LAMPU4D - Cia selalu percaya bahwa hidup adalah tentang bertahan. Sejak kecil, ia tumbuh tanpa kemewahan. Ibunya meninggal ketika ia masih SMP, ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan Cia hidup sendiri dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Gadis itu tumbuh menjadi pribadi yang polos, lembut, dan terlalu percaya pada orang lain.
Setiap pagi, Cia bangun sebelum matahari muncul. Ia menyiapkan sarapan sederhana, lalu berangkat bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe kecil di sudut kota. Hidupnya monoton. Bangun, bekerja, pulang, tidur. Tidak ada mimpi besar, tidak ada rencana masa depan. Ia hanya ingin hidup tenang.
Namun semua berubah pada malam hujan itu.
Cia pulang lebih lambat dari biasanya. Jalanan sepi, lampu-lampu kota terlihat buram karena hujan deras. Saat ia melewati gang sempit, suara teriakan membuat langkahnya terhenti. Sekelompok pria bertubuh besar sedang mengeroyok seseorang.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Tanpa berpikir panjang, Cia berteriak meminta mereka berhenti.
Itulah kesalahan terbesarnya.
Pria-pria itu kabur, meninggalkan satu sosok berdarah di tanah. Cia berlari menghampiri lelaki itu, mencoba menolong sebisanya. Ia tidak tahu bahwa pria yang diselamatkannya adalah Axel Ravencroft, pemimpin mafia paling kejam di kota itu.
Axel dikenal dingin, tanpa belas kasihan. Tangannya penuh darah, namanya ditakuti di dunia gelap. Tapi malam itu, di bawah hujan, Axel menatap wajah polos Cia dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sejak saat itu, hidup Cia bukan lagi miliknya sendiri.
Axel mulai mengawasinya dari jauh. Ia memastikan Cia aman, diam-diam membayar kontrakannya, bahkan menyingkirkan orang-orang yang mencoba mengganggunya. Cia tidak menyadari apa pun sampai suatu hari, pria itu muncul di kafenya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Aura Axel terlalu kuat untuk diabaikan. Semua orang langsung menunduk hormat, termasuk pemilik kafe. Cia gemetar saat Axel duduk di hadapannya.
“Aku ingin kamu ikut denganku,” ucap Axel datar.
Cia tidak mengerti. Ia mencoba menolak, tapi Axel bukan pria yang terbiasa menerima penolakan.
Malam itu, Cia dibawa ke mansion Axel.
Rumah itu megah, dingin, dan penuh penjaga bersenjata. Cia merasa seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang tidak ia pahami.
Hari-harinya berubah drastis.
Ia diberi kamar besar, pakaian mahal, makanan berlimpah. Tapi kebebasan Cia hilang. Ia tidak boleh keluar tanpa izin. Ke mana pun pergi selalu dikawal.