𝐍𝐚𝐦𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐤𝐮𝐛𝐮𝐫
𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Hari itu kampus terasa terlalu ramai.
Nara duduk di bangku belakang ruang kuliah, menatap papan tulis tanpa benar-benar membaca apa pun. Dosen berbicara tentang metodologi penelitian, tapi pikirannya tertinggal di minimarket pagi tadi—di helm hitam, di suara Reza yang terlalu tenang.
Ponselnya bergetar pelan di pangkuan.
Nomor tidak dikenal.
Jantung Nara langsung melonjak.
Ia tidak mengangkat.
Layar mati.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
“Kamu aman. Itu bukan aku.”
Nara tahu siapa pengirimnya.
Ia menarik napas, membalas cepat.
“Aku di kelas.”
“Tetap di sana sampai jam selesai.”
Nara menutup ponsel.
Ia merasa seperti hidup di bawah perintah tak tertulis.
Saat kuliah berakhir, Nara berjalan keluar bersama mahasiswa lain. Ia sengaja berhenti di depan papan pengumuman, pura-pura membaca info beasiswa. Dari kaca gedung fakultas, ia melihat pantulan dua pria berdiri agak jauh.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Tidak mendekat.
Tidak juga pergi.
Bayangan.
Nara merinding.
Ia menuju perpustakaan, duduk di sudut paling tenang. Ia mencoba fokus membaca jurnal, tapi huruf-huruf menari di depan matanya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kursi di depannya ditarik.
Seorang pria duduk.
Nara mengangkat kepala.
Reza.
Hari ini ia tidak memakai jas. Hanya kemeja hitam, lengan digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, tapi sorot matanya tetap sama—tajam, dingin, penuh perhitungan.
“Kamu seharusnya tidak ke sini,” bisik Nara.
Reza menoleh sekilas ke sekitar. “Aku menyamar sebagai alumni.”
Nara hampir tertawa, tapi urung.
“Ada apa?”
Reza menyandarkan punggung di kursi. “Orang yang mengikutimu tadi pagi sudah diambil.”
“Diambil?”
“Dipulangkan ke rumahnya. Dengan pesan.”
Nara menelan ludah. Ia tidak bertanya pesan seperti apa.
Reza menatap wajah Nara lebih lama dari yang nyaman. “Kamu pucat.”
“Aku bukan terbiasa dikejar orang bersenjata.”
“Belum,” jawab Reza.
Nara memejamkan mata sebentar. “Kenapa kamu repot-repot melindungiku?”
Reza diam.
Itu bukan pertanyaan baru, tapi kali ini Nara menatapnya langsung, menuntut jawaban.
“Karena ayahmu.”
Nama itu jatuh seperti batu.
Nara membuka mata. “Ayahku sudah meninggal.”
Reza mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Terus?”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Reza mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto lama, lalu mendorong layar ke arah Nara.
Di foto itu, seorang pria berdiri di depan papan tulis penuh coretan. Senyumnya kecil, matanya lelah.
Ayah Nara.
Tenggorokan Nara mengeras.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Dari arsip lama.” Suara Reza rendah. “Ayahmu menyelidiki organisasiku tujuh tahun lalu.”
Nara berdiri setengah. Kursinya bergeser, membuat suara kecil yang terdengar terlalu keras di perpustakaan.
“Kamu bilang kamu mafia,” desis Nara. “Berarti kamu ada hubungannya dengan kematian ayahku?”
Reza menatapnya lurus. Tidak mengelak.
“Ayahmu tidak mati karena aku.”
“Lalu karena siapa?”
“Karena dia terlalu dekat dengan orang yang sekarang mencoba menjatuhkanku.”
Nara terduduk kembali. Dunia seperti berputar pelan.
“Ayahmu menemukan jalur pengiriman ilegal lewat pelabuhan timur. Dia mengumpulkan bukti. Tapi sebelum berkas itu sampai ke kejaksaan… seseorang di kepolisian membocorkannya.”
Pengkhianatan.
Kata itu berdengung di kepala Nara.
“Dan sekarang orang yang sama mengira kamu menyimpan sesuatu,” lanjut Reza. “Karena kamu anaknya.”
Nara menggeleng. “Aku tidak punya apa-apa.”
“Aku tahu.” Reza mencondongkan tubuh. “Tapi mereka tidak peduli.”
Nara menggenggam tepi meja. “Kamu baru bilang aku aman.”
“Untuk sekarang.”
Nara tertawa hambar. “Bagus sekali. Untuk sekarang.”
Reza menghela napas. “Aku tidak akan menyerahkanmu pada mereka.”
“Kenapa?”
Reza ragu sepersekian detik. Lalu berkata, “Karena ayahmu pernah menyelamatkan hidupku.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Nara membeku.
“Ayahmu menutup mata pada satu kasus kecil supaya aku bisa keluar dari lingkaran itu,” lanjut Reza. “Aku gagal. Tapi aku tidak lupa.”
Nara menatap foto itu lagi. Air mata menggenang, tapi ia menahannya.
“Jadi aku hutang yang berjalan.”
Reza menggeleng. “Kamu manusia.”
Hening menyelimuti meja mereka.
Di kejauhan, seorang pria berjas abu-abu berdiri terlalu lama di rak buku hukum.
Reza melihatnya.
Wajahnya mengeras.
“Kita harus pergi,” kata Reza.
“Kemana?”
“Tempat aman.”
Nara bangkit perlahan. Jantungnya kembali berdetak liar.
Saat mereka berjalan keluar perpustakaan, Nara tahu satu hal dengan pasti:
nama ayahnya yang selama ini ia kubur dengan duka…
baru saja digali kembali oleh dunia mafia.
Dan ia sekarang berdiri tepat di tengahnya.
-----