𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di sebuah kampung kecil yang dikelilingi kebun pisang dan sawah basah, berdiri sebuah sumur tua di belakang rumah kosong. Sumur itu sudah ada sejak sebelum kampung itu dibangun. Batu-batunya hitam karena usia, dan air di dalamnya selalu tenang, seolah tak pernah terusik oleh angin.
Orang-orang kampung percaya, sumur itu bukan sekadar tempat mengambil air.
Ia adalah pintu.
Tidak ada yang tahu pintu ke mana.
Anak-anak dilarang bermain di dekatnya. Orang dewasa selalu menutup pembicaraan jika nama sumur itu disebut. Bahkan burung pun jarang hinggap di pohon dekat sana.
Namun Laras tidak tahu semua itu.
Ia baru pindah ke kampung tersebut bersama ibunya setelah ayahnya meninggal. Rumah mereka tepat bersebelahan dengan rumah kosong tempat sumur itu berada.
Malam pertama mereka tinggal di sana, Laras terbangun oleh suara cipratan air.
Pluk… pluk… pluk…
Ia mengira ibunya sedang mencuci.
Tapi saat membuka pintu kamar, rumah sunyi.
Lampu ruang tengah mati.
Ibunya tertidur lelap.
Dan suara itu datang dari luar.
Laras membuka jendela perlahan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Di bawah cahaya bulan, ia melihat permukaan air sumur bergerak seperti sedang disentuh sesuatu dari dalam.
Lalu terdengar suara anak kecil.
“Kak… dingin…”
Laras membeku.
Suaranya lirih, seperti tenggelam di air.
Ia menutup jendela cepat-cepat dan kembali ke tempat tidur, memeluk selimut sampai pagi.
Ia berpikir mungkin hanya mimpi.
Namun malam berikutnya, suara itu datang lagi.
“Kak… aku haus…”
Laras mulai takut.
Tapi rasa kasihan lebih besar.
Pagi harinya ia bertanya pada ibunya tentang sumur itu.
Ibunya langsung berubah wajah.
“Jangan pernah dekat-dekat situ,” katanya tegas.
“Tapi Bu… aku dengar anak kecil nangis.”
Ibunya terdiam lama.
Lalu berkata pelan, “Di kampung ini dulu ada anak perempuan yang jatuh ke sumur itu. Tubuhnya nggak pernah ditemukan.”
Laras menelan ludah.
“Namanya siapa?”
Ibunya menggeleng.
“Orang-orang nggak mau menyebut namanya.”
Sejak hari itu Laras mencoba mengabaikan suara-suara malam. Tapi setiap malam suara itu semakin jelas.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Bukan hanya tangisan.
Kadang terdengar langkah kaki kecil di halaman.
Kadang suara kuku menggores tembok.
Kadang bisikan tepat di balik telinganya.
“Aku sendirian…”
Suatu malam, Laras tak tahan lagi.
Ia mengambil senter dan berjalan pelan keluar rumah.
Kabut tipis menyelimuti halaman. Udara dingin menusuk kulit.
Ia berdiri di tepi sumur.
Airnya hitam seperti cermin tanpa pantulan.
“Kamu siapa?” tanya Laras gemetar.
Perlahan, kepala seorang anak muncul dari dalam sumur.
Rambutnya panjang menempel di wajah pucatnya. Matanya kosong, hitam seluruhnya. Mulutnya biru keunguan.
“Aku Sari,” katanya pelan.
“Kakak mau main sama aku?”
Laras ingin lari.
Tapi kakinya seperti tertanam di tanah.
“Aku jatuh… tapi nggak ada yang nolong,” lanjut Sari. “Gelap… dingin… lama…”
Air menetes dari dagunya.
“Aku cuma mau teman.”
Tangan kecil keluar dari sumur.
Kulitnya dingin seperti batu basah.
Laras menangis.
Ia mengulurkan tangannya.
Begitu kulit mereka bersentuhan, dunia Laras berubah.
Ia melihat sumur dari dalam.
Melihat tubuh kecil terjatuh.
Melihat air menutup wajah.
Melihat kampung tetap hidup sementara ia mati sendirian.
Dan Laras merasakan semuanya.
Sesak napas.
Dingin.
Kesepian.
Saat ibunya menemukan Laras keesokan pagi, gadis itu berdiri membelakangi sumur.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Diam.
Tidak bergerak.
Matanya kosong.
Mulutnya tersenyum tipis.
Sejak hari itu, Laras tidak pernah berbicara lagi.
Setiap malam ia berjalan ke sumur.
Duduk di tepinya.
Berbisik pada air.
Kadang orang-orang melihat dua bayangan anak kecil bermain di halaman.
Dan sejak Laras tinggal di sana, suara dari sumur tidak lagi satu.
Sekarang dua.
Jika kau melewati kampung itu saat malam, dan mendengar suara anak tertawa dari arah sumur tua, jangan pernah mendekat.
Karena mereka selalu mencari teman baru.
--------
