𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Pada suatu masa, di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Arga. Setiap malam, tugas Arga adalah menyalakan lentera-lentera jalan agar warga desa bisa pulang dengan aman. Ayahnya dulu adalah penjaga lentera, dan setelah ayahnya tiada, Arga melanjutkan tugas itu dengan penuh tanggung jawab.
Meski masih kecil, Arga tidak pernah mengeluh.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ia berjalan dari ujung desa ke ujung desa, membawa tangga kecil dan botol minyak. Kadang hujan turun, kadang angin dingin menusuk tulang, tetapi Arga tetap menyalakan lentera satu per satu sambil bersenandung pelan.
Suatu malam, ketika bulan tampak sangat besar dan terang, Arga melihat cahaya aneh di atas bukit. Cahaya itu lembut, berkilau seperti perak.
Rasa penasaran membuat Arga menaiki bukit itu.
Di puncaknya, ia melihat seorang gadis berpakaian putih kebiruan sedang duduk di atas batu besar. Rambutnya panjang berkilau, dan matanya memantulkan cahaya bulan.
“Aku Putri Bulan,” ucap gadis itu lembut. “Aku turun ke bumi karena cahaya desamu mulai redup.”
Baca juga : 𝐁𝐚𝐰𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐡 & 𝐁𝐚𝐰𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐮𝐭𝐢𝐡
Arga terdiam. Ia tak pernah membayangkan bisa bertemu makhluk dari langit.
Putri Bulan lalu berkata bahwa lentera-lentera desa bukan sekadar lampu biasa. Cahaya itu adalah harapan, penuntun bagi jiwa-jiwa yang lelah. Namun akhir-akhir ini, cahaya itu melemah karena manusia mulai lupa saling peduli.
Arga menunduk.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ia teringat warga yang kini jarang saling menyapa, anak-anak yang sibuk sendiri, dan orang dewasa yang terlalu lelah untuk tersenyum.
“Apa yang bisa kulakukan?” tanya Arga.
Putri Bulan tersenyum. “Teruslah menyalakan lentera. Tapi lebih dari itu, nyalakan juga kebaikan.”
Sejak malam itu, Arga tak hanya menyalakan lampu. Ia membantu nenek menyeberang jalan, menemani anak-anak yang takut gelap, dan menyapa setiap orang dengan senyum tulus.
Perlahan, desa berubah.
Orang-orang kembali saling membantu. Anak-anak bermain bersama. Para tetangga duduk bercengkerama di depan rumah saat senja.
Lentera-lentera pun bersinar lebih terang dari sebelumnya.
Suatu malam, Arga kembali naik ke bukit, tetapi Putri Bulan tak lagi ada. Hanya angin lembut dan cahaya bulan yang hangat.
Namun Arga tahu, Putri Bulan sedang tersenyum dari langit.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ia kembali ke desa, membawa lentera di tangannya dan kehangatan di hatinya.
Sejak hari itu, Arga dikenal sebagai Anak Penjaga Lentera—bukan hanya karena ia menyalakan lampu, tetapi karena ia menjaga cahaya kebaikan di hati manusia.
Dan setiap kali bulan purnama muncul, warga desa selalu berkata pada anak-anak mereka:
“Lihatlah… itu tanda bahwa kebaikan kecil bisa menerangi dunia.”
------
