𝐃𝐈 𝐁𝐀𝐖𝐀𝐇 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔 𝐍𝐄𝐎𝐍, 𝐃𝐀𝐑𝐀𝐇 𝐓𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐍𝐀𝐇 𝐓𝐈𝐃𝐔𝐑 - 𝕋𝔸𝕄𝔸𝕋

 𝐃𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐃𝐞𝐫𝐦𝐚𝐠𝐚


𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃  - Angin laut menusuk kulit saat mereka tiba di pelabuhan.

Kontainer-kontainer berjejer seperti peti mati raksasa. Lampu-lampu tinggi menerangi area bongkar muat, menciptakan bayangan panjang di aspal basah.

Nara turun dari mobil dengan kaki gemetar.

Reza memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyebar.

“Kamu tetap di belakangku,” bisik Reza.

Nara mengangguk.

Langkah mereka bergema di antara logam dan laut.

Seseorang berdiri di atas kontainer biru.

Rafi.

Wajahnya tenang, seolah ini bukan medan perang.

“Kamu terlambat, Bos,” katanya sambil bertepuk tangan pelan.

Reza mengangkat pistol. “Turun.”

Rafi tertawa kecil. “Masih saja dingin.”

Matanya melirik Nara.

“Oh, jadi ini anak polisi itu.”

Nara menegang.

Reza melangkah maju. “Jangan sebut namanya.”

“Kenapa? Takut dia tahu kamu juga bagian dari kematian ayahnya?”

Nara menatap Reza.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Kamu bohong?” suaranya gemetar.

Reza tidak menoleh. “Tidak.”

Rafi menyeringai. “Aku yang bocorin posisi ayahmu dulu.”

Kata-kata itu seperti peluru.

Nara merasa lututnya lemas.

“Dia terlalu idealis,” lanjut Rafi. “Dan kamu terlalu sentimental, Reza.”

Reza menembak.

Peluru menghantam kontainer tepat di samping Rafi.

Suasana meledak.

Tembakan balasan datang dari berbagai arah.

Nara berteriak saat Reza menariknya ke balik peti kemas.

Peluru bersiul di udara.

Salah satu anak buah Reza jatuh.

Darah membasahi aspal.

Reza membalas tembakan dengan presisi.

Rafi melompat turun, berlari ke arah lain.

Reza mengejar.

“Nara, tetap di sini!”

Tapi Nara melihat Rafi mengangkat senjata ke arah Reza.

Tanpa pikir panjang, Nara berlari.

“REZA!”

Terlambat.

Peluru Rafi melesat.

Nara mendorong Reza.

Ledakan rasa panas menghantam bahu Nara.

Ia jatuh.

Reza menoleh dengan mata membelalak.

“NARA!”

Reza menembak Rafi tepat di dada.

Rafi terhuyung, jatuh ke laut.

Sunyi menyusul.

Nara terbaring, darah merembes dari bahunya.

Reza berlutut di sampingnya.

“Kamu bodoh,” suara Reza pecah.

Nara tersenyum lemah. “Kamu juga.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Reza menekan lukanya.

“Aku tidak akan kehilanganmu.”

Sirene terdengar di kejauhan.

Bab 7 – Setelah Darah

Nara sadar di rumah sakit.

Ibunya menangis di samping ranjang.

Reza berdiri di sudut ruangan, lengannya diperban.

Polisi menutup kasus itu sebagai bentrokan antar geng.

Nama ayah Nara tidak pernah muncul.

Beberapa hari kemudian, Reza datang sendirian.

“Kamu harus pergi dari kota ini,” katanya.

Nara menatapnya. “Dan kamu?”

“Aku tidak bisa.”

“Kamu janji melindungiku.”

“Aku sudah.” Reza menelan ludah. “Sekarang aku melindungimu dengan cara menjauh.”

Nara menangis.

“Aku tidak mau hidup tanpa tahu kamu baik-baik saja.”

Reza menggenggam tangan Nara.

“Kamu harus hidup.”

Bab 8 – Perpisahan

Di terminal bus, hujan turun lagi.

Reza mengantar Nara sampai pintu keberangkatan.

Mereka berdiri canggung.

“Kamu berutang kopi padaku,” kata Nara.

Reza tersenyum kecil. “Aku berutang banyak hal.”

Nara memeluk Reza.

Reza membalas pelukan itu erat.

“Jangan cari aku,” bisik Reza.

“Aku akan selalu ingat kamu.”

Nara naik bus tanpa menoleh.

Reza berdiri sampai bus itu menghilang.

Epilog – Kota yang Masih Bernapas

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Enam bulan kemudian.

Nara tinggal di kota kecil. Ia bekerja di perpustakaan.

Hidupnya sederhana.

Suatu sore, sebuah amplop hitam muncul di meja kerjanya.

Di dalamnya hanya ada satu kartu.

“Kamu aman. Itu yang penting.”

Tanpa nama.

Nara tersenyum sambil menahan air mata.

Di kota lain, Reza Arkana berdiri di balkon gedung tinggi.

Perang belum selesai.

Tapi satu nyawa sudah ia selamatkan.

Dan itu cukup… untuk membuatnya terus bertahan.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama