𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐍𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐀𝐫𝐨𝐧 - 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟓

 

LAMPU4D - “Aku pulang,” kata Nayara akhirnya. “Tapi kalau kamu kembali mengurungku… aku pergi selamanya.”

Aron menatapnya. “Baik.”

Mereka pulang.

Hari-hari berikutnya terasa seperti menulis ulang cerita. Aron benar-benar berusaha. Ia masih posesif, masih mudah cemburu ketika Elena menelepon terlalu lama, tapi ia menahan diri. Ia bertanya sebelum memutuskan. Ia mendengar sebelum mengatur.

Suatu malam, Nayara duduk di balkon, menatap lampu kota. Aron datang membawa selimut, menyampirkannya di bahu Nayara.

“Kamu dingin,” kata Aron.

Nayara tersenyum kecil. “Aku tidak dingin. Aku hanya banyak pikir.”

Aron duduk di sampingnya. “Tentang apa”

Nayara menatap langit. “Tentang kita. Kenapa kamu pilih aku”

Aron diam beberapa detik, lalu berkata, “Karena kamu satu-satunya hal yang terasa… hidup. Di dunia yang selalu dingin.”

Nayara menoleh, menatap Aron. “Itu bukan jawaban yang sehat, Aron.”

Aron tersenyum tipis, sedih. “Aku tahu. Makanya aku belajar.”

Nayara menarik napas. “Aku juga belajar. Jadi… kita imbang.”

Malam itu, Aron menggenggam tangan Nayara lebih erat, seolah menyimpan kalimat itu sebagai sesuatu yang suci.

Namun dunia luar kembali menguji.

Seseorang dari masa lalu Nayara datang. Nama pria itu Vero—seseorang yang dulu pernah dekat dengan Nayara sebelum Aron muncul. Vero tidak datang dengan senyum, ia datang dengan ancaman.

Saat Nayara keluar dari butik, dua orang menariknya masuk ke mobil. Nayara berusaha melawan, tapi tangan kuat menahan. Dunia berputar, dan suara kota lenyap.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Ia dibawa ke tempat kosong.

Vero berdiri di sana, matanya tajam. “Kamu jadi milik Maxime, ya”

Nayara menelan napas. “Aku bukan milik siapa pun.”

Vero tertawa kecil. “Kamu bilang itu, tapi kamu tetap bersama dia. Kamu tahu siapa dia”

Nayara menatap Vero. “Aku tahu dia buruk. Tapi dia juga berusaha jadi baik.”

Vero mendekat. “Dia tidak bisa. Dunia dia akan menghancurkanmu.”

Nayara mengangkat dagu. “Lepaskan aku.”

Vero menatap Nayara lama, lalu menghela napas. “Aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin kamu pergi dari dia.”

Nayara menggeleng. “Aku tidak akan pergi. Karena kali ini… aku memilih.”

Ketika Aron menemukan Nayara, malam itu hujan. Aron datang seperti badai. Raka dan orang-orangnya bergerak cepat. Tembakan terdengar, kaca pecah, langkah-langkah berlari. Nayara menutup telinga, tapi matanya menangkap sosok Aron di antara kekacauan itu—tetap menuju padanya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Aron memeluk Nayara begitu talinya lepas, begitu ia yakin Nayara baik-baik saja. Pelukannya begitu erat sampai Nayara hampir tidak bisa bernapas.

“Kamu sakit,” bisik Nayara.

“Aku takut,” jawab Aron tanpa malu.

Vero berdiri beberapa langkah dari mereka, tangan terangkat menyerah. Wajahnya letih, seolah ia baru sadar ia kalah bukan oleh peluru, tapi oleh pilihan Nayara.

“Aku tidak akan melawan,” kata Vero pada Aron. “Aku cuma ingin memastikan dia tidak hancur.”

Aron menatapnya dingin. “Kamu menculik istriku.”

Vero menghela napas. “Benar. Dan itu kesalahan.”

Vero menoleh pada Nayara, suaranya lebih lembut. “Maaf. Aku kira aku menyelamatkanmu. Ternyata aku hanya mencoba menyelamatkan perasaanku sendiri.”

Nayara menatap Vero, lalu mengangguk pelan. “Terima kasih karena peduli. Tapi aku bahagia di sini.”

BERSAMBUNG

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama