LAMPU4D - Desa Sungai Arut selalu terlihat tenang di siang hari. Anak-anak berlarian di pematang sawah, ibu-ibu bercengkerama di beranda rumah kayu, dan suara ayam berkokok bersahut-sahutan. Namun ketika matahari tenggelam dan kabut tipis turun menyelimuti pepohonan, desa itu berubah menjadi tempat yang dipenuhi bisikan.
Bisikan tentang sesuatu yang tidak kasat mata.
Tentang makhluk yang hanya disebut dengan satu nama—kuyang.
Konon, kuyang adalah perempuan yang mempelajari ilmu hitam demi kecantikan abadi dan umur panjang. Ia menjalani ritual terlarang, memisahkan kepala dari tubuhnya saat malam tiba. Dengan organ yang menggantung di bawah lehernya, ia melayang mencari darah—terutama darah bayi dan perempuan yang baru melahirkan.
Tak ada yang pernah mengaku melihatnya secara jelas. Tapi semua orang percaya ia ada.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Raras pindah ke desa itu dua bulan yang lalu, setelah suaminya, Ardi, menerima pekerjaan sebagai guru di sekolah dasar setempat. Ia sedang mengandung tujuh bulan. Kandungannya sehat, kata bidan desa. Tapi sejak ia tinggal di sana, tidur Raras sering terganggu oleh mimpi aneh—mimpi tentang bayangan yang melayang di luar jendela.
Suatu malam, angin bertiup kencang. Lampu minyak di ruang tengah bergoyang pelan. Ardi sudah terlelap, namun Raras terbangun karena suara seperti sesuatu yang menggesek atap rumah.
Srek… srek… srek…
Awalnya ia mengira itu hanya ranting pohon. Namun suara itu berpindah, seperti mengikuti arah langkah tak terlihat. Jantungnya berdegup cepat. Ia duduk perlahan dan menoleh ke arah jendela.
Di sela tirai tipis, ia melihat sesuatu.
Bayangan.
Melintas cepat.
Raras menahan napas. Tangannya gemetar ketika ia mendekat sedikit ke jendela. Dalam cahaya bulan yang redup, ia melihat sosok itu dengan jelas—kepala perempuan dengan rambut panjang terurai, wajahnya pucat kebiruan. Matanya merah menyala. Di bawah lehernya, organ-organ basah menggantung, berkilat oleh pantulan cahaya.
Makhluk itu melayang pelan.
Berhenti tepat di depan rumahnya.
Raras spontan memegang perutnya. Seolah makhluk itu tahu. Seolah ia bisa mencium kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok keras dari belakang rumah. Sosok itu menoleh, lalu melesat pergi ke arah rumah tetangga.
Tak lama kemudian, terdengar teriakan.
Keesokan paginya, desa geger. Bayi yang baru lahir tiga hari lalu di rumah Bu Ratna ditemukan pucat dan lemas. Dokter dari kota tak menemukan penyakit apa pun. “Kehabisan darah,” bisik beberapa warga.
Orang-orang mulai memasang bawang putih di pintu, menaburkan garam di sekeliling rumah, dan meletakkan sapu lidi di ambang jendela. Kata orang tua, kuyang takut pada benda-benda itu. Ia akan menghitung lidi satu per satu hingga fajar datang.
Namun ketakutan tak benar-benar hilang.
Raras mulai memperhatikan seorang perempuan tua bernama Mak Ijah. Ia tinggal sendirian di ujung desa, jarang berbicara, dan selalu menutup lehernya dengan kain panjang meski cuaca panas.
Suatu siang, Raras melihat Mak Ijah berjalan pincang melewati rumahnya. Ada sesuatu yang aneh—wajahnya terlihat sangat segar untuk wanita seusianya. Kulitnya halus, matanya tajam. Saat mereka berpapasan, Mak Ijah tersenyum.
Senyum yang terlalu lama.
Malam berikutnya, suara gesekan itu kembali terdengar.
Srek… srek…
Namun kali ini lebih dekat.
Raras membangunkan Ardi. Mereka menahan napas ketika bayangan itu melintas tepat di luar jendela kamar. Tirai bergerak pelan meski tak ada angin.
Makhluk itu berputar, seperti mencari celah untuk masuk.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dapur. Ardi berlari memeriksa. Raras sendirian di kamar. Ia tak berani bergerak. Lalu perlahan, jendela terbuka sedikit.
Dan wajah itu muncul.
Lebih dekat dari sebelumnya.
Matanya menatap lurus ke arah perut Raras.
Bibirnya bergerak, berbisik tanpa suara.
Air mata Raras jatuh. Ia meraih sapu lidi yang sudah disiapkan dan melemparkannya ke arah jendela. Ajaibnya, makhluk itu berhenti. Matanya menyipit. Lalu perlahan… ia mundur.
Ayam jantan kembali berkokok, menandakan fajar hampir tiba.
Makhluk itu melesat pergi, menghilang di antara pepohonan.
Keesokan harinya, warga menemukan Mak Ijah terbaring tak bernyawa di rumahnya. Tubuhnya utuh, tapi lehernya terlihat seperti bekas sayatan halus. Anehnya, wajahnya kini tampak sangat tua—keriput dalam sekejap, seperti usia puluhan tahun mengejar dalam satu malam.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Sejak kematian Mak Ijah, tak ada lagi bayi yang sakit misterius.
Desa kembali tenang.
Namun Raras tahu, cerita tentang kuyang tidak pernah benar-benar berakhir. Ilmu hitam selalu mencari penerus. Selalu ada seseorang yang tergoda oleh janji kecantikan dan keabadian.
Beberapa bulan kemudian, Raras melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Mereka menamainya Lestari.
Suatu malam, ketika Lestari berusia dua minggu, angin kembali bertiup tanpa suara. Lampu minyak berkedip pelan.
Dan dari kejauhan, di antara pepohonan gelap, terlihat bayangan melayang.
Bukan satu.
Tapi dua.
Desa Sungai Arut kembali diselimuti bisikan.
Karena kuyang… tak pernah sendirian.