𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐍𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐀𝐫𝐨𝐧 - 𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

 

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D - Vero menutup mata sejenak, lalu tersenyum kecil yang pahit. “Jaga dia, Maxime. Kalau kamu sakiti dia, aku akan kembali.”

Aron tidak menjawab, tapi genggamannya pada Nayara menguat. Vero pergi malam itu, kembali ke Italia, meninggalkan masa lalu di belakang.

Setelah penculikan itu, Nayara jatuh sakit. Bukan karena luka fisik, melainkan karena shock dan kelelahan. Ia demam tinggi, tubuhnya menggigil di ranjang.

Aron tidak meninggalkannya. Ia duduk di samping ranjang, mengganti kompres, membisikkan kata-kata yang bahkan tidak ia tahu ia bisa ucapkan.

“Maaf,” bisik Aron. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”

Nayara membuka mata pelan, suaranya lemah. “Aku tidak mau kamu berubah jadi monster lagi karena aku.”

Aron menunduk, menyentuh kening Nayara. “Aku tidak berubah jadi monster. Aku berubah jadi suami yang takut kehilangan istrinya.”

Nayara tersenyum lemah. “Itu… lebih baik.”

Hari-hari berlalu. Nayara membaik. Dan di antara semua luka, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan: cinta yang tumbuh perlahan, nyata, dan tidak sempurna.

Suatu pagi, Nayara berdiri di kamar mandi, menatap dua garis merah di alat tes. Dunia terasa hening. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Aron mengetuk pintu. “Nayara, kamu lama.”

Nayara membuka pintu, menyerahkan alat tes itu tanpa kata.

Aron membacanya sekali. Lalu menatap Nayara, matanya berkaca-kaca. Ia tidak bicara beberapa detik, seolah takut ini hanya mimpi.

“Kita…” suara Aron pecah. “Kita akan punya anak”

Nayara mengangguk sambil menangis. “Aku takut.”

Aron memeluk Nayara erat, lebih lembut dari sebelumnya. “Aku juga. Tapi aku akan belajar lagi. Untuk kamu, dan untuk dia.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Kehamilan Nayara menjadi masa paling rapuh sekaligus paling indah. Aron berubah jadi pria yang selalu ada. Ia mengantar Nayara kontrol, menunggu di ruang tunggu tanpa mengeluh, mempelajari hal-hal yang tidak pernah ia pedulikan sebelumnya.

Elena sering datang membawa buah, Hazel datang membawa sup, Raka jadi lebih sering tersenyum melihat bosnya yang dulu keras kini panik hanya karena Nayara bersin.

Suatu malam, Nayara duduk di sofa, menatap Aron yang sedang membaca buku tentang kehamilan.

“Kamu serius baca itu” Nayara menahan tawa.

Aron menatapnya datar. “Aku harus tahu cara menjaga.”

Nayara menghela napas. “Aron, kamu tidak perlu sempurna.”

Aron menutup bukunya. “Aku tidak ingin sempurna. Aku ingin hadir.”

Kalimat itu membuat Nayara menangis pelan. Aron langsung panik, mendekat.

“Kamu kenapa”

Nayara menggeleng sambil tertawa kecil di antara air mata. “Aku cuma… tidak pernah punya seseorang yang benar-benar hadir untukku.”

Aron menatap Nayara, lalu mengecup keningnya. “Mulai sekarang, aku ada.”

Hari kelahiran tiba pada malam hujan. Nayara menahan nyeri, Aron menggenggam tangannya sepanjang waktu, membiarkan Nayara memarahinya, menangis, dan memukul lengannya saat sakit terlalu besar.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

“Aron, aku benci kamu,” teriak Nayara.

Aron menelan ludah, suaranya bergetar. “Benci aku saja. Tapi tetap di sini. Aku butuh kamu.”

Tangisan bayi terdengar.

Dunia Aron seolah berhenti.

Seorang bayi perempuan lahir.

Aron menggendongnya dengan tangan gemetar, matanya basah. “Halo,” bisiknya. “Aku ayahmu.”

Nayara menatap mereka dengan senyum lelah, air mata hangat mengalir di pipinya. “Kita berhasil.”

Hari-hari berikutnya rumah itu berubah total. Sunyi diganti tangisan, museum berubah jadi rumah. Aron yang dulu dingin kini belajar mengganti popok dengan wajah serius seolah sedang menandatangani kontrak besar.

Nayara tertawa sampai perutnya sakit. “Kamu lucu.”

Aron menatapnya, pura-pura kesal. “Aku berbahaya.”

“Sekarang kamu ayah,” jawab Nayara sambil tersenyum.

Di suatu sore, Aron berdiri di balkon, menggendong anak mereka yang tertidur. Nayara bersandar di sampingnya.

“Kamu masih posesif” Nayara menggoda pelan.

Aron menghela napas, menatap kota. “Iya.”

Nayara menatapnya. “Tapi”

Aron menoleh, menatap Nayara dengan mata yang tidak lagi gelap seperti dulu. “Tapi aku belajar. Aku tidak akan mengikatmu dengan takut lagi.”

Nayara tersenyum, lalu menggenggam tangan Aron. “Aku juga belajar. Aku tidak akan nakal hanya untuk membuktikan sesuatu. Aku nakal karena aku hidup.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Aron tertawa kecil, pertama kalinya Nayara mendengar tawa itu benar-benar nyata.

“Kalau begitu,” bisik Aron, “jadilah nakal sepuasmu… tapi pulanglah selalu.”

Nayara menatap Aron, lalu mengecup pipinya pelan. “Aku pulang. Karena aku memilih.”

Dan di bawah langit yang mulai cerah, Aron menyadari satu hal yang tidak pernah ia dapat dari kekuasaan, uang, atau ketakutan orang lain.

Rumah.

Bukan rumah besar yang dingin, melainkan rumah yang bernama Nayara—dan seorang anak kecil yang menggenggam jarinya seolah berkata bahwa dunia ini, akhirnya, aman.

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama