𝐏𝐮𝐭𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐇𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di ujung dunia yang terlupakan, terdapat sebuah hutan yang tidak pernah disentuh cahaya matahari. Hutan itu dikenal sebagai Hutan Bayangan—tempat di mana pepohonan berbisik, angin membawa rahasia, dan waktu berjalan lebih lambat dari seharusnya.

Tak seorang pun berani memasukinya.

Kecuali Elara.

Sejak kecil, Elara selalu merasa berbeda. Ia bisa mendengar suara yang tidak didengar orang lain—bisikan lembut yang memanggil namanya setiap kali malam tiba. Suara itu berasal dari arah hutan.

Suatu malam, ketika bulan tertutup awan hitam, suara itu terdengar lebih jelas dari biasanya.

“Elara... pulanglah...”

Jantungnya berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar dari rumah dan berjalan menuju Hutan Bayangan.

Langkah demi langkah, dunia yang ia kenal perlahan menghilang.

Begitu ia melewati batas hutan, suasana berubah drastis. Udara menjadi dingin, dan cahaya bulan seolah tersedot oleh pepohonan tinggi yang menjulang. Tanah di bawah kakinya berdenyut pelan, seperti memiliki kehidupan sendiri.

“Elara...”

Suara itu kembali memanggil.

“Aku di sini,” jawabnya pelan.

Dari balik kabut, muncul seorang wanita dengan gaun hitam panjang. Rambutnya menjuntai hingga menyentuh tanah, dan matanya bersinar kehijauan.

“Anakku...” bisiknya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Elara mundur. “Siapa kamu?”

Wanita itu tersenyum, namun senyumnya terasa asing. “Aku adalah penjaga hutan ini. Dan kau... adalah bagian darinya.”

Elara menggeleng. “Tidak, aku manusia.”

Wanita itu mengangkat tangannya. Dalam sekejap, bayangan di sekitar mereka bergerak seperti makhluk hidup. Mereka berputar, membentuk cermin gelap di udara.

“Lihatlah,” katanya.

Di dalam bayangan itu, Elara melihat dirinya—namun berbeda. Matanya bersinar seperti wanita itu, dan bayangan di sekitarnya tunduk kepadanya.

“Tidak...” bisiknya.

“Darahmu bukan milik dunia manusia,” lanjut wanita itu. “Kau adalah putri dari Hutan Bayangan.”

Elara merasakan kepalanya berputar. Ingatan-ingatan yang bukan miliknya mulai muncul—tentang hutan, tentang kekuatan, tentang kesendirian yang panjang.

“Tapi... kenapa aku dibesarkan di luar?” tanyanya.

Wanita itu menatap langit gelap. “Untuk melindungimu. Dunia ini sedang berubah. Ada yang mencoba menghancurkan keseimbangan antara cahaya dan bayangan.”

Seketika, tanah bergetar.

Dari kejauhan, terdengar suara langkah berat. Pohon-pohon bergoyang hebat, seolah sesuatu yang besar sedang mendekat.

“Mereka datang,” bisik wanita itu.

Dari balik kegelapan, muncul makhluk-makhluk tinggi dengan tubuh seperti batu hitam dan mata merah menyala.

“Pemburu Cahaya,” kata wanita itu. “Mereka ingin mengambil kekuatanmu.”

Elara gemetar. “Aku tidak tahu bagaimana menggunakan kekuatan itu!”

Wanita itu menggenggam tangannya. “Dengarkan hutan. Ia akan membimbingmu.”

Makhluk-makhluk itu semakin dekat.

“Elara!” teriak wanita itu. “Sekarang!”

Elara menutup matanya. Ia mencoba mendengar—bukan dengan telinga, tapi dengan hatinya.

Dan ia mendengarnya.

Bisikan hutan.

Akar-akar bergerak di bawah tanah, merambat menuju makhluk-makhluk itu. Bayangan di sekitar Elara mulai berputar, membentuk pusaran gelap yang kuat.

“Berhenti!” teriaknya.

Dalam sekejap, bayangan itu meledak keluar.

Makhluk-makhluk itu terpental, tubuh mereka retak seperti kaca yang pecah. Cahaya merah di mata mereka padam satu per satu.

Elara terjatuh ke lututnya, napasnya terengah.

“Aku... melakukan itu?” gumamnya.

Wanita itu tersenyum bangga. “Kau mulai mengingat.”

Namun belum sempat mereka bernapas lega, tanah kembali bergetar—lebih kuat dari sebelumnya.

Dari kegelapan, muncul sosok yang jauh lebih besar.

Seorang pria berjubah putih dengan mata bercahaya tajam.

“Jadi ini dia,” katanya dingin. “Putri Bayangan.”

Elara berdiri, meski tubuhnya gemetar. “Siapa kamu?”

“Aku adalah pembawa cahaya terakhir,” jawabnya. “Dan aku akan menghapus bayangan dari dunia ini.”

Wanita itu melangkah maju, melindungi Elara. “Jika kau menghancurkan bayangan, dunia akan kehilangan keseimbangannya!”

Pria itu tersenyum tipis. “Keseimbangan adalah kelemahan.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Tanpa peringatan, cahaya terang menyerang.

Hutan bergetar. Pohon-pohon terbakar oleh cahaya itu. Bayangan di sekitar mereka mulai menghilang.

“Elara!” teriak wanita itu. “Ini tak bisa dihindari lagi. Kau harus memilih—menjadi manusia, atau menjadi penjaga hutan ini!”

Elara menatap sekelilingnya. Dunia yang ia kenal... dan dunia yang memanggilnya.

Ia mengepalkan tangan.

“Aku tidak akan membiarkan salah satu hancur,” katanya tegas.

Cahaya dan bayangan mulai berkumpul di sekitarnya.

Untuk pertama kalinya, keduanya menyatu.

Ledakan energi besar mengguncang seluruh hutan.

Ketika semuanya mereda, pria berjubah putih itu menghilang. Hutan kembali tenang.

Elara berdiri di tengahnya, matanya kini bersinar—setengah cahaya, setengah bayangan.

Wanita itu menatapnya dengan kagum. “Kau menciptakan sesuatu yang baru...”

Elara tersenyum tipis. “Bukan cahaya. Bukan bayangan. Tapi keduanya.”

Angin berhembus lembut.

Dan untuk pertama kalinya, Hutan Bayangan merasakan kedamaian.

Namun jauh di luar sana, sesuatu mulai bangkit.

Karena kekuatan baru selalu membawa ancaman baru.

Dan kisah Elara... baru saja dimulai.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

x

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama