𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
LAMPU4D - Seraphina selalu merasa hidupnya seperti lampu yang nyalanya tinggal sisa. Namanya Seraphina, tapi semua orang memanggilnya Sera. Umurnya dua puluh dua tahun, dan ia sudah terlalu akrab dengan kata lelah.
Ia hidup sebatang kara, menumpang tinggal di rumah kecil milik neneknya yang sakit-sakitan, di ujung gang yang jalannya sempit dan sering becek kalau hujan turun. Rumah itu tua, catnya pudar, dan atapnya kadang bocor. Namun bagi Sera, rumah itu satu-satunya tempat yang bisa ia sebut pulang, meski pulang sering kali berarti kembali pada tanggung jawab yang tidak pernah selesai.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Sera sudah bangun. Ia menyiapkan air hangat untuk neneknya, menumbuk obat yang harus diminum, lalu memasak bubur karena neneknya sudah lama tidak kuat mengunyah makanan keras.
Kadang Sera tersenyum saat neneknya mengelus tangannya, lalu berkata dengan suara pelan, “Sera… kamu jangan capek ya.” Sera selalu menjawab dengan cepat, seolah takut air matanya keburu jatuh. “Enggak, Nek. Sera kuat.”
Padahal, Sera sering merasa kuat itu hanya kata lain dari terpaksa.
Siang hari, Sera bekerja apa saja yang bisa ia dapat. Kadang ia mencuci piring di warung makan, kadang menjadi penjaga toko, kadang mengantar barang.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
Tidak ada pekerjaan tetap. Hanya ada jadwal yang berubah-ubah, dan upah yang tidak pernah cukup. Ia menabung sedikit demi sedikit untuk obat neneknya, untuk listrik, untuk beras, untuk semuanya yang terus meminta dibayar.
Saat orang lain menghabiskan uang untuk nongkrong atau jalan-jalan, Sera menghabiskannya untuk bertahan hidup.