𝐏𝐞𝐥𝐚𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐜𝐚 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐀𝐱𝐞𝐥 - TAMAT

 

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D - Hidup di luar tidak semudah yang Caca bayangkan.

Ia menyewa kamar kecil di pinggir kota, bekerja sebagai pelayan di kafe sederhana. Bangun pagi, pulang malam, kadang harus menahan lapar demi membayar sewa. Tangannya sering pegal, kakinya nyeri, dan tubuhnya lelah.

Tapi ia tersenyum.

Ia bisa berjalan sendiri di trotoar. Bisa membeli kopi tanpa pengawal. Bisa duduk di taman umum sambil membaca buku bekas.

Kebebasan terasa pahit, tapi nyata.

Meski begitu, setiap malam saat ia berbaring di ranjang sempit kamarnya, pikirannya selalu kembali pada Axel. Pada rumah besar yang hangat. Pada cara Axel menatapnya saat ia sakit. Pada suara rendah pria itu saat mengingatkannya makan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

“Kenapa aku masih memikirkan dia,” gumam Caca pelan.

Di sisi lain kota, Axel kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ruang makan kosong. Kursi Caca tidak lagi terisi. Tidak ada suara langkah kecil di pagi hari.

Axel mencoba keras menjadi dingin seperti sebelumnya.

Namun ia sering berdiri di depan kamar kosong Caca tanpa alasan jelas.

Tiga minggu setelah Caca pergi, Axel melanggarnya sendiri janjinya.

Ia menemukan Caca di kafe tempat gadis itu bekerja.

Caca hampir menjatuhkan nampan saat melihat Axel berdiri di depan kasir.

Jantungnya berdegup keras.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

“Axel…”

Axel menatapnya lama.

“Kamu kurusan.”

Caca tersenyum kecil. “Kamu datang buat apa?”

“Aku cuma mau pastikan kamu baik-baik saja.”

Caca terdiam.

Dan Axel pergi begitu saja.

Caca mengejarnya ke luar.

“Axel.”

Pria itu berhenti.

Caca berdiri di depannya, hujan membasahi rambutnya.

“Aku nggak pernah benci kamu.”

Axel menatapnya dalam-dalam.

“Aku tahu.”

“Aku cuma ingin hidupku sendiri.”

Axel mengangguk.

“Kamu boleh.”

Mereka berdiri dalam diam, dua orang yang saling peduli tapi tak tahu bagaimana tetap bersama tanpa saling melukai.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Bulan berganti.

Caca mulai terbiasa dengan hidup barunya. Axel kembali memimpin dunianya. Namun satu pesan dari Axel membuat Caca tersenyum di tengah lelahnya.

“Kalau kamu butuh apa pun, hubungi aku.”

Caca membalas singkat.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih.”

Axel membaca pesan itu dengan napas lega.

Pelarian Caca bukan tentang meninggalkan Axel.

Melainkan tentang menemukan dirinya sendiri.

Dan Axel akhirnya belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Kadang, mencintai berarti memberi ruang.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama