𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐒𝐞𝐠𝐚𝐥𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡
𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Hujan turun pelan di kota pelabuhan itu, membasahi jalanan dan memantulkan cahaya lampu neon yang berpendar seperti luka terbuka. Nara berjalan cepat menyusuri trotoar, memeluk tas selempangnya erat-erat di dada. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 22.47. Terlalu malam untuk urusan kampus, terlalu sepi untuk merasa aman.
Ia berhenti di depan sebuah gedung tinggi dengan papan nama kecil bertuliskan ECLIPSE.
Nara menghela napas. Dosen pembimbingnya memaksa ia mengantar berkas langsung ke sini. Katanya penting. Katanya mendesak. Tapi tidak pernah bilang kalau tempatnya adalah klub malam yang terlihat seperti sarang rahasia orang-orang berjas hitam.
Seorang pria bertubuh besar berdiri di depan pintu belakang.
“Mau ke mana?” tanyanya datar.
“Aku… nganter dokumen.”
Pria itu menatap Nara dari ujung rambut sampai sepatu. Lalu menunjuk lorong sempit di samping gedung. “Naik tangga itu. Lantai dua.”
Nara menelan ludah dan melangkah masuk.
Lorong itu gelap, hanya diterangi lampu merah redup. Musik dari lantai bawah berdentum samar, seperti jantung raksasa yang berdetak di balik dinding. Setiap langkah Nara terdengar terlalu keras di telinganya sendiri.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Di ujung lorong ada pintu kaca buram. Dua orang berdiri di depan, berbicara pelan. Salah satunya membuka pintu saat melihat Nara.
Di dalam ruangan, udara terasa berat.
Seorang pria duduk di balik meja, mengenakan jas hitam rapi. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya tenang, tapi matanya… tajam. Seolah bisa membaca isi kepala siapa pun yang berdiri di depannya.
“Masuk,” katanya.
Nara melangkah pelan.
“Kamu Nara Rasyid,” lanjut pria itu, bukan bertanya.
“Iya.”
“Taruh berkasnya.”
Nara menyerahkan map cokelat itu. Tangannya sedikit gemetar. Pria itu tidak langsung membukanya. Ia justru berdiri dan berjalan mendekat.
Jarak mereka tinggal beberapa langkah.
“Kamu tahu ini tempat apa?” tanyanya.
Nara menggeleng.
“Bagus.” Senyum tipis muncul di wajah pria itu. “Berarti kamu belum tercemar.”
Nara tidak mengerti maksudnya. Ia hanya ingin pergi.
“Aku boleh pulang sekarang?”
Pria itu belum sempat menjawab ketika suara gaduh terdengar dari bawah. Langkah kaki cepat, teriakan pendek, lalu suara letupan yang membuat jantung Nara nyaris berhenti.
DOR.
Nara refleks mundur.
Salah satu penjaga masuk tergesa. “Bos, ada yang nyusup dari belakang. Bawa senjata.”
Pria di depannya menghela napas, seolah ini hanya gangguan kecil dalam jadwalnya. “Kunci akses. Matikan lorong. Jangan biarkan mereka naik.”
Penjaga itu pergi lagi.
Nara berdiri kaku. “Apa yang terjadi?”
Pria itu menatap Nara lama, lalu berkata pelan, “Kamu ikut aku.”
“Apa?”
Belum sempat Nara bereaksi, pria itu sudah menarik lengannya. Mereka keluar lewat pintu kecil di samping ruangan, menuruni tangga darurat, lalu masuk ke parkiran bawah tanah.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Sebuah mobil hitam sudah menunggu.
“Masuk,” perintahnya.
Nara ragu, tapi suara langkah kaki dari kejauhan membuatnya menurut. Mobil itu melaju cepat meninggalkan gedung.
Di dalam mobil, Nara menatap pria di sampingnya dengan napas tersengal. “Siapa kamu?”
“Reza Arkana.”
“Kenapa ada tembakan?”
Reza fokus menyetir. “Ada orang yang tidak suka caraku bekerja.”
“Kamu mafia?”
Reza tersenyum kecil. “Istilahnya banyak. Mafia, bandar, bos. Pilih saja yang kamu suka.”
Nara menelan ludah. “Aku tidak mau terlibat.”
Reza melirik sebentar. “Sayangnya, kamu sudah.”
Mobil melintasi jalan sepi di bawah flyover. Hujan semakin deras. Reza mematikan radio. Hanya suara mesin dan hujan yang tersisa.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Reza.
Nara menyebutkan alamat.
Reza mengangguk. “Mulai malam ini, jangan pulang lewat jalur yang sama. Jangan angkat nomor asing. Kalau merasa diikuti, telepon aku.”
“Kenapa kamu peduli?”
Reza terdiam sejenak. “Karena kamu berada di ruangan bersamaku saat ada serangan. Itu cukup untuk membuatmu jadi target.”
Kata target membuat perut Nara mual.
Mobil berhenti di depan rumah kecil Nara. Lampu teras menyala redup. Reza tidak langsung pergi.
Nara turun dan berdiri canggung.
Reza menyerahkan sebuah kartu hitam dengan satu nomor di atasnya. “Kalau ada apa-apa.”
Nara menerima kartu itu. “Aku hanya ingin hidup normal.”
Reza menatapnya dalam-dalam. “Di kota ini, hidup normal itu kemewahan.”
Nara masuk rumah dan mengunci pintu. Dari balik tirai, ia melihat mobil hitam itu masih diam beberapa detik, lalu pergi perlahan.
Malam itu, Nara tidak bisa tidur.
Ia sadar satu hal: ia baru saja menyentuh dunia gelap yang selama ini hanya ia dengar dari berita. Dan mulai sekarang, bayangan mafia itu akan selalu mengikuti langkahnya.
--------