𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di sebuah negeri dataran tinggi bernama Sagara Wening, hujan bukanlah sekadar cuaca. Hujan adalah anugerah. Setiap tetesnya membawa kesuburan, harapan, dan kehidupan. Namun hujan tidak turun begitu saja.
Ada satu rahasia besar yang hanya diketahui oleh para tetua: hujan dijaga oleh seorang manusia pilihan.
Namanya selalu berubah di setiap zaman.
Dan di masa itu, penjaga hujan adalah seorang gadis kecil bernama Naira.
Naira tinggal di rumah kayu sederhana di tepi ladang gandum. Ayahnya seorang petani, ibunya penenun kain. Mereka tidak tahu bahwa putri mereka memikul tugas paling berat di negeri itu.
Naira sendiri baru menyadarinya saat berusia sepuluh tahun.
Malam itu, langit terasa terlalu sunyi. Angin berhenti bergerak. Bulan menggantung pucat seperti lentera hampir padam.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Saat Naira tertidur, ia bermimpi berdiri di tengah padang luas berwarna perak. Di hadapannya berdiri seorang wanita tinggi berjubah awan.
“Waktumu telah tiba,” kata wanita itu.
“Aku siapa?” tanya Naira dengan suara gemetar.
“Kau adalah Penjaga Hujan.”
Saat terbangun, telapak tangan Naira bercahaya samar. Di dadanya terasa hangat, seperti menyimpan matahari kecil.
Sejak hari itu, Naira bisa mendengar bisikan langit.
Ia tahu kapan hujan akan datang. Ia tahu kapan tanah mulai haus. Ia tahu ketika awan menangis diam-diam.
Namun menjadi penjaga bukan berarti hidupnya mudah.
Setiap kali hujan turun, sebagian kekuatannya ikut mengalir bersama air. Tubuhnya menjadi lemah, pandangannya kabur, dan jiwanya terasa kosong.
Tapi Naira tak pernah mengeluh. Ia melihat ladang kembali hijau. Ia mendengar tawa anak-anak bermain di kubangan air. Ia menyaksikan sungai kembali penuh.
Itu cukup baginya.
Suatu musim kemarau yang panjang datang. Langit membeku tanpa awan. Sungai mengering. Tanaman mati satu per satu. Orang-orang mulai putus asa.
Para tetua memanggil Naira ke balai batu.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Ini bukan kemarau biasa,” kata tetua tertua. “Ada sesuatu yang menahan hujan.”
Malam itu, Naira kembali bermimpi. Wanita berjubah awan muncul lagi, kali ini wajahnya pucat.
“Ada makhluk yang mencuri inti hujan,” katanya. “Ia bersembunyi di Gunung Kelam.”
Tanpa ragu, Naira memulai perjalanan seorang diri.
Ia berjalan melewati hutan yang tak lagi bernyanyi. Melewati desa-desa yang hanya berisi doa. Setiap langkah terasa berat, namun ia terus melangkah.
Gunung Kelam berdiri seperti bayangan raksasa.
Di puncaknya, Naira menemukan makhluk itu. Sosok tinggi hitam dengan mata kosong seperti sumur tua.
“Aku hanya ingin dunia diam,” kata makhluk itu. “Tanpa hujan, tanpa kehidupan, tanpa rasa sakit.”
Naira berdiri tegak meski kakinya gemetar.
“Hujan bukan hanya air,” katanya pelan. “Ia adalah kesempatan kedua.”
Makhluk itu tertawa, tapi suara tawanya retak.
“Apa kau rela mengorbankan dirimu?”
Naira menutup mata.
Ia teringat ibunya yang selalu menyisir rambutnya setiap pagi. Ayahnya yang pulang dengan tangan penuh lumpur namun senyum lebar. Anak-anak yang berlari saat hujan pertama turun.
“Aku rela,” jawabnya.
Naira membuka kedua tangannya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Cahaya keluar dari tubuhnya, menyatu dengan langit. Awan terbentuk perlahan. Angin kembali berhembus. Hujan jatuh deras, membasahi gunung, hutan, desa, dan ladang.
Makhluk hitam itu menghilang menjadi debu cahaya.
Namun Naira jatuh berlutut.
Tubuhnya menjadi ringan, hampir transparan.
Saat warga menemukannya keesokan pagi, Naira terbaring di padang rumput dengan senyum kecil di wajahnya.
Ia tidak meninggal.
Ia berubah.
Sejak hari itu, setiap kali hujan turun di Sagara Wening, orang-orang melihat siluet gadis kecil di balik tirai air. Mereka berkata Naira kini menjadi bagian dari langit.
Dan anak-anak yang lahir setelah musim kemarau itu selalu memiliki mata yang berkilau seperti tetesan hujan.
Karena penjaga hujan mungkin pergi.
Namun pengorbanannya tinggal selamanya.
--------
