𝐃𝐈 𝐁𝐀𝐖𝐀𝐇 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔 𝐍𝐄𝐎𝐍, 𝐃𝐀𝐑𝐀𝐇 𝐓𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐍𝐀𝐇 𝐓𝐈𝐃𝐔𝐑 - 𝐁𝐀𝐁 4

 𝐀𝐩𝐚𝐫𝐭𝐞𝐦𝐞𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐒𝐮𝐧𝐲𝐢


𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃  - Mobil melaju tanpa suara di jalanan kota yang mulai gelap.

Nara duduk diam di kursi belakang. Reza ada di depan bersama seorang pria lain yang menyetir. Pria itu tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik kaca spion.

“Kita ke mana?” tanya Nara akhirnya.

“Tempat aman,” jawab Reza singkat.

“Seperti apa amannya?”

Reza menoleh. “Ada kamera. Ada penjaga. Dan tidak ada nama di papan.”

Nara memeluk tasnya lebih erat.

Mereka berhenti di sebuah gedung apartemen biasa. Tidak mencolok. Tidak mewah. Bahkan terlihat sedikit tua. Reza turun lebih dulu, memastikan sekitar aman sebelum membuka pintu untuk Nara.

Lift naik tanpa suara sampai lantai sembilan.

Lorongnya panjang dan sunyi. Lampu putih dingin membuat bayangan kaki mereka terlihat seperti mengikuti.

Reza membuka unit 907.

Di dalam, apartemennya sederhana. Sofa abu-abu, meja kecil, dapur mini, dan satu kamar tidur. Tidak ada dekorasi berlebihan. Terlalu rapi untuk disebut rumah. Terlalu kosong untuk disebut nyaman.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Kamu tinggal di sini dulu,” kata Reza.

Nara menaruh tas. “Berapa lama?”

“Sampai aku pastikan kamu tidak diburu lagi.”

Nara memutar badan. “Dan kalau itu tidak pernah terjadi?”

Reza menatapnya lama. “Aku akan menemukan jalan.”

Nara mendengus pelan. “Kamu selalu yakin.”

“Kalau aku ragu, aku mati.”

Reza melepas jaketnya, meletakkan pistol kecil di atas meja tanpa sengaja—atau mungkin sengaja. Nara melihatnya.

“Kamu selalu bawa itu?”

“Selalu.”

Nara duduk di sofa. Kelelahan akhirnya mengejar tubuhnya. Ia menatap langit-langit, lalu memejamkan mata sebentar.

“Ayahmu dulu juga seperti kamu,” kata Reza tiba-tiba.

Nara membuka mata. “Maksudmu?”

“Dia keras kepala. Tidak suka diatur. Tapi selalu datang kalau orang lain butuh.”

Nara menelan ludah. “Dia tidak pernah cerita tentang ini.”

“Karena dia ingin kamu hidup normal.”

Nara tertawa kecil. “Ironis.”

Hening jatuh di antara mereka.

Reza menerima panggilan. Suaranya berubah dingin.

“Di mana?”

Ia berdiri, berjalan ke dekat jendela.

“Aku sudah bilang jangan bergerak sendiri.”

Nara mendengar potongan kalimat.

“…iya. Aku tahu.”

Reza menutup telepon, wajahnya menegang.

“Ada apa?” tanya Nara.

“Gudang kontainer kita di pelabuhan barat dibobol.”

Nara berdiri. “Mereka?”

“Ya.” Reza mengusap wajahnya. “Dan yang tahu jadwal itu cuma tiga orang.”

Nara merasa perutnya mual. “Berarti…”

“Ada pengkhianat di dalam.”

Reza berjalan mondar-mandir. Rahangnya mengeras.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Siapa?” tanya Nara pelan.

Reza menggeleng. “Belum tahu. Tapi aku akan cari.”

Ia berhenti di depan Nara.

“Kamu tidak boleh keluar dari sini tanpa izin aku.”

Nara menatapnya tajam. “Aku bukan tahanan.”

Reza mendekat satu langkah. “Kamu target.”

Jarak mereka tinggal sejengkal.

Nara bisa mencium aroma kopi dan asap tipis di baju Reza.

“Kamu menakutkan,” kata Nara.

Reza menatap matanya. “Aku tahu.”

“Tapi kamu juga satu-satunya alasan aku masih hidup.”

Reza terdiam.

Ada sesuatu berubah di udara.

Untuk sesaat, Reza terlihat bukan sebagai bos mafia, tapi pria lelah yang menanggung terlalu banyak nyawa di pundaknya.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu,” katanya pelan.

Nara menunduk. Dadanya terasa sesak.

“Aku tidak minta ini,” bisiknya.

Reza menghela napas. “Aku juga.”

Tiba-tiba alarm kecil berbunyi dari panel dinding.

Reza langsung menoleh.

“Kamera belakang mati.”

Nara menegang. “Apa artinya itu?”

Reza mengambil pistol dari meja.

“Artinya… seseorang sedang menguji pertahanan kita.”

Lampu lorong di luar berkedip.

Reza berdiri di depan Nara, tubuhnya menjadi tameng.

“Masuk kamar,” perintahnya.

Nara ragu.

“Sekarang.”

Nara berlari ke kamar. Dari balik pintu, ia mendengar langkah kaki cepat dan suara logam beradu.

Reza bersuara dingin, “Kamu salah alamat.”

Ada teriakan tertahan.

Lalu sunyi.

Nara keluar perlahan.

Di ruang tamu, dua pria terikat di lantai. Salah satunya berdarah di pelipis.

Reza berdiri di tengah ruangan, napasnya berat.

“Aku bilang kamu aman,” katanya tanpa menoleh.

Nara gemetar. “Ini yang kamu sebut aman?”

Reza menatapnya.

“Ini yang terbaik yang bisa aku lakukan.”

Dan saat itu Nara sadar…

ia tidak lagi hanya dilindungi oleh Reza Arkana.

Ia sudah masuk ke dalam perang Reza.

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama