LAMPU4D - Axel Ravenwood bukan pria biasa. Ia adalah sosok yang dikenal dingin, penuh perhitungan, dan tak pernah membiarkan perasaan mengganggu keputusan hidupnya. Dunia bisnis tunduk padanya. Para pesaing takut menyebut namanya. Ia hidup dengan disiplin tinggi, bangun sebelum matahari terbit, pulang ketika kota sudah sepi.
Namun semua itu berubah sejak Aluna hadir.
Aluna datang dalam hidup Axel seperti hujan pertama di musim kemarau. Gadis itu sederhana, lembut, dan terlalu polos untuk dunia Axel yang penuh intrik. Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena kesepakatan keluarga. Axel membutuhkan istri, Aluna membutuhkan perlindungan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Tak ada yang menyangka bahwa pernikahan kontrak itu akan berubah menjadi kisah paling berarti dalam hidup mereka.
Hari-hari Aluna di rumah besar Ravenwood terasa sunyi pada awalnya. Ia sering berjalan menyusuri lorong panjang sendirian, menyentuh dinding marmer yang dingin, menatap taman luas dari balkon kamar. Axel jarang berada di rumah. Jika pulang pun hanya untuk tidur beberapa jam lalu pergi lagi.
Namun Aluna tidak mengeluh.
Setiap pagi ia bangun lebih awal, membuatkan sarapan meski sering gagal. Kadang supnya terlalu asin, kadang roti gosong. Axel selalu memakannya tanpa komentar.
“Enak?” tanya Aluna suatu pagi dengan wajah penuh harap.
Axel mengangguk. “Iya.”
Padahal rasanya biasa saja. Tapi Axel tahu, bagi Aluna, usaha itu berarti.
Perlahan, kebiasaan kecil mulai terbentuk. Axel membiasakan diri pulang lebih cepat. Aluna menunggu di ruang tamu dengan secangkir teh hangat. Mereka makan malam bersama. Menonton film tanpa benar-benar fokus. Axel membaca laporan kerja sementara Aluna bersandar di bahunya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Tanpa mereka sadari, perasaan tumbuh di sela-sela rutinitas itu.
Suatu malam, Aluna sakit demam tinggi. Axel baru pulang dari perjalanan bisnis saat mendapati istrinya terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.
Axel panik.
Ia membatalkan semua rapat. Dokter pribadi dipanggil. Axel duduk di samping ranjang sepanjang malam, menggenggam tangan Aluna yang dingin.
“Kamu jangan kenapa-kenapa,” bisiknya.
Aluna membuka mata perlahan.
“Axel…”
“Aku di sini.”
Air mata Aluna jatuh. Ia menggenggam jari Axel lebih erat.
“Aku takut sendirian.”
Axel menunduk, menempelkan keningnya di tangan istrinya.
“Kamu nggak sendirian lagi.”
Sejak malam itu, Axel berubah.
Ia menjadi lebih protektif. Setiap langkah Aluna selalu diawasi. Ia memasang pengawal pribadi. Ia menolak perjalanan jauh. Bahkan mulai belajar memasak karena Aluna sering lupa makan saat ia tak di rumah.
𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆