𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di sebuah negeri yang selalu diselimuti kabut tipis, hiduplah sepasang remaja bernama Arga dan Elina.
Negeri itu disebut Senyap, bukan karena tak ada manusia, melainkan karena suara-suara bahagia telah lama menghilang. Burung jarang bernyanyi. Sungai mengalir tanpa gemericik. Bahkan angin pun berembus seolah takut mengganggu kesedihan yang menggantung di udara.
Penduduk Senyap hidup dengan kepala tertunduk.
Mereka percaya bahwa suatu hari, cahaya akan kembali.
Namun hari itu tak pernah datang.
Arga dan Elina bertemu sejak kecil. Mereka tumbuh bersama di tengah dinginnya negeri itu, saling menguatkan tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
Saat anak-anak lain memilih berdiam diri di rumah, mereka justru berjalan menyusuri hutan kabut, berbagi cerita kecil dan mimpi-mimpi sederhana.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Elina sering berkata,
“Kalau suatu hari aku pergi, kau masih akan mencariku?”
“Aku akan berjalan sejauh apa pun.”
Arga selalu menjawab,
Suatu malam, ketika bulan tertutup awan hitam, Elina jatuh sakit. Tubuhnya semakin lemah hari demi hari, seolah cahaya dalam dirinya perlahan padam.
Para tabib menyerah.
Ibunya hanya menangis.
Arga tidak mau menerima kenyataan.
Di rumah tua peninggalan kakeknya, Arga menemukan sebuah lentera kuno. Kaca lentera itu retak, besinya berkarat, namun saat ia menyalakan sumbunya, api kecil menyala sendiri—hangat, lembut, dan terasa hidup.
Di dalam cahaya itu, Arga mendengar bisikan:
“Ini Lentera Terakhir. Ia bisa menjaga satu jiwa… dengan harga satu hati.”
Arga menggenggam lentera itu tanpa ragu.
Malam itu, ia membawa Elina ke tengah hutan kabut.
Mereka duduk berdua di jalan tanah yang sunyi. Elina bersandar di dada Arga, napasnya pelan, tubuhnya dingin. Arga memeluknya erat, seolah ingin menyimpan kehangatan itu selamanya.
“Aku takut,” bisik Elina.
Arga menunduk, menyentuhkan keningnya ke kening Elina.
“Aku di sini.”
Ia mengangkat lentera.
Cahaya keemasan menyelimuti mereka berdua. Kabut di sekitar berputar pelan. Daun-daun kering terangkat, dan udara menjadi hangat untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Arga memejamkan mata.
Ia mengingat tawa Elina saat hujan pertama. Cara Elina memanggil namanya dengan nada manja. Janji kecil mereka untuk melihat dunia bersama.
Ia menyerahkan semuanya pada lentera.
Cahaya lentera menyala terang.
Elina membuka mata.
Napasnya kembali stabil. Warna wajahnya perlahan pulih. Namun Arga merasakan sesuatu keluar dari tubuhnya—bukan darah, bukan napas—melainkan kekuatannya sendiri.
Ia tersenyum.
Elina memeluknya erat.
“Arga… kenapa kau dingin?”
Arga tidak menjawab.
Ia hanya membelai rambut Elina, lalu menutup matanya.
Saat fajar menyingsing, Elina terbangun sendirian.
Lentera itu padam.
Arga tidak pernah bangun kembali.
Sejak hari itu, Senyap berubah.
Kabut mulai menipis.
Burung kembali bernyanyi.
Penduduk keluar rumah dan merasakan hangat matahari yang telah lama hilang.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Elina hidup.
Namun setiap malam, ia kembali ke tempat itu, membawa lentera mati di tangannya, duduk di jalan sunyi tempat Arga terakhir memeluknya.
Ia tahu satu hal:
Kadang cinta tidak meminta untuk dimiliki.
Kadang cinta hanya ingin memastikan orang yang kita sayangi tetap bernapas.
Dan di Negeri Senyap, Lentera Terakhir tidak hanya menyalakan cahaya…
ia mengajarkan arti pengorbanan.
--------
