𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di sebuah desa kecil yang hampir dilupakan waktu, berdiri sebuah rumah tua di ujung sawah. Tidak ada yang tahu siapa pemilik pertamanya.
Catnya mengelupas, jendelanya selalu tertutup rapat, dan pintu kayunya sering terdengar berderit sendiri saat malam turun.
Warga desa menyebutnya Rumah Ujung Sawah.
Tak satu pun anak berani mendekat setelah magrib.
Namun Raka tidak percaya cerita mistis.
Ia baru pindah ke desa itu karena pekerjaannya sebagai guru honorer. Rumah kontrakan yang ia dapatkan berada tak jauh dari rumah tua tersebut. Setiap sore, saat pulang mengajar, ia selalu melewati bangunan itu.
Awalnya biasa saja.
Sampai suatu malam, ia mendengar suara tangisan.
Tangisan itu pelan… lirih… seperti perempuan yang menahan sakit.
Raka keluar rumah, mencoba mencari sumber suara. Angin dingin menyapu sawah, membuat bulu kuduknya berdiri. Tangisan itu berasal dari arah Rumah Ujung Sawah.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Dengan senter di tangan, ia melangkah mendekat.
Pintu rumah itu terbuka sedikit.
“Permisi… ada orang?” panggil Raka.
Tak ada jawaban.
Ia mendorong pintu perlahan. Bau lembap dan anyir langsung menyergap hidungnya. Debu tebal menutupi lantai. Namun yang membuat jantungnya hampir berhenti adalah jejak kaki basah yang menuju ke dalam rumah.
Jejak itu kecil. Seperti kaki anak-anak.
Raka mengikutinya.
Di ruang tengah, ia melihat bekas darah mengering di dinding, membentuk garis-garis seperti cakaran. Nafasnya tersengal. Tangisan itu kini terdengar lebih dekat.
Dari kamar belakang.
Saat Raka membuka pintu kamar itu, lampu senternya menangkap sosok perempuan duduk membelakanginya. Rambutnya panjang menutupi wajah, pakaiannya compang-camping.
“Bu… Anda kenapa?” tanya Raka pelan.
Perempuan itu perlahan menoleh.
Wajahnya rusak.
Matanya kosong hitam tanpa bola mata. Mulutnya robek sampai ke pipi, meneteskan cairan gelap.
Raka mundur, kakinya gemetar.
“Kenapa kau masuk rumahku…” suara itu keluar serak, seperti dari tenggorokan yang penuh tanah.
Raka berlari sekuat tenaga keluar rumah. Tapi pintu depan menghilang. Lorong-lorong rumah berubah panjang tak wajar. Dindingnya berdenyut seperti bernapas.
Tangisan berubah menjadi tawa.
Dari segala arah.
Ia terjatuh, kepalanya membentur lantai. Saat bangun, ia melihat anak-anak berdiri mengelilinginya. Kulit mereka pucat kehijauan. Leher mereka patah miring. Mata mereka menatap kosong.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Om… main sama kami…”
Raka berteriak.
Pagi harinya, warga menemukan Raka tergeletak di sawah. Tubuhnya kaku. Matanya melotot. Di tangannya tergenggam segenggam tanah hitam.
Ia meninggal tanpa luka luar.
Sejak hari itu, tangisan di Rumah Ujung Sawah makin sering terdengar.
Dan penduduk mulai melihat sosok baru berdiri di jendela rumah itu.
Seorang pria muda.
Dengan wajah pucat.
Memandang sawah setiap senja.
--------
