𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐍𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐀𝐫𝐨𝐧 - 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟑

 

LAMPU4D - Aron selalu menatapnya, seolah menahan sesuatu.
“Kamu ingin Elena datang”
“Kamu mau makan apa”

“Kamu ingin Elena datang”
“Kamu mau makan apa”

Suatu malam, Nayara keluar tanpa izin. Ia menutup pintu perlahan, jantungnya berdegup keras karena ini bukan sekadar melanggar aturan—ini menantang sang penguasa rumah.

Ia pergi ke kafe kecil tempat sahabatnya, Elena, menunggu.

Elena memeluk Nayara begitu melihatnya. “Ya Tuhan, kamu benar-benar datang.”

Nayara tertawa hambar. “Aku bosan jadi tahanan.”

“Kamu baik-baik saja di sana”

Nayara mengaduk kopi tanpa minum. “Dia tidak jahat. Dia hanya… menguasai.”

Elena menghela napas. “Itu tetap jahat, Nay.”

Nayara menatap keluar jendela. Lampu kota terlihat cantik dari jauh, tapi ia merasa seperti orang yang hanya boleh melihat dunia, bukan hidup di dalamnya.

Ponsel Nayara bergetar.

Satu pesan dari Aron.

Pulang. Sekarang.

Nayara menggigit bibir, menahan panas di matanya. “Dia tahu.”

Elena menatapnya cemas. “Kamu mau balik”

Nayara berdiri. “Aku harus.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Di rumah, Aron menunggu di ruang tamu. Lampu hanya satu, redup, tapi cukup untuk membuat wajahnya terlihat lebih tajam. Ia duduk dengan kaki menyilang, tangannya bertaut, menatap jam di dinding seolah baru saja menghitung setiap menit Nayara pergi.

Nayara masuk dengan kepala tegak. “Aku pulang.”

Aron tidak langsung bicara. Ia berdiri perlahan, mendekat.

“Kau menikmati melawanku,” ucap Aron tenang.

Nayara mendongak. “Aku menikmati bernapas.”

Aron menatapnya lama, lalu berkata, “Kau istri nakal.”

Nayara menahan senyum sinis. “Dan kau suami yang suka mengatur.”

Aron mendekat lagi, sangat dekat, sampai Nayara bisa merasakan hangat napasnya. “Setiap kenakalan ada harganya.”

Nayara menahan degup jantungnya. “Kamu mau menghukum aku”

Aron menunduk, suaranya seperti bisikan di tepi telinga. “Aku mau memastikan kau tidak pergi lagi tanpa aku tahu. Itu saja.”

Nayara menatap matanya. Ada sesuatu yang retak di sana, sesuatu yang tidak cocok dengan citra Aron yang dingin.

“Kamu takut,” kata Nayara pelan, tidak percaya.

Aron tidak menjawab. Ia hanya menatap.

Malam itu, Nayara tidur dengan punggung menghadap Aron, tapi ia merasakan Aron tidak tidur. Ada getaran halus dari napas pria itu, ada kegelisahan yang tidak ia pahami.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Keesokan harinya, Nayara demam.

Ia bangun dengan kepala berat, tubuhnya lemah, tenggorokan kering. Ia mencoba bangkit, tapi lututnya goyah. Saat ia membuka pintu kamar, dunia berputar.

Dan ia jatuh, tapi tidak menghantam lantai.

Aron menangkapnya.

“Nayara,” suara Aron terdengar lebih panik dari biasanya. “Lihat aku.”

Nayara mencoba tersenyum, tapi bibirnya gemetar. “Aku… baik-baik…”

“Kau tidak baik-baik saja,” potong Aron.

Aron mengangkatnya ke ranjang, memanggil dokter, menunggu di sampingnya tanpa pergi. Saat dokter berkata Nayara kelelahan dan stres, Aron menatap kosong, seolah kata-kata itu menamparnya.

Setelah dokter pergi, Nayara membuka mata pelan. Ia melihat Aron duduk di kursi, kemejanya tidak serapi biasanya, rambutnya sedikit berantakan.

“Kamu tidak tidur,” bisik Nayara.

Aron menatapnya. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa”

Aron diam beberapa detik. Lalu ia berkata, “Karena aku pernah kehilangan orang yang aku pikir akan selalu ada.”

Nayara menelan napas. “Siapa”

Aron menatap tangannya sendiri. “Ibuku.”

Nayara tidak menyangka jawaban itu.

“Dia sakit,” lanjut Aron pelan. “Aku muda. Aku pikir aku kuat. Aku pikir uang dan kekuasaan bisa menahan kematian. Tapi ternyata tidak.”

Nayara menatapnya, dadanya menghangat sekaligus sesak. “Maaf.”

Aron menggeleng. “Aku tidak mencari maaf. Aku hanya… tidak tahu cara mencintai selain dengan cara menguasai. Karena itu satu-satunya cara aku bertahan.”

Nayara menutup mata sejenak. Untuk pertama kalinya, ia melihat Aron bukan sebagai penjara, melainkan sebagai manusia yang ketakutannya terlalu besar sampai mengubahnya jadi rantai.

Hari-hari setelah Nayara sakit, Aron sedikit berubah. Aturan masih ada, tapi ia mulai bertanya, bukan memerintah.

“Kamu mau keluar hari ini”

Perubahan kecil itu membuat Nayara bingung.

Suatu sore, Nayara berdiri di depan pintu, menatap Aron yang sedang mengenakan jam tangan.

“Aku mau jalan,” kata Nayara.

Aron menatapnya. “Dengan siapa”

“Sendiri.”

Aron menghela napas, lalu mengambil kunci mobil. “Aku antar.”

Nayara mengernyit. “Aku tidak bilang aku mau ditemani.”

“Aku tidak ikut ke dalam,” kata Aron. “Aku tunggu di mobil. Tapi aku ingin tahu kamu aman.”

Nayara menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Baik.”

Di toko buku kecil, Nayara berjalan di antara rak, merasakan kebebasan yang sederhana. Aron menunggu di mobil, seperti janji. Saat Nayara kembali, Aron membuka pintu tanpa bicara, hanya menatap Nayara seolah memastikan ia baik-baik saja.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Itu… terasa aneh. Tapi tidak buruk.

Namun ketenangan tidak bertahan lama.

Malam itu, saat Nayara dan Aron sedang makan malam, Raka masuk dengan wajah tegang. “Tuan, ada masalah.”

Aron menatapnya tajam. “Apa”

“Orang-orang dari pihak lama muncul lagi,” kata Raka pelan. “Mereka… menyebut nama Nyonya.”

Nayara membeku. “Namaku”

Aron menoleh pada Nayara, dan untuk pertama kalinya Nayara melihat kemarahan yang benar-benar hidup di mata Aron.

“Tidak ada yang menyentuhmu,” kata Aron tegas.

Nayara menelan napas. “Aron, ini tentang apa sebenarnya”

Aron diam, lalu berkata, “Tentang orang-orang yang menganggap istri adalah kelemahan.”

BERSAMBUNG

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama