𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di balik langit yang terlihat oleh mata manusia, ada sebuah kerajaan yang tidak pernah tercatat di peta mana pun.
Kerajaan itu berdiri di atas hamparan awan putih berkilau, dengan menara-menara kristal yang memantulkan cahaya matahari menjadi pelangi yang tak pernah pudar. Namanya Lunarisca, dan penguasanya dikenal sebagai Ratu Embun.
Ratu Embun bukanlah ratu biasa. Ia lahir dari tetes pertama embun yang jatuh ke bumi saat dunia masih muda.
Tubuhnya ringan seperti kabut pagi, rambutnya berkilau seperti benang perak, dan matanya memantulkan warna langit sebelum fajar.
Tugasnya hanya satu: menjaga keseimbangan antara langit dan bumi.
Namun keseimbangan, seperti kaca tipis, mudah sekali retak.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Bayangan dari Bawah Awan
Perjalanan ke Dunia Manusia
Di Dalam Perut Gunung
Suatu hari, embun di Lunarisca tidak lagi turun ke bumi. Padang rumput menjadi kering. Bunga-bunga yang biasanya membuka kelopaknya saat pagi, kini tertutup layu. Sungai kecil yang biasanya memantulkan sinar matahari, berubah menjadi garis kusam tak bernyawa.
Ratu Embun berdiri di balkon istananya, memandang bumi dari kejauhan. Ia dapat merasakan sesuatu—bukan sekadar kekeringan, melainkan ketidakseimbangan yang dalam.
Di dasar bumi, jauh di bawah akar gunung dan lautan, sesuatu telah bangun.
Makhluk itu disebut Penelan Kabut. Ia adalah roh kuno yang lahir dari sisa-sisa kegelapan sebelum cahaya pertama tercipta. Ia tidak membenci manusia, tidak pula ingin menghancurkan dunia. Ia hanya ingin satu hal: mengambil kembali kabut yang dulu menjadi miliknya.
Kabut yang kini menjadi bagian dari Ratu Embun.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, Ratu Embun turun ke bumi. Setiap langkahnya meninggalkan jejak titik-titik air berkilau. Ia berjalan melewati hutan yang kering dan desa yang sunyi.
Di sebuah ladang yang retak karena kemarau, ia bertemu seorang anak lelaki bernama Arka. Rambutnya kusut, wajahnya penuh debu, tetapi matanya menyala oleh harapan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Kau bukan orang biasa,” kata Arka pelan.
Ratu Embun tersenyum tipis. “Dan kau bukan anak biasa yang berani berbicara dengan bayangan.”
Arka menunjuk ke tanah. “Kami butuh hujan. Tanpa embun, benih tidak tumbuh. Tanpa benih, kami tidak bertahan.”
Kata-kata sederhana itu menusuk hati Ratu Embun lebih dalam daripada ancaman apa pun.
Ia menyadari sesuatu: keseimbangan bukan hanya tentang langit dan bumi. Ia tentang manusia juga.
Dengan Arka sebagai penunjuk jalan, Ratu Embun menuju Gunung Kaldera—tempat Penelan Kabut bersembunyi. Gunung itu sunyi, dipenuhi batu hitam dan angin panas.
Di dalam kawahnya, kabut berputar seperti pusaran hidup.
Dari kabut itu muncul sosok tinggi, samar, seperti bayangan yang tak memiliki bentuk tetap.
“Akhirnya kau datang,” suara itu bergema. “Kau membawa kabutku.”
Ratu Embun berdiri tegak. “Kabut itu kini memberi kehidupan. Ia bukan lagi milik kegelapan.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Makhluk itu tertawa, suara yang terdengar seperti batu runtuh.
“Cahaya selalu merasa lebih berhak.”
Pertarungan pun dimulai—bukan dengan pedang atau api, melainkan dengan tarik-menarik antara dingin dan hangat, antara lembut dan pekat.
Kabut berusaha menyelimuti Ratu Embun, menariknya kembali ke kegelapan awal. Namun setiap kali ia hampir tenggelam, ia teringat pada ladang kering, pada bunga yang layu, pada mata Arka.
Ia mengangkat kedua tangannya.
Alih-alih melawan, ia membagi kabutnya.
Sebagian kembali ke Penelan Kabut.
Sebagian tetap bersama.
--------
