𝐃𝐈 𝐁𝐀𝐖𝐀𝐇 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔 𝐍𝐄𝐎𝐍, 𝐃𝐀𝐑𝐀𝐇 𝐓𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐍𝐀𝐇 𝐓𝐈𝐃𝐔𝐑 - 𝐁𝐀𝐁 𝟐

 𝐁𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Nara baru tertidur menjelang subuh.

Mimpi buruk datang tanpa izin.

Ia bermimpi berjalan sendirian di lorong klub ECLIPSE, lampu merah menyala seperti mata iblis. Dari ujung lorong, seseorang memanggil namanya. Saat ia menoleh, wajah itu berubah—jadi pria bertubuh besar di pintu belakang. Lalu jadi Reza. Lalu jadi bayangannya sendiri.

Nara terbangun dengan napas tersengal.

Jam menunjukkan pukul 05.13.

Keringat dingin membasahi lehernya. Ia duduk di ranjang, menatap kosong ke dinding kamar yang penuh poster lama dan cat yang mulai mengelupas. Semua terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

Ia meraih ponsel.

Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab.

Tapi entah kenapa, Nara tetap merasa sedang diawasi.

Ia bangun, menyeduh kopi, lalu duduk di ruang makan kecil sambil menatap jendela. Jalanan masih sepi. Hanya tukang sayur yang lewat dengan motor bututnya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Ibunya masih tidur.

Nara ingin bilang semuanya. Tentang tembakan. Tentang pria bernama Reza Arkana. Tentang dunia yang tiba-tiba menempel di hidupnya. Tapi ia tahu, ibunya hanya akan panik.

Dan panik adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki sekarang.

Saat matahari mulai naik, Nara bersiap ke kampus.

Ia mengenakan jaket abu-abu, rambut diikat sederhana. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar di depan pintu, mengingat kata-kata Reza.

Jangan lewat rute yang sama.

Biasanya ia naik angkot lewat jalan besar. Hari ini, ia memilih gang kecil yang memutar.

Langkahnya cepat.

Di halte, Nara merasa ada yang aneh.

Seorang pria berdiri agak jauh, pura-pura bermain ponsel. Saat Nara melangkah ke kiri, pria itu ikut bergeser. Saat Nara menoleh, pria itu membuang muka.

Jantung Nara berdetak lebih cepat.

Ia naik angkot pertama yang lewat tanpa pikir panjang.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Ia membuka kartu hitam itu lagi. Nomor Reza terpampang dingin di layar.

Ia ragu.

Lalu angkot berhenti mendadak karena lampu merah. Dari kaca spion, Nara melihat motor berhenti di belakang mereka. Pengendaranya memakai helm hitam. Kaca helm gelap.

Nara menelan ludah.

Ia menekan nomor itu.

Derit sambungan terdengar sekali.

“Ya.”

Suara Reza terdengar tenang, terlalu tenang.

“Aku merasa diikuti,” kata Nara pelan.

“Di mana?”

Nara menyebutkan lokasi.

“Turun di minimarket depan kampusmu,” kata Reza cepat. “Masuk. Berdiri dekat kasir. Jangan keluar sampai aku bilang.”

“Reza—”

“Tetap di telepon.”

Nara mengikuti instruksi. Ia turun, masuk minimarket, berdiri pura-pura memilih minuman. Dari kaca, ia melihat motor itu berhenti di seberang jalan. Pengendaranya tidak masuk.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Reza tidak bicara selama hampir satu menit.

Lalu, “Pria berjaket cokelat di ujung rak. Helm hitam di tangan kanan. Kamu lihat?”

Nara menoleh sedikit. Jantungnya nyaris berhenti.

“Ya…”

“Itu anak buah orang yang menyerang klub semalam,” kata Reza. “Dia memastikan kamu benar-benar sendirian.”

Nara menutup mulutnya dengan tangan.

“Jangan panik,” lanjut Reza. “Kamu aman. Sekarang.”

“Sekarang?”

Tiba-tiba dua pria masuk minimarket. Salah satunya langsung menghampiri pria berjaket cokelat. Mereka berbicara singkat. Pria itu terlihat kaget, lalu keluar tergesa.

Motor di seberang jalan melaju pergi.

Nara terduduk di kursi kecil dekat mesin ATM.

“Apa yang barusan terjadi?” suaranya hampir bergetar.

Reza menghela napas. “Aku kirim orang.”

“Kamu… sudah mengawasi aku?”

“Aku tidak suka kehilangan variabel,” jawab Reza jujur.

Nara memejamkan mata. “Aku bukan barang.”

“Tidak,” Reza berkata pelan. “Kamu saksi hidup.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari ancaman mana pun.

Nara menatap lantai minimarket yang mengkilap. Tangannya dingin.

“Aku mau hidup normal,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu lepaskan aku.”

Reza terdiam beberapa detik. Saat bicara lagi, nadanya lebih rendah. “Kalau aku lepaskan, mereka yang akan mengambilmu.”

Nara menggigit bibirnya.

“Apa yang kamu mau dariku?”

“Untuk saat ini?” jawab Reza. “Tetap bernapas. Datang ke kampus seperti biasa. Jangan cerita ke siapa pun.”

“Dan kamu?”

“Aku akan membersihkan kekacauan yang datang bersamaku semalam.”

Nara menatap keluar jendela. Kota kembali sibuk seolah tidak pernah ada tembakan, tidak pernah ada pengintaian.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Reza…”

“Ya.”

“Kamu selalu hidup seperti ini?”

Ada jeda panjang.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Dulu aku punya pilihan. Sekarang aku hanya punya tanggung jawab.”

Telepon terputus.

Nara berdiri perlahan. Ia keluar minimarket, melangkah ke kampus dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Ia tahu, hidupnya sudah terbagi dua: sebelum Reza Arkana… dan sesudahnya.

Dan di kejauhan, dari balik mobil gelap yang terparkir, Reza menatap Nara berjalan masuk gerbang kampus lewat layar ponselnya.

Ia mengepalkan tangan.

Gadis itu tidak seharusnya ada di perang ini.

Tapi sekarang, ia harus memastikan Nara keluar hidup-hidup.

--------

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama