𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐤𝐮𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐆𝐞𝐥𝐚𝐩
𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Apartemen itu kembali sunyi setelah dua pria tadi dibawa pergi oleh anak buah Reza.
Nara duduk di ujung sofa, lututnya ditarik ke dada. Tangannya masih gemetar. Bayangan wajah berdarah itu terus terulang di kepalanya.
Reza membersihkan tangannya di wastafel dapur, lalu kembali dengan dua gelas air.
“Minum.”
Nara menerima gelas itu tanpa bicara.
Beberapa menit berlalu tanpa suara.
Hanya dengung AC dan napas mereka yang terdengar.
“Aku hampir mati barusan,” kata Nara akhirnya.
Reza duduk di kursi seberang. “Aku tahu.”
“Kamu tahu, tapi kamu tetap bawa aku ke sini.”
Reza menatap lantai. “Kalau kamu tetap di rumahmu, mereka akan datang ke sana. Ibuku dulu mati karena kesalahan yang sama.”
Nara mengangkat kepala. “Ibumu?”
Reza terdiam sejenak.
“Dia bukan bagian dari apa pun,” lanjut Reza. “Dia hanya tinggal serumah denganku.”
Kata-kata itu dingin. Tapi luka di baliknya terasa.
Nara memeluk gelasnya.
“Kamu jadi seperti ini karena itu?”
Reza tersenyum kecil tanpa humor. “Aku jadi seperti ini karena aku belajar cepat.”
Nara menatap wajah Reza lebih lama.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kelelahan di balik tatapan tajam itu.
“Kamu bisa pergi,” kata Reza tiba-tiba.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Nara kaget. “Apa?”
“Kalau kamu mau kabur sekarang, aku tidak akan menahan.”
Nara berdiri refleks. “Serius?”
Reza mengangguk. “Aku akan kirim mobil. Aku buatkan cerita seolah kamu pindah kota.”
Nara melangkah dua langkah menuju pintu.
Tangannya sudah menyentuh gagang.
Ia berhenti.
“Kamu bohong,” katanya tanpa menoleh.
Reza tidak menyangkal.
“Kamu tahu mereka tetap akan mencariku.”
Reza menghela napas.
Nara memutar badan. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu menawarkan kebebasan palsu.”
Reza berdiri. “Aku menawarkan pilihan.”
“Pilihan antara mati sekarang atau mati nanti?”
Hening.
Reza menatap Nara dengan sorot mata yang berbeda.
“Tidak,” katanya pelan. “Pilihan antara lari sendirian… atau bertahan bersamaku.”
Nara menelan ludah.
“Kamu tidak kenal aku.”
“Tapi aku tahu kamu tidak akan meninggalkan ibumu.”
Kalimat itu menghantam.
Nara menjatuhkan tasnya.
Ia kembali duduk.
Reza menarik kursi mendekat.
“Ada sesuatu lagi yang harus kamu tahu,” katanya.
Nara menatapnya.
“Orang yang membocorkan posisi gudang… itu Rafi.”
“Siapa Rafi?”
“Tangan kananku.”
Dada Nara terasa sesak.
“Berarti orang yang paling kamu percaya…”
“…mungkin yang paling ingin aku mati.”
Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kamu hidup seperti ini setiap hari?”
Reza mengangguk.
“Tidur dengan senjata di dekatmu?”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Ya.”
“Makan sambil mikirin siapa yang akan menusuk dari belakang?”
“Ya.”
Nara menurunkan tangannya. Air mata jatuh tanpa ia sadari.
“Kamu tidak pernah benar-benar aman.”
Reza menatap Nara.
“Sekarang kamu mengerti kenapa aku tidak mau kamu ada di dunia ini.”
Nara terisak kecil.
Reza ragu sebentar, lalu duduk di samping Nara. Jarak mereka sangat dekat.
Tanpa sadar, Nara menyandarkan kepala ke bahu Reza.
Reza menegang.
“Kamu tidak harus kuat sendirian,” bisik Nara.
Reza memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia membiarkan seseorang berada sedekat itu.
Tiba-tiba ponsel Reza bergetar.
Pesan masuk.
Ia membaca cepat.
Wajahnya langsung berubah.
“Apa?” tanya Nara.
Reza berdiri.
“Rafi tahu kamu di sini.”
Nara berdiri juga. “Bagaimana?”
“Ada kamera yang dimatikan dari jarak jauh. Itu kode Rafi.”
Reza mengambil jaketnya.
“Kita harus pergi sekarang.”
“Ke mana?”
Reza menatap Nara dengan serius.
“Ke pelabuhan.”
Nara merasakan dingin menjalar di tulangnya.
“Kamu mau menghadapi dia?”
Reza mengangguk.
“Kalau tidak, dia akan terus datang.”
Nara menelan ludah.
Ia tahu, begitu mereka keluar dari apartemen itu…
tidak ada lagi zona aman.
------