𝑲𝒖𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑷𝒐𝒉𝒐𝒏 𝑵𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂 𝑻𝒖𝒂

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di Desa Karangwungu, ada satu tempat yang tak pernah disentuh pembangunan: sebidang tanah lapang dengan pohon nangka tua di tengahnya. 

Batangnya hitam beralur, akarnya mencuat seperti jari-jari raksasa yang mencengkeram tanah, dan buahnya tak pernah dipetik—bukan karena tak matang, melainkan karena tak seorang pun berani.

Orang-orang berkata, pohon itu tumbuh di atas kesedihan.

Puluhan tahun lalu, seorang perempuan bernama Sari diusir dari desa karena difitnah mencuri. Ia tengah hamil tua. Tak ada yang membelanya. 

Di bawah pohon nangka itu, ia bersumpah, “Jika kebenaran tak pernah kembali, maka damai tak akan pernah singgah.” Malam itu hujan turun deras. 

Pagi harinya, Sari ditemukan tak bernyawa, memeluk perutnya. Sejak saat itu, desa sering diganggu mimpi buruk dan bisikan pada tengah malam.

Waktu berlalu. Generasi berganti. Kisah Sari tinggal cerita yang diceritakan setengah hati. 

Hingga suatu hari, Arga, pemuda yang baru pulang merantau, melihat peluang pada tanah lapang itu.

“Kita bangun balai desa di sini. Pohon itu harus ditebang,” katanya dalam rapat.

Orang-orang terdiam. Kepala desa menggeleng pelan. “Jangan, Ga. Pohon itu… bukan sekadar pohon.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Arga tertawa kecil. “Tak ada yang perlu ditakuti dari kayu dan daun.”

Ia membawa gergaji mesin keesokan paginya. Saat mata pisau menyentuh kulit batang, terdengar bunyi seperti erangan panjang. 

Angin mendadak berputar. Daun-daun bergetar tanpa sebab. Gergaji Arga macet. Dari sela akar, keluar bau tanah basah yang menusuk.

Malamnya, Arga bermimpi berdiri di bawah pohon. Seorang perempuan berambut panjang berdiri membelakanginya. Suaranya lirih, “Kembalikan yang kau ambil.”

Arga terbangun dengan napas memburu. Di telapak tangannya ada goresan memanjang, seperti bekas kuku. Ia tak ingat terluka.

Sejak hari itu, kejadian ganjil bermula. Setiap pukul dua belas malam, terdengar langkah mengitari rumah Arga. Ibunya melihat bayangan perempuan duduk di ujung ranjang. 

Adiknya yang masih kecil menangis tanpa sebab, menunjuk ke arah halaman, “Ada ibu-ibu di bawah pohon.”

Arga mencoba bersikap rasional. Ia kembali ke lapangan dengan tekad lebih kuat. Namun saat ia mengayunkan kapak, getah dari batang pohon mengalir kental dan gelap, menetes seperti darah. 

Tanah di sekeliling akar merekah, memperlihatkan potongan kain usang dan gelang kayu tua.

Seorang tetua desa, Mbah Ronto, datang tertatih. “Dulu, kami diam saat Sari difitnah. Diam adalah dosa yang diwariskan. Pohon itu menagih keadilan.”

Arga mulai goyah. Malam itu, ia tak tidur. Bisikan terdengar jelas di telinganya, bukan dari luar, melainkan dari dalam kepalanya. “Akui… pulangkan…”

Ia teringat sebuah rahasia keluarga yang lama disembunyikan. Kakeknya, tokoh berpengaruh desa, termasuk yang paling keras menuduh Sari. Ada saksi yang ingin membela, namun diancam. Kebenaran dikubur bersama hujan.

Keesokan harinya, Arga berdiri di bawah pohon nangka tua. Warga berkumpul dengan cemas. Ia meletakkan kapak dan berlutut.

“Dosa ini milik keluarga kami. Kami minta maaf pada Sari. Kami akan membuka kebenaran.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Ia menyerahkan dokumen lama yang ditemukan di lemari kakeknya—surat pengakuan bahwa tuduhan itu rekayasa demi perebutan tanah. Desa gempar. Air mata tumpah. Nama Sari dipulihkan. Tanah lapang itu dinyatakan sebagai taman peringatan.

Angin yang berputar perlahan mereda. Daun pohon nangka berdesir lembut. Getah yang menghitam berhenti menetes. 

Untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun, buah nangka jatuh tanpa suara erangan.

Namun kutukan tak hilang begitu saja. Mbah Ronto berbisik, “Keadilan mengobati, tapi luka tetap berbekas.”

Sejak hari itu, Desa Karangwungu berubah. Orang-orang tak lagi diam pada ketidakadilan. Pohon nangka tua tetap berdiri, bukan sebagai ancaman, melainkan pengingat.

Dan bila kau lewat saat senja, kau mungkin melihat bayangan perempuan tersenyum di antara daun—bukan lagi meminta, melainkan menjaga agar desa tak mengulang dosa yang sama.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

x

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama