Ibu.”
Malamnya, Gisel pulang ke rumah. Ia membuka pintu dan langsung merasa sesak. Tidak ada batuk. Tidak ada langkah pelan. Tidak ada suara Ibu memanggilnya.
Hanya ember bocor yang masih bekerja, menampung air, seperti rumah yang tidak paham bahwa pemiliknya sudah pergi.
Gisel duduk di lantai, menatap kosong. Lalu ia tertawa pelan—tawa yang bukan tawa bahagia, melainkan tawa orang yang baru sadar bahwa hidup bisa sekejam itu.
Ia memeluk dirinya sendiri.
Ibu sudah pergi, tapi hidup belum selesai.
Keesokan paginya, Gisel bangun, mandi, memakai seragam, lalu berangkat sekolah. Tidak karena ia kuat. Tapi karena ia ingat kata-kata Ibu: kamu tetap harus hidup.
Di minimarket, manajer menatap wajah Gisel yang pucat. “Kamu nggak apa-apa?”
Gisel mengangguk, meski ia tahu itu bohong. “Aku harus kerja.”
Malamnya, saat Gisel pulang, ia membuka laci meja kecil dan menemukan sebuah amplop. Tulisan tangan Ibu ada di sana: Untuk Gisel.
Tangannya gemetar saat membuka.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Di dalamnya ada beberapa lembar uang yang tidak banyak, dan secarik kertas:
Gisel, kalau kamu baca ini, berarti Ibu sudah nggak bisa nemenin kamu lagi. Maaf Ibu nggak bisa kasih kamu hidup yang mudah. Tapi Ibu selalu bangga sama kamu. Kamu jangan berhenti hidup. Jangan berhenti bermimpi. Kalau dunia jahat, kamu tetap jadi orang baik. Karena itu yang bikin kamu menang, Nak. Ibu sayang kamu. Selamanya.
Gisel menutup surat itu, menempelkan ke dada. Ia menangis lagi, tapi kali ini tangisnya berbeda. Tangis yang membawa luka, tapi juga membawa sesuatu yang kecil—tekad.
Ia menatap ember bocor. Ia berdiri, menggeser ember, menaruh kain pel, lalu mulai membersihkan rumah. Ia menambal atap semampunya, meminjam tangga tetangga, memaku plastik supaya bocor tidak menetes terlalu banyak.
Ia tidak tahu masa depan akan seperti apa.
Tapi ia tahu satu hal: Gisel tidak akan membiarkan hidupnya berhenti di sini.
Karena ia berhak hidup.
Karena Ibu pernah berjuang sampai akhir hanya supaya Gisel bisa berdiri hari ini.
Dan meski dunia tidak pernah adil, Gisel memutuskan untuk tetap berjalan.
Selangkah.
Satu hari.
Satu napas.
Sampai suatu saat nanti, ketika ia mampu tersenyum tanpa rasa bersalah, ia akan berbisik pada dirinya sendiri:
“Bu… aku hidup. Aku beneran hidup.”
