Di Bawah Bayangan Sang Don

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Hujan turun perlahan di sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan kilau redup yang dingin dan sepi. Di salah satu gang sempit, seorang gadis berdiri kebingungan, memeluk tas kecilnya erat-erat.

Namanya Alina.

Ia baru saja datang dari desa kecil, membawa harapan sederhana: bekerja, membantu keluarganya, dan menjalani hidup yang tenang. Namun kota ini… jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan.

Langkahnya terhenti ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.

“Sendirian di tempat seperti ini bukan ide bagus.”

Alina menoleh cepat. Seorang pria berdiri di ujung gang, mengenakan jas hitam rapi meski hujan belum lama berhenti. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam—seolah bisa membaca pikiran orang lain.

Pria itu adalah Ravian Arka.

Nama yang tidak dikenal Alina… tapi ditakuti seluruh kota.

“A-aku… hanya tersesat,” jawab Alina gugup.

Ravian mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa berat, seperti membawa beban yang tak terlihat. Ia memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki—bukan dengan tatapan merendahkan, tapi seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu.

“Ini bukan tempat untuk orang sepertimu,” katanya datar.

Sebelum Alina sempat menjawab, suara gaduh terdengar dari arah lain. Sekelompok pria mendekat dengan langkah cepat, wajah mereka penuh niat buruk.

“Dia di sana!” teriak salah satu dari mereka.

Alina membeku.

Ravian hanya menghela napas pelan.

“Sepertinya kamu membawa masalah,” ujarnya dingin.

“A-aku tidak tahu mereka siapa!” Alina hampir menangis.

Para pria itu semakin dekat. Tanpa banyak bicara, Ravian melangkah maju, berdiri di depan Alina.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Pergi,” katanya singkat.

Alina ragu.

“Sekarang.”

Tanpa pikir panjang, Alina berlari. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi satu hal yang ia tahu—pria itu baru saja menyelamatkannya.

Namun sejak malam itu… hidupnya berubah.

Beberapa hari kemudian, Alina akhirnya menemukan pekerjaan di sebuah kafe kecil. Hidup mulai terasa normal kembali, meski bayangan malam itu masih menghantuinya.

Sampai suatu hari… pintu kafe terbuka.

Dan Ravian masuk.

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Pemilik kafe bahkan menunduk hormat, tangannya gemetar saat menyajikan kopi.

Alina terdiam di balik meja kasir.

Ravian duduk, matanya langsung tertuju padanya.

“Kita bertemu lagi,” katanya.

Alina menelan ludah.

“Terima kasih… untuk malam itu,” ucapnya pelan.

Ravian tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak biasa.

“Kamu tidak tahu siapa aku, ya?”

Alina menggeleng jujur.

Untuk pertama kalinya, Ravian tersenyum tipis.

“Bagus.”

Sejak saat itu, Ravian mulai sering datang ke kafe. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk, minum kopi, dan sesekali memperhatikan Alina.

Namun kota tidak pernah diam.

Suatu malam, saat Alina pulang kerja, ia kembali dihadang oleh orang-orang yang sama seperti sebelumnya.

“Kali ini tidak ada yang menyelamatkanmu,” salah satu dari mereka berkata sinis.

Namun mereka salah.

Dalam hitungan detik, suasana berubah.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Beberapa pria berpakaian hitam muncul entah dari mana, melumpuhkan mereka tanpa suara. Di tengah mereka… Ravian berdiri.

“Sudah kubilang, dia di bawah perlindunganku,” ucapnya dingin.

Alina terkejut.

“Perlindungan…?”

Ravian menatapnya.

“Mulai sekarang, kamu tidak sendirian.”

Hari demi hari berlalu. Alina mulai mengetahui siapa Ravian sebenarnya.

Ia adalah seorang Don mafia—penguasa bayangan kota ini. Semua keputusan besar, semua konflik, semua ketakutan… berpusat padanya.

Namun yang membuat Alina bingung adalah satu hal.

Ravian tidak pernah memperlakukannya seperti dunia itu.

Ia tetap dingin, tetap berbahaya… tapi tidak pernah menyentuhnya dengan kekerasan. Bahkan, diam-diam, ia melindunginya dari segala ancaman.

“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Alina suatu malam.

Ravian terdiam cukup lama.

“Aku juga tidak tahu,” jawabnya akhirnya.

Namun sebenarnya… ia tahu.

Alina adalah satu-satunya hal di hidupnya yang tidak dipenuhi kebohongan.

Konflik datang saat musuh lama Ravian mengetahui kelemahannya.

Dan kelemahan itu… adalah Alina.

Suatu malam, Alina diculik.

Ravian kehilangan kendali.

Seluruh kota gemetar malam itu.

Gudang tua di pinggir pelabuhan menjadi saksi pertempuran paling brutal yang pernah terjadi. Ravian datang sendirian—tapi cukup untuk membuat semua orang ketakutan.

“Lepaskan dia,” suaranya rendah, tapi mematikan.

Pemimpin musuh hanya tertawa.

“Kau berubah, Ravian. Demi seorang gadis?”

Ravian tidak menjawab.

Ia hanya bergerak.

Dalam waktu singkat, semua berakhir.

Saat ia menemukan Alina, gadis itu menangis, tapi masih selamat.

Ravian berlutut di depannya—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada siapa pun.

“Aku terlambat,” katanya pelan.

Alina menggeleng, air matanya jatuh.

“Kamu datang,” jawabnya.

Malam itu, Ravian membuat keputusan.

Ia tahu dunia yang ia jalani tidak akan pernah aman untuk Alina.

“Aku akan menghilang,” katanya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Alina terdiam.

“Kamu harus hidup normal. Jauh dari semua ini.”

“Lalu kamu?”

Ravian tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah punya kehidupan normal.”

Alina menggenggam tangannya.

“Kalau begitu… aku tidak mau yang normal.”

Untuk pertama kalinya, Ravian terlihat kehilangan kata-kata.

Di tengah dunia gelap yang penuh kekuasaan dan darah… seorang gadis lugu memilih tetap di sisinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ravian Arka, sang Don mafia, merasa takut.

Bukan karena musuh.

Bukan karena kematian.

Tapi karena… kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya.

Dan sejak malam itu, cerita mereka bukan lagi tentang mafia dan gadis biasa.

Melainkan tentang dua dunia yang bertabrakan—
dan cinta yang lahir… di tempat yang paling tidak mungkin.

--------------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama