𝑻𝒂𝒎𝒂𝒏 𝑺𝒖𝒏𝒚𝒊 𝒅𝒊 𝑩𝒂𝒍𝒊𝒌 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝑺𝒆𝒏𝒋𝒂

 


𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit dan ladang bunga liar, hiduplah seorang anak perempuan bernama Aluna. Ia tinggal bersama ibunya di rumah kayu sederhana yang selalu harum oleh aroma teh hangat setiap sore.

Aluna bukan anak yang paling ceria, tetapi hatinya lembut. Sejak ayahnya meninggal, Aluna sering merasa dunia terasa lebih sepi. Ia jarang bercerita pada siapa pun tentang kesedihannya. Ia hanya menyimpannya dalam buku kecil berwarna biru, tempat ia menulis semua yang tak sanggup ia ucapkan.

Setiap sore, Aluna berjalan sendirian ke ujung desa, menuju sebuah taman tua yang hampir dilupakan orang. Taman itu penuh rumput tinggi dan bangku kayu yang mulai rapuh. Orang-orang menyebutnya Taman Sunyi. Tak ada yang bermain di sana lagi, karena katanya taman itu menyimpan terlalu banyak kenangan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Namun Aluna justru merasa tenang di tempat itu.

Ia duduk di bangku kayu, memandangi langit senja, lalu membuka buku birunya. Ia menulis tentang hari-harinya, tentang ibunya yang selalu tersenyum meski lelah, tentang burung pipit yang bertengger di pagar, dan tentang rindunya pada ayah.

Suatu sore, ketika langit berwarna jingga lembut, angin berhembus berbeda dari biasanya. Daun-daun bergetar pelan, dan Aluna mendengar suara langkah kecil di belakangnya.

Ia menoleh.

Di antara bunga liar berdiri seorang anak laki-laki dengan mata setenang air dan senyum hangat. Pakaiannya sederhana, tetapi tubuhnya dikelilingi cahaya tipis seperti kabut sore.

Anak itu berkata bahwa taman ini hidup dari cerita manusia.

Aluna terdiam.

Ia tak merasa takut. Justru hatinya terasa ringan.

Anak itu menjelaskan bahwa Taman Sunyi dulu adalah tempat orang-orang berbagi tawa, mimpi, dan harapan. Tapi ketika manusia berhenti datang, taman itu perlahan kehilangan cahaya. Kini, hanya suara hati yang tulus yang bisa menghidupkannya kembali.

Aluna menutup buku birunya.

Dengan suara pelan, ia mulai bercerita. Ia menceritakan tentang ayahnya, tentang rasa takut kehilangan, tentang keinginannya agar ibunya selalu sehat, dan tentang mimpinya melihat desa kembali ramai oleh tawa anak-anak.

Saat Aluna berbicara, bunga-bunga di sekitar mereka perlahan bersinar. Rumput yang layu berdiri kembali. Udara terasa hangat, seperti pelukan yang tak terlihat.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Anak laki-laki itu tersenyum.

Ia berkata bahwa tidak semua keajaiban datang dengan suara keras. Kadang, keajaiban tumbuh dari keberanian seseorang untuk jujur pada perasaannya sendiri.

Cahaya di tubuh anak itu memudar perlahan, lalu ia menghilang bersama angin senja.

Sejak hari itu, Aluna datang ke taman setiap sore. Ia membaca buku birunya dengan suara kecil, menyapa pepohonan, dan menaruh bunga di bangku kayu. Perlahan, taman itu berubah. Anak-anak mulai bermain lagi. Orang-orang duduk berbincang. Tawa kembali terdengar.

Ibunya sering bertanya kenapa Aluna kini lebih sering tersenyum.

Aluna hanya menjawab bahwa ia belajar satu hal penting.

Bahwa kesedihan tidak harus disembunyikan. Jika dibagi dengan tulus, ia bisa berubah menjadi cahaya.

Dan Taman Sunyi pun tak lagi sunyi.

Karena seorang anak kecil berani membuka hatinya.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama