𝑷𝒂𝒏𝒈𝒆𝒓𝒂𝒏 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏

 

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah kerajaan yang dikelilingi danau luas dan hutan sunyi, hiduplah seorang pangeran bernama Elmar. 

Kerajaan itu bernama Arkena, negeri yang terkenal dengan menara jam tuanya yang berdiri megah di tengah kota. Jam itu dipercaya menjaga waktu dan keseimbangan seluruh negeri.

Namun ada satu hal aneh tentang Pangeran Elmar.

Ia tidak memiliki bayangan.

Sejak kecil, saat matahari bersinar, semua orang memiliki bayangan yang mengikuti langkah mereka. Tetapi Elmar tidak. Orang-orang berbisik bahwa itu pertanda kutukan. Sebagian berkata ia anak pembawa sial. Sebagian lagi mengatakan ia dipilih oleh kekuatan tak terlihat.

Elmar tumbuh dengan kesunyian yang panjang. Ia jarang keluar istana. Ia lebih suka duduk di tepi danau, memandangi pantulan dirinya di air. Di air, ia tetap terlihat utuh. Namun saat berdiri, tanah di bawahnya kosong tanpa siluet.

Suatu malam, ketika bulan purnama menggantung rendah dan kabut turun pelan, menara jam kerajaan berhenti berdetak.

Detaknya hilang.

Seluruh negeri terdiam.

Burung tidak berkicau. Angin tidak bergerak. Bahkan ombak danau seperti membeku.

Elmar merasakan sesuatu bergetar di dadanya, seperti panggilan. Tanpa berkata apa-apa pada siapa pun, ia berjalan menuju menara jam yang kini gelap dan sunyi.

Di depan pintu menara, ia menemukan seorang perempuan tua berjubah abu-abu.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Kau datang juga,” ucap perempuan itu.

“Apakah kau tahu mengapa jam ini berhenti?” tanya Elmar.

Perempuan tua itu tersenyum tipis. “Karena waktumu telah tiba.”

Elmar tidak mengerti.

Perempuan itu mengangkat lentera kecil, memperlihatkan sesuatu di tanah. Sebuah bayangan… berdiri sendiri, terpisah dari tubuh mana pun.

“Itu milikmu,” katanya.

Elmar terdiam. Bayangan itu tampak seperti siluet dirinya. Namun ia berdiri sendiri, seolah memiliki kehendak.

“Kenapa bayanganku terpisah?” tanya Elmar.

“Karena kau menolak bagian dirimu sendiri,” jawab perempuan itu. “Kau terlalu lama percaya pada bisikan orang lain. Kau takut menjadi berbeda. Bayanganmu adalah keberanianmu yang kau sembunyikan.”

Menara jam tiba-tiba bergetar. Retakan muncul di dindingnya, memancarkan cahaya keperakan.

“Jika kau ingin waktu kembali berjalan,” lanjut perempuan tua itu, “kau harus menerima bayanganmu.”

Elmar melangkah mendekati siluet itu. Bayangan tersebut bergerak, mengikuti setiap langkahnya, namun tetap terpisah. Ia merasa takut. Bagaimana jika bayangan itu lebih kuat darinya? Bagaimana jika ia kehilangan kendali?

Namun ia teringat semua malam yang ia habiskan sendirian, semua keraguan yang menahannya, semua mimpi yang tak pernah ia kejar.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Aku tidak ingin lari lagi,” bisiknya.

Elmar merentangkan tangannya.

Bayangan itu perlahan menyatu dengannya.

Saat keduanya bersentuhan, cahaya besar meledak dari tubuhnya, menjalar ke menara jam. Dentang keras terdengar menggema ke seluruh kerajaan.

Detak kembali berbunyi.

Angin kembali berhembus.

Burung-burung terbang.

Danau bergerak.

Kerajaan Arkena hidup kembali.

Elmar berdiri terengah, namun kali ini, di bawah cahaya bulan, sebuah bayangan jelas mengikuti kakinya.

Perempuan tua itu menghilang tanpa jejak.

Keesokan paginya, rakyat melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Pangeran Elmar berjalan di alun-alun dengan langkah tegap. Ia menyapa rakyatnya tanpa ragu. Ia membantu seorang anak kecil yang terjatuh. Ia tersenyum tanpa menunduk.

Bisikan-bisikan pun berubah.

Bukan lagi tentang kutukan.

Melainkan tentang keberanian.

Sejak hari itu, Elmar dikenal bukan sebagai Pangeran Tanpa Bayangan, melainkan Pangeran yang Menemukan Dirinya.

Dan menara jam Arkena tak pernah lagi berhenti berdetak.

Karena waktu hanya akan terhenti ketika seseorang berhenti menerima dirinya sendiri.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama