𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Gunung Arktara tidak pernah tercatat sebagai jalur pendakian resmi.
Letaknya jauh di utara, tersembunyi di antara deretan pegunungan es yang hampir tak tersentuh manusia. Dalam peta satelit, puncaknya sering tertutup badai putih yang muncul tiba-tiba dan menghilang tanpa pola.
Namun justru itulah yang membuatnya menarik.
Alya, seorang peneliti iklim ekstrem, memimpin ekspedisi kecil bersama tiga orang: Reno si pendaki profesional, Malik ahli navigasi dan drone, serta Dr. Soren, ahli biologi yang terobsesi pada legenda “Makhluk Salju” yang konon hidup di lereng Arktara.
“Legenda hanya cerita,” kata Reno saat mereka mulai mendaki hari pertama.
Dr. Soren tersenyum tipis. “Semua penemuan besar dulunya dianggap legenda.”
Suhu turun drastis di hari kedua. Angin seperti pisau tipis yang menyayat kulit. Langkah mereka tenggelam dalam salju setinggi lutut.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Saat matahari mulai tenggelam, Malik menghentikan langkahnya.
“Jejak.”
Di permukaan salju yang belum terusik, ada bekas tapak kaki.
Terlalu besar untuk manusia.
Terlalu dalam untuk hewan biasa.
Dan yang membuat bulu kuduk merinding — jejak itu muncul dari lereng curam yang mustahil dituruni tanpa alat.
Reno berusaha terdengar tenang. “Beruang?”
“Beruang tidak hidup di ketinggian ini,” jawab Alya pelan.
Malam itu, suara aneh terdengar dari balik kabut salju. Bukan auman. Bukan langkah.
Lebih seperti desahan panjang yang tertiup angin.
Drone Malik yang diterbangkan untuk memantau sekitar tiba-tiba kehilangan sinyal. Layar monitor hanya menampilkan siluet samar tinggi besar bergerak di antara kabut.
“Rekamannya tersimpan,” bisik Malik.
Hari ketiga, badai datang lebih cepat dari perkiraan. Jarak pandang hanya beberapa meter. Tali pengaman mereka menegang saat angin mendorong dari samping.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Tiba-tiba, Reno yang berada di depan berhenti mendadak.
Di atas tebing es, berdiri sosok tinggi menjulang.
Putih.
Bulu panjang tertiup angin.
Matanya gelap, menatap tanpa berkedip.
Tidak agresif.
Tidak juga takut.
Hanya mengamati.
Alya merasakan jantungnya berdebar keras. Sosok itu tidak seperti hewan buas. Ada kecerdasan dalam tatapannya.
Dr. Soren berbisik hampir tak terdengar, “Kita bukan yang pertama di sini.”
Sosok itu melangkah mundur perlahan, lalu menghilang ke dalam kabut seolah menyatu dengan badai.
Namun bahaya belum selesai.
Es di bawah kaki mereka retak.
Reno tergelincir, tubuhnya hampir jatuh ke celah dalam. Malik dan Alya menahan tali dengan seluruh tenaga.
Suara retakan membelah sunyi.
Dalam sepersekian detik, sesuatu bergerak cepat dari balik kabut.
Bukan menyerang.
Tetapi mencengkeram lengan Reno dan mendorongnya kembali ke permukaan aman sebelum menghilang lagi.
Semua terdiam.
Nafas mereka membeku di udara.
Dr. Soren berbisik, “Ia tidak ingin kita mati.”
Alya menatap puncak Arktara yang kini terlihat samar di balik badai.
Ia mengerti sesuatu.
Gunung itu bukan sekadar tempat liar.
Ia dijaga.
Ekspedisi itu memutuskan turun sebelum mencapai puncak. Bukan karena takut, tetapi karena sadar ada batas yang tidak seharusnya dilewati.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Saat mereka tiba di kaki gunung, badai berhenti mendadak.
Langit cerah.
Seolah Arktara tidak pernah marah.
Dalam laporan resmi, Alya hanya menulis tentang fenomena cuaca ekstrem dan ketidakstabilan lapisan es.
Rekaman drone?
Hilang secara misterius.
Namun dalam ingatan mereka, jelas bahwa di puncak Arktara hidup sesuatu yang tidak haus darah, tidak mencari perang.
Ia hanya menjaga wilayahnya.
Dan terkadang, makhluk yang disebut “misterius” bukan ancaman.
Melainkan penjaga keseimbangan yang lebih tua dari manusia itu sendiri.
--------
