𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
LAMPU4D - Luna tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena satu tatapan.
Hari itu hujan turun pelan di halaman istana Valemore. Luna berdiri di bawah kanopi kecil, menunggu jemputan sambil memeluk buku catatannya.
Ia hanyalah gadis sederhana yang bekerja sebagai penerjemah tamu luar negeri, tidak punya darah bangsawan, tidak punya pengaruh, hanya mimpi kecil tentang hidup tenang.
Lalu ia melihatnya.
Arthur Aldrich Valemore.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Pangeran kerajaan itu berjalan melewati lorong marmer dengan langkah tenang, jas abu-abunya basah sedikit oleh hujan. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, mata biru kelamnya menyimpan keteduhan yang aneh. Saat Arthur menoleh, mata mereka bertemu.
Luna buru-buru menunduk.
Namun Arthur berhenti.
“Kamu,” ucapnya.
Luna mengangkat wajahnya gugup. “Saya?”
Arthur mendekat. “Kamu penerjemah baru.”
“Iya, Yang Mulia.”
Arthur tersenyum tipis. “Panggil aku Arthur. Aku tidak sedang menghadiri upacara.”
Luna kaget. “Baik… Arthur.”
Sejak hari itu, Arthur mulai sering mencari Luna. Ia meminta Luna menemani saat bertemu tamu asing, mengajaknya berjalan di taman istana, bahkan duduk bersama di perpustakaan kerajaan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Arthur berbeda dari cerita tentang pangeran yang Luna dengar. Ia tidak angkuh. Ia pendiam, tapi hangat. Ia sering menatap Luna seolah dunia di sekeliling mereka menghilang.
“Kamu tahu,” kata Arthur suatu sore, “aku selalu merasa sendirian di tempat ini.”
Luna tersenyum kecil. “Padahal kamu dikelilingi banyak orang.”
Arthur menatap langit. “Banyak orang tidak berarti ditemani.”
Kalimat itu membuat Luna terdiam.
Hari-hari berlalu, dan tanpa disadari, Luna jatuh cinta.
Namun cinta itu terasa mustahil.
Arthur adalah pangeran. Pewaris tahta. Sementara Luna hanya gadis biasa yang bahkan tidak punya keluarga besar untuk dibanggakan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
Saat Arthur akhirnya mengungkapkan perasaannya di taman belakang istana, Luna hanya bisa menangis.
“Aku mencintaimu, Luna,” ucap Arthur pelan. “Sejak hari pertama aku melihatmu.”
Luna menggeleng. “Ini salah, Arthur.”
“Kenapa salah.”
“Karena aku bukan siapa-siapa.”
Arthur memegang tangan Luna. “Di mataku, kamu segalanya.”