𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
LAMPU4D - “Kamu harus hidup, Sera,” kata Cassia, suaranya tegas tapi gemetar.
Sera menatap kosong. “Untuk apa.”
Cassia menahan napas, lalu menunduk, menahan air mata. “Untuk Nenek kamu. Untuk semua perjuangan kamu.”
Sera tersenyum tipis, tapi senyum itu seperti luka. “Aku capek, Cass.”
Cassia memeluknya. “Aku tahu. Tapi kamu jangan pergi.”
Namun kadang, kelelahan tidak bertanya apakah seseorang siap menyerah. Ia hanya datang, menumpuk, lalu mengambil semuanya.
Suatu malam, Sera duduk di ranjang, memandangi foto neneknya yang ia taruh di meja kecil. Ia menyentuh bingkai foto itu, dan berbisik seperti anak yang meminta diantar tidur. “Nek… kalau Sera nyusul, Nenek marah nggak.”
Tidak ada jawaban selain sunyi.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
Beberapa hari kemudian, Sera jatuh sakit. Cassia menemukannya terbaring, tubuhnya panas dan napasnya pendek. Cassia panik, memanggil bantuan, membawa Sera ke rumah sakit, menunggu di luar ruang perawatan sambil menggenggam tas kecil Sera.
“Sera, kamu jangan tinggalin aku,” bisiknya, berkali-kali.
Sera bertahan sebentar. Ia sempat membuka mata, melihat Cassia di samping ranjang. Cassia menggenggam tangannya erat.
“Kamu sakit,” kata Cassia dengan suara bergetar. “Tapi kamu bakal sembuh. Kamu harus sembuh.”
Sera menatap Cassia dengan mata yang lelah. “Cass… makasih.”
Cassia menggeleng cepat. “Jangan ngomong makasih dulu. Kamu pulang dulu.”
Sera menarik napas, seperti menahan sesuatu yang berat di dadanya. “Aku… pengin ketemu Nenek.”
Cassia membeku. “Sera, jangan.”
Sera tersenyum kecil, senyum paling halus yang pernah Cassia lihat. “Aku capek banget.”
Cassia menangis. “Aku juga capek, tapi aku masih di sini. Kamu juga harus di sini.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
Sera tidak menjawab lagi. Tangannya melemah. Napasnya menipis, lalu hilang seperti lilin yang padam pelan. Monitor di samping ranjang mengeluarkan bunyi panjang yang membuat dunia Cassia seakan berhenti.
Cassia menjerit. “SERA!” Ia mengguncang tangan Sera, memanggil namanya berkali-kali. “Jangan gitu. Tolong, jangan. Sera, bangun. Bangun, ya. Kamu janji sama aku.”
Tapi Sera tidak kembali.
Cassia jatuh di lantai, menangis sejadi-jadinya. Tangisnya bukan lagi suara yang rapi, melainkan pecahan hati yang tumpah tanpa bisa ditahan. Ia memeluk tubuh Sera, mencium keningnya yang dingin, seolah bisa menghangatkan kembali hidup yang sudah pergi. “Aku nggak siap. Aku nggak siap sendirian, Sera. Kenapa kamu pergi.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
Di luar jendela rumah sakit, malam tetap berjalan. Lampu-lampu kota tetap menyala, orang-orang tetap pulang, dunia tetap berputar. Tapi bagi Cassia, satu dunia kecilnya baru saja berakhir.
Dan bagi Sera, mungkin untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar bisa beristirahat.
