𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di ujung sebuah jalan tua yang jarang dilalui, berdiri sebuah rumah yang tak pernah memiliki nama. Orang-orang hanya menyebutnya sebagai “rumah kosong di tikungan terakhir”.
Cat dindingnya mengelupas, jendelanya retak, dan pintunya selalu terbuka sedikit seolah menunggu seseorang masuk. Tidak ada yang tahu sejak kapan rumah itu ada, tapi semua orang sepakat pada satu hal—tempat itu tidak pernah benar-benar kosong.
Arga, seorang penulis muda yang sedang mencari inspirasi, justru tertarik pada cerita-cerita seperti itu. Ia percaya bahwa di balik setiap tempat angker, selalu ada kisah yang belum selesai.
Malam itu, dengan kamera, buku catatan, dan rasa penasaran yang lebih besar daripada rasa takut, ia memutuskan untuk masuk ke rumah tersebut.
Begitu melewati pintu, udara terasa berubah. Dingin. Bukan dingin biasa, tapi seperti sesuatu yang merayap perlahan di kulit. Lantai kayu berderit di setiap langkah, dan bau lembap memenuhi ruangan. Debu beterbangan saat Arga menyalakan senter.
“Cuma rumah tua,” gumamnya mencoba meyakinkan diri.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Di ruang tamu, terdapat kursi kayu yang tersusun rapi menghadap satu arah, seolah pernah digunakan untuk berkumpul. Di dinding, bekas foto masih terlihat, meskipun bingkainya sudah hilang. Dan di sudut ruangan, sebuah jam tua masih berdiri… tapi jarumnya tidak bergerak.
Arga mendekat.
Jam itu menunjukkan pukul 02.13.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Arga membeku.
“Siapa di sana?” suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia harapkan.
Tidak ada jawaban.
Namun suara itu terdengar lagi. Pelan. Teratur. Seperti seseorang berjalan tanpa terburu-buru.
Rasa logika Arga mulai goyah. Tidak mungkin ada orang di sini. Rumah ini sudah lama ditinggalkan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Dengan napas tertahan, ia menaiki tangga. Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi keras, seakan memperingatkan sesuatu. Semakin ke atas, udara semakin dingin. Senter di tangannya mulai berkedip.
Di ujung lorong, ada satu pintu yang sedikit terbuka.
Dari dalam, terdengar suara… tangisan.
Bukan tangisan keras, melainkan isak pelan yang menyayat.
Arga menelan ludah. Ia tahu ia seharusnya pergi. Tapi rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat.
Ia membuka pintu itu perlahan.
Ruangan di dalam gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela yang retak. Di sudut ruangan, duduk seorang perempuan dengan rambut panjang menutupi wajahnya.
Tangisannya berhenti.
Sunyi.
Arga tidak bergerak.
Perempuan itu perlahan mengangkat kepala.
Wajahnya… kosong. Matanya hitam pekat tanpa cahaya, dan kulitnya pucat seperti tak pernah tersentuh kehidupan.
“Kenapa… kamu datang?” suaranya lirih, hampir seperti bisikan angin.
Arga mundur satu langkah. “Aku… hanya ingin melihat.”
Perempuan itu berdiri. Gerakannya tidak alami, seperti tubuhnya digerakkan oleh sesuatu yang lain.
“Kamu tidak seharusnya di sini.”
Lampu senter Arga mati.
Gelap total.
Detak jantungnya terdengar keras di telinganya sendiri.
Lalu, sesuatu menyentuh bahunya.
Dingin. Sangat dingin.
Arga menoleh perlahan.
Perempuan itu sudah berada tepat di belakangnya.
Wajahnya kini sangat dekat, cukup dekat untuk melihat retakan halus di kulitnya, seperti porselen yang hampir pecah.
“Sekarang… kamu tidak bisa pergi.”
Tiba-tiba, Arga terjatuh ke lantai. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa berat. Seolah ada sesuatu yang menahannya.
Suara langkah kaki kembali terdengar.
Kali ini bukan satu.
Banyak.
Dari segala arah.
Dari dinding. Dari lantai. Dari langit-langit.
Bisikan mulai memenuhi ruangan.
“Jangan pergi…”
“Temani kami…”
“Sudah lama… sangat lama…”
Arga menutup telinganya, tapi suara itu tetap masuk ke dalam kepalanya.
Ia merangkak keluar dari ruangan, jatuh bangun menuruni tangga. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Pintu depan terlihat di kejauhan.
Hanya beberapa langkah lagi.
Namun saat ia hampir mencapainya, pintu itu tertutup dengan sendirinya.
Keras.
Arga berhenti.
Pelan-pelan, ia menoleh ke belakang.
Lorong yang tadi kosong kini dipenuhi bayangan. Sosok-sosok gelap berdiri diam, tanpa wajah, tanpa suara… hanya mengawasinya.
Di antara mereka, perempuan tadi berdiri paling depan.
“Tidak ada yang keluar dari sini,” katanya pelan.
Arga mencoba membuka pintu, tapi tidak bergerak.
Kunci tidak ada.
Pegangan pintu terasa dingin seperti es.
Ia berbalik lagi.
Bayangan-bayangan itu semakin dekat.
Langkah mereka tidak terdengar, tapi jaraknya terus berkurang.
Arga menutup mata.
Dalam keputusasaan, ia hanya bisa berbisik, “Tolong…”
Tiba-tiba, semua suara berhenti.
Sunyi.
Perlahan, Arga membuka mata.
Ia berdiri di luar rumah.
Pintu terbuka di belakangnya.
Udara malam terasa normal kembali.
Jalanan kosong.
Tidak ada apa-apa.
Dengan napas masih gemetar, Arga berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Namun saat ia melewati tikungan terakhir, ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Bayangannya… tidak bergerak sesuai langkahnya.
Ia berhenti.
Bayangan itu tetap berjalan satu langkah lagi.
Lalu berhenti.
Arga menoleh perlahan ke tanah.
Bayangan itu mengangkat kepala.
Dan tersenyum.
Sejak malam itu, Arga tidak pernah kembali ke rumah tersebut. Tapi orang-orang mulai melihat sesuatu yang baru di sana.
Sosok seorang pria berdiri di jendela lantai atas.
Diam.
Mengawasi.
Menunggu.
Dan jika diperhatikan dengan baik… bayangan di belakangnya tidak pernah sama.
--------------
