𝐇𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐓𝐮𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚

 

LAMPU4D - Tidak ada satu pun anggota keluarga Mahendra yang meninggal dengan tenang.

Semua selalu diawali dengan sakit misterius, mimpi buruk berhari-hari, lalu diakhiri dengan kematian atau hilangnya seseorang tanpa jejak. Warga kampung sudah hafal pola itu, hanya keluarga Mahendra yang pura-pura tidak tahu.

Atau mungkin… mereka memang tidak boleh tahu.

Gisel baru berusia sembilan belas tahun saat ibunya memaksanya pindah ke rumah warisan keluarga di ujung desa. Rumah besar berlantai dua itu berdiri sendirian di antara pepohonan tua. Catnya mengelupas, jendelanya berlumut, dan atapnya tampak seperti rahang monster yang siap menelan siapa pun yang masuk.

Begitu mobil berhenti di depan pagar, dada Gisel langsung terasa sesak.

Udara di sana terlalu sunyi.

Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga.

Hanya angin yang menyapu dedaunan kering, terdengar seperti bisikan orang mati.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Sejak melangkah masuk, Gisel merasa tubuhnya seperti dipeluk sesuatu yang dingin. Bau tanah kuburan bercampur bunga kamboja menyelinap ke hidungnya.

Ibunya berjalan paling depan, wajahnya kaku, matanya kosong.

Di ruang tamu, terdapat foto keluarga besar tergantung memenuhi dinding. Semua foto itu menampilkan orang-orang dengan ekspresi datar. Senyum mereka terlihat dipaksakan. Mata mereka kosong, seperti sudah kehilangan jiwa jauh sebelum mati.

Malam pertama di rumah itu, Gisel terbangun pukul tiga pagi.

Ia mendengar suara gesekan kuku di dinding kamarnya.

Bukan suara tikus.

Lebih berat.

Lebih lambat.

Ia menahan napas sambil menatap pintu. Bayangan hitam merayap di bawah celah pintu, seperti cairan kental yang hidup.

Saat lampu dinyalakan, bayangan itu lenyap.

Namun di dinding kamarnya muncul bekas garis panjang—seperti goresan kuku manusia.

Sejak malam itu, mimpi buruk tidak pernah berhenti.

Gisel bermimpi berdiri di sebuah ruangan gelap, dikelilingi anak-anak dengan tubuh penuh tanah. Mata mereka hitam. Mulut mereka robek hingga telinga. Mereka tidak bersuara, hanya menunjuk ke arahnya.

Bangun tidur, leher Gisel sering dipenuhi bekas lebam tipis.

Seperti bekas cekikan.

Ibunya semakin berubah.

Ia sering berdiri di depan kamar ujung lorong. Kamar itu selalu terkunci. Dari dalam kamar, kadang terdengar suara isak tangis yang sangat pelan, seperti bayi kelaparan.

Setiap kali Gisel bertanya, ibunya hanya berkata, “Jangan pernah buka kamar itu.”

Namun rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

Suatu sore saat ibunya pergi ke pasar, Gisel mengambil kunci cadangan dari lemari.

Pintu kamar ujung lorong terbuka dengan bunyi berderit panjang.

Bau busuk langsung menyeruak.

Bukan bau bangkai. Bau darah tua bercampur tanah basah.

Di dalam kamar itu, dindingnya dipenuhi coretan tangan. Tulisan-tulisan tidak beraturan memenuhi seluruh permukaan tembok:

“Tolong aku.”

“Gelap.”

“Sakit.”

“Jangan biarkan mereka memilihmu.”

Di tengah ruangan ada sebuah lubang kecil di lantai. Saat Gisel menunduk, ia melihat tulang-tulang kecil di dalamnya.

Tulang anak-anak.

Tangannya gemetar saat menemukan buku tua tersembunyi di balik lemari.

Buku itu berisi catatan keluarga.

Tentang perjanjian.

Tentang tumbal.

Puluhan tahun lalu, leluhur mereka membuat kesepakatan dengan sesuatu yang tidak disebutkan namanya. Sebagai balasan kekayaan dan umur panjang, keluarga Mahendra harus menyerahkan satu anak setiap tujuh tahun.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Bukan anak sembarangan.

Harus yang paling polos.

Yang paling percaya.

Yang tidak tahu dunia.

Gisel merasa mual.

Nama-nama korban ditulis rapi.

Usia mereka selalu belasan.

Beberapa catatan menyebut “dikubur hidup-hidup”.

Beberapa “dikorbankan di ruang bawah tanah”.

Beberapa “diberikan saat masih bernapas”.

Di halaman terakhir tertulis:

“Giliran berikutnya sudah dekat.”

Malam itu, Gisel mencoba kabur.

Ia berlari keluar rumah sambil membawa tas kecil. Namun saat sampai gerbang, tubuhnya seperti menabrak tembok tak kasatmata. Kepalanya terbentur keras hingga berdarah.

Ia terjatuh.

Tanah di bawahnya terasa hangat.

Dari balik pepohonan, muncul bayangan anak-anak yang ia lihat dalam mimpi.

Mereka merangkak mendekat dengan tulang patah dan daging membusuk.

Gisel menjerit.

Ia terbangun di kamarnya dengan pergelangan tangan terikat.

Ibunya duduk di samping ranjang sambil menangis.

“Aku tidak mau kamu juga mati seperti mereka,” bisik ibunya dengan suara hancur. “Tapi kalau tidak ada tumbal… rumah ini akan mengambil kita semua.”

Saat itulah Gisel tahu.

Ibunya tahu segalanya sejak awal.

Ia hanya berharap Gisel tidak terpilih.

Namun rumah itu sudah memilih.

Gisel dibawa ke ruang bawah tanah.

Di sana terdapat altar dari batu hitam. Dindingnya basah oleh darah kering. Bau amis menempel di udara.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Dari sudut ruangan terdengar suara napas berat.

Sesuatu bergerak di kegelapan.

Ibunya memeluk Gisel sambil terisak, lalu mendorongnya ke tengah altar.

Tangan-tangan dingin muncul dari lantai, mencengkeram kaki Gisel.

Kulitnya terasa terbakar.

Ia menjerit hingga tenggorokannya berdarah.

Bayangan besar muncul dari dinding—wujud tanpa wajah, tubuh seperti asap hitam bercampur tulang.

Makhluk itu menempelkan sesuatu ke dada Gisel.

Rasa sakitnya seperti tubuhnya dibelah dari dalam.

Gisel merasakan tulangnya retak satu per satu.

Jantungnya diperas.

Matanya terasa meleleh.

Namun ia tidak mati.

Ia berubah.

Keesokan harinya, rumah itu tampak kosong.

Ibunya ditemukan gantung diri di dapur.

Tidak ada jejak Gisel.

Namun setiap malam, warga melihat sosok gadis berdiri di jendela lantai dua. Rambutnya panjang menutupi wajah. Tangannya berlumur tanah.

Kadang ia mengetuk kaca.

Kadang ia tersenyum.

Dan setiap tujuh tahun sekali, satu anak dari keluarga Mahendra menghilang.

Karena Gisel sekarang adalah penjaga perjanjian.

Ia bukan lagi manusia.

Ia adalah bagian dari rumah.

Bagian dari kutukan.

Bagian dari kelaparan yang tidak pernah terpuaskan.

Dan sampai hari ini, jeritannya masih terperangkap di dinding rumah itu.

Menunggu korban berikutnya.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama