𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
LAMPU4D - Satu-satunya orang yang membuat napasnya terasa lebih ringan adalah sahabatnya, Cassia Hollow.
Cassia sering datang membawa makanan atau sekadar duduk menemani. Cassia bukan orang kaya, tapi ia selalu punya cara membuat sesuatu terasa lebih mudah.
“Sera, kamu makan dulu,” kata Cassia suatu sore, sambil menyodorkan nasi bungkus. “Kamu dari pagi belum makan, kan.”
Sera tersenyum kecil. “Aku nggak lapar.”
Cassia menatapnya tajam. “Kamu bukan nggak lapar, kamu cuma kebiasaan ngalah sama keadaan.”
Sera ingin tertawa, tapi yang keluar justru helaan napas panjang. “Aku cuma… takut kalau aku berhenti sebentar, semuanya jatuh.”
Cassia menggenggam tangan Sera. “Kalau kamu jatuh duluan, semuanya juga jatuh, Sera. Kamu itu manusia, bukan mesin.”
Sera mengangguk, walau di dalam hati ia tidak yakin manusia seperti apa yang masih sanggup ia jadi.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
Malam hari, setelah neneknya tidur, Sera duduk di lantai dekat kasur neneknya. Ia mendengarkan napas tua yang kadang berat, kadang terputus-putus.
Sera sering memejamkan mata dan berdoa dalam hati, memohon satu hal sederhana. Bukan uang, bukan keberuntungan, bukan hidup yang mewah. Ia cuma ingin neneknya bertahan lebih lama. Sedikit saja. Karena kalau neneknya pergi, Sera tidak tahu ia akan pulang ke mana.
Namun penyakit tidak pernah peduli pada doa yang paling tulus sekalipun.
Suatu malam, neneknya terbangun dengan batuk panjang yang tidak berhenti. Tubuhnya menggigil. Sera panik, tangan dan kakinya dingin, tapi ia berusaha terlihat tegar.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
“Nek, Sera panggil tetangga ya. Nek, tahan dulu,” ucap Sera cepat.
Neneknya menggeleng pelan. Matanya basah, tapi ia berusaha tersenyum. “Sera… sini.”
Sera mendekat, menahan tangis. “Iya, Nek.”
Neneknya meraba wajah Sera, pelan, seolah menghafal. “Kamu anak baik. Kamu sudah kuat sekali. Jangan salahin diri kamu kalau nanti Nenek… kalau nanti Nenek pergi.”
“Nenek jangan ngomong gitu,” Sera berbisik, suaranya pecah. “Sera masih butuh Nenek.”
Neneknya menghela napas berat. “Nenek juga mau tinggal. Tapi badan Nenek capek.”
Sera menggigit bibir sampai terasa sakit. Ia tidak ingin menangis, tapi air matanya turun sendiri. Ia menggenggam tangan neneknya, seolah dengan genggaman itu ia bisa menahan waktu.