𝑩𝒊𝒔𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑳𝒆𝒎𝒂𝒓𝒊 𝑻𝒖𝒂

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah rumah peninggalan Belanda yang berdiri sunyi di pinggir kota, tinggal seorang gadis bernama Alin. Rumah itu diwariskan dari neneknya. 

Besar, berlangit-langit tinggi, dan penuh perabot lama yang tidak pernah disentuh.

Yang paling mencolok adalah sebuah lemari kayu jati di kamar paling belakang.

Lemari itu tinggi menjulang, pintunya ukir bunga layu, dan selalu terasa dingin meski siang hari. Nenek Alin dulu sering berkata:

“Kalau dengar suara dari lemari itu… jangan dibuka.”

Alin menganggap itu cuma cerita orang tua.

Malam pertama tinggal sendiri di rumah itu, ia mendengar suara ketukan pelan dari arah kamar belakang.

Tok… tok… tok…

Ia mengira itu tikus.

Malam berikutnya, suara itu berubah menjadi bisikan.

“Alin…”

Ia terbangun dengan keringat dingin. Suara itu sangat dekat, seolah berasal dari balik dinding.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Dengan senter kecil, Alin berjalan menuju kamar belakang. Pintu kamar terbuka sedikit. Bau kayu lapuk bercampur aroma besi berkarat menyergap hidungnya.

Lemari itu berdiri seperti biasa.

Namun kali ini, pintunya terbuka sejengkal.

Alin mendekat perlahan.

Saat ia menyentuh gagang lemari, suhu ruangan mendadak turun drastis. Nafasnya berubah jadi kabut tipis.

Dari dalam lemari terdengar suara anak kecil menangis.

“Bu… gelap…”

Alin mundur ketakutan.

Keesokan harinya ia mencari informasi tentang rumah itu. Seorang tetangga tua akhirnya bercerita.

Puluhan tahun lalu, rumah itu pernah menjadi tempat penitipan anak ilegal. Saat kebakaran besar terjadi, seorang penjaga panik dan menyembunyikan tiga balita di dalam lemari jati itu.

Api padam.

Tapi lemari itu tidak pernah dibuka lagi.

Ketiga anak itu mati kehabisan udara.

Sejak hari itu, lemari itu tidak bisa dipindahkan. Setiap orang yang mencoba akan jatuh sakit atau mengalami kecelakaan aneh.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Malam ketiga, Alin bermimpi berada di dalam lemari.

Gelap.

Sempit.

Tiga anak duduk memeluk lutut di sudut.

Salah satu menatap Alin dengan mata hitam penuh air mata.

“Temani kami…”

Ia terbangun sambil menjerit.

Sejak saat itu, bayangan anak-anak mulai muncul di pantulan kaca. Alin mendengar suara langkah kecil mengikuti ke mana pun ia pergi. Lemari itu perlahan terbuka sendiri setiap malam.

Suatu dini hari, tetangga melihat Alin berjalan ke kamar belakang seperti orang tidur.

Pagi harinya, rumah itu kosong.

Pintu lemari jati tertutup rapat.

Dari dalamnya, terdengar suara napas pelan… dan tangisan yang tidak pernah berhenti.

Sekarang, rumah itu kembali tak berpenghuni.

Namun warga sekitar bersumpah, jika malam sangat sunyi, kamu masih bisa mendengar suara dari balik lemari tua itu:

“Sekarang giliran kamu…”

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama