𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Tidak ada peta yang mencantumkan Kota Arvela.
Ia tidak muncul dalam buku sejarah. Tidak tercatat dalam arsip kerajaan. Bahkan para pelaut yang pernah mengitari teluk utara hanya menyebutnya sebagai “tempat yang tak sengaja terlihat lalu hilang kembali”.
Arvela selalu tertutup kabut.
Kabut itu bukan kabut biasa. Ia tebal, berlapis, dan bergerak seperti makhluk hidup. Penduduk desa sekitar percaya bahwa kabut itu menjaga sesuatu—atau menyembunyikannya.
Rena baru berusia tujuh belas tahun ketika ia pertama kali melihat kota itu.
Ia adalah anak seorang penjual obat keliling. Sejak kecil, Rena terbiasa berpindah desa, membantu ayahnya menjual ramuan akar, daun kering, dan salep herbal. Hidupnya sederhana, penuh perjalanan, tanpa rumah tetap.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Namun suatu sore, ketika mereka melewati jalan berbatu di dekat hutan utara, Rena melihat menara tinggi menjulang di balik kabut.
“Ayah… lihat.”
Ayahnya menghentikan gerobak.
Namun saat pria itu menoleh, menara tersebut telah menghilang.
“Cuma bayangan, Nak,” kata ayahnya.
Tapi Rena tahu apa yang ia lihat.
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia bermimpi tentang jalanan sunyi, lampu-lampu redup, dan suara lonceng jauh yang memanggil namanya.
Keesokan paginya, saat ayahnya masih tertidur, Rena mengambil ransel kecil, sebotol air, dan pisau lipat. Ia meninggalkan secarik kertas bertuliskan: Aku harus melihat kota itu.
Kabut menyambutnya seperti tirai raksasa.
Begitu ia melangkah masuk, suara dunia luar menghilang. Burung berhenti berkicau. Angin mati. Bahkan langkah kakinya sendiri terdengar asing.
Ia berjalan lama.
Waktu kehilangan makna.
Lalu tiba-tiba kabut menipis.
Rena berdiri di gerbang batu tinggi dengan ukiran simbol aneh. Di atasnya tertulis satu kata yang hampir pudar: Arvela.
Di dalam kota, segalanya terasa… mati.
Bangunan berdiri utuh, jendela terbuka, pintu tak terkunci. Namun tidak ada satu pun manusia. Daun-daun kering menumpuk di jalanan. Air mancur di alun-alun membeku dalam bentuk gelombang.
Seolah seluruh kota berhenti pada satu detik yang sama.
Rena berjalan perlahan, jantungnya berdebar.
Ia masuk ke sebuah rumah kecil.
Di meja makan masih ada roti yang mengeras. Kursi ditarik setengah. Mainan anak tergeletak di lantai.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Penduduk kota ini tidak pergi.
Mereka lenyap.
Di pusat kota, berdiri sebuah menara hitam. Dari sanalah Rena merasakan tarikan kuat di dadanya, seperti magnet yang memanggil.
Ia masuk.
Tangga spiral menurun jauh ke bawah tanah.
Di ruang terdalam, ia menemukan sebuah ruangan bulat dengan simbol lingkaran besar di lantai. Di tengah lingkaran itu melayang sebuah kristal gelap, berdenyut pelan seperti jantung.
Begitu Rena mendekat, suara memenuhi kepalanya.
Bukan suara manusia.
Ini suara ribuan bisikan.
Ia melihat kilasan masa lalu: penduduk Arvela berkumpul, ketakutan, berdoa, lalu seorang pemimpin kota mengangkat kristal itu dan mengucapkan mantra penyegelan.
Kristal itu adalah wadah.
Wadah untuk sesuatu yang terlalu gelap untuk dibiarkan bebas.
Makhluk itu disebut Penelan Sunyi.
Ia bukan iblis. Bukan roh.
Ia adalah kumpulan kesedihan, rasa bersalah, dan ketakutan manusia yang menumpuk selama generasi.
Penduduk Arvela mengurung makhluk itu di dalam kristal, tetapi ritual tersebut menuntut harga.
Seluruh kota ikut tersegel.
Manusia berubah menjadi bayangan.
Waktu berhenti.
Arvela dikorbankan demi dunia luar.
Rena jatuh berlutut.
Kristal itu mulai retak.
Kabut di luar menebal.
Makhluk itu merasakan kehadiran manusia hidup.
Ia ingin keluar.
Rena tidak tahu mantra.
Ia tidak punya kekuatan sihir.
Ia hanya punya keberanian dan satu keputusan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ia menggenggam kristal itu.
Rasa dingin menembus tulang.
Tangisan ribuan jiwa memenuhi tubuhnya.
Namun Rena tidak melepaskannya.
Ia mengingat ayahnya.
Ia mengingat jalan-jalan desa.
Ia mengingat roti hangat dan tawa anak-anak.
Ia memikirkan dunia yang masih hidup.
Dengan sisa tenaga, ia melangkah ke lingkaran segel dan memecahkan kristal itu tepat di tengah simbol.
Cahaya hitam meledak.
Kabut tersedot masuk.
Menara bergetar.
Rena menjerit.
Namun bukannya mati, ia merasakan sesuatu pergi dari tubuhnya—beban yang bukan miliknya.
Ketika ia sadar, ia terbaring di luar kabut.
Langit cerah.
Burung kembali bernyanyi.
Kota Arvela tidak ada lagi.
Tidak ada menara.
Tidak ada gerbang.
Hanya padang rumput kosong.
Ayah Rena menemukan anaknya sore itu.
Rena tidak pernah menceritakan apa yang terjadi di balik kabut.
Tapi sejak hari itu, ia bisa melihat kesedihan orang hanya dari mata mereka.
Dan setiap kali kabut turun di daerah utara, penduduk desa tahu satu hal:
Rahasia Kota di Balik Kabut telah terkubur selamanya.
Namun keberanian seorang anak telah menyelamatkan dunia tanpa pernah meminta balasan.
--------
