LAMPU4D - Hujan turun perlahan di luar jendela kamar besar itu. Caca duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri sambil menatap lampu taman yang redup. Rumah ini terlalu megah untuk seorang gadis yang hanya ingin hidup sederhana. Dinding putih yang bersih, lantai marmer dingin, dan keheningan yang selalu terasa menekan dadanya.
Sudah hampir dua tahun ia tinggal di sini.
Dua tahun berada di bawah perlindungan sekaligus kekuasaan Axel Ravenwood.
Caca bukan tahanan, tapi juga bukan tamu. Axel menyelamatkannya dari kehidupan jalanan, memberinya kamar hangat, makanan layak, dan keamanan. Namun semua itu dibayar dengan kebebasan. Ia tidak boleh keluar tanpa izin. Tidak boleh pergi sendirian. Setiap langkahnya diawasi.
Axel selalu berkata itu demi keselamatannya.
Tapi bagi Caca, itu terasa seperti sangkar emas.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Ia berdiri perlahan, membuka lemari, lalu menarik tas kecil yang sudah ia siapkan sejak beberapa minggu lalu. Isinya hanya pakaian secukupnya, sedikit uang, dan foto ibunya yang sudah lama meninggal. Tangannya gemetar saat memasukkan barang-barang itu, bukan karena dingin, tapi karena takut.
Takut kehilangan semua kenyamanan ini.
Dan lebih dari itu, takut kehilangan Axel.
Meski dingin dan jarang bicara, Axel punya cara sendiri menunjukkan perhatian. Ia selalu memastikan Caca makan tepat waktu. Mengirimkan jaket saat hujan turun. Menanyakan keadaannya lewat pesan singkat saat sedang pergi kerja.
Hal-hal kecil itu membuat Caca bingung.
Ia tahu Axel peduli. Tapi ia juga tahu Axel terlalu menguasai.
Malam itu, saat para penjaga berganti shift, Caca turun pelan menyusuri tangga belakang. Jantungnya berdetak keras setiap kali papan lantai berderit. Ia hampir mencapai pintu ketika suara berat itu menghentikannya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
“Mau ke mana?”
Tubuh Caca membeku.
Axel berdiri di ujung lorong, hanya diterangi lampu dinding yang redup. Kemeja hitamnya rapi, rambutnya sedikit berantakan seolah baru keluar dari ruang kerja. Tatapannya tajam, tapi wajahnya terlihat lelah.
Caca menelan ludah.
“Aku cuma mau keluar sebentar.”
Axel melangkah mendekat. Pandangannya jatuh pada tas di tangan Caca.
“Kamu bawa barang.”
Air mata Caca langsung menggenang.
“Axel… aku mohon. Biarkan aku pergi.”
Axel berhenti beberapa langkah di depannya. Ia menatap Caca lama, seolah mencoba membaca isi hatinya.
“Kamu tahu dunia di luar sana tidak ramah.”
“Aku tahu,” jawab Caca dengan suara bergetar. “Tapi aku lebih takut hidup tanpa pilihan.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Kata-kata itu membuat Axel terdiam.
Ia menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Aku melindungimu.”
Caca menggeleng. “Kamu mengurungku.”
Keheningan menyelimuti lorong itu.
Akhirnya Axel berkata, “Kalau kamu keluar sekarang, aku tidak akan mencarimu.”
Caca menggenggam tasnya lebih erat.
“Terima kasih.”
Ia berjalan melewati Axel tanpa menoleh. Saat pintu belakang tertutup, Axel berdiri sendirian di lorong yang sunyi, merasa ada bagian dari rumah itu yang ikut pergi.
𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆