𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di atas langit dunia Arvenia, bintang-bintang tidak pernah diam.
Mereka bergerak perlahan, membentuk pola yang berubah setiap malam, seolah menyampaikan pesan yang hanya bisa dibaca oleh segelintir orang. Namun sejak beberapa tahun terakhir, bintang-bintang itu mulai jatuh.
Bukan sekadar cahaya.
Melainkan sesuatu yang hidup.
Orang-orang mulai takut pada langit.
Namun tidak dengan Nara.
Sejak kecil, ia selalu memandangi bintang dengan rasa penasaran. Baginya, langit bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang harus dipahami.
Dan malam itu, takdirnya berubah.
Sebuah bintang jatuh tepat di tengah hutan dekat desa tempat ia tinggal. Cahaya yang dihasilkannya begitu terang hingga membuat seluruh langit tampak gelap di sekitarnya.
Tanpa ragu, Nara berlari menuju lokasi jatuhnya bintang itu.
Setelah menembus pepohonan, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sebuah pintu.
Pintu besar, berwarna perak, berdiri tegak di tengah kawah yang hangus. Permukaannya dipenuhi ukiran aneh yang berpendar lembut.
Nara mendekat, jantungnya berdegup kencang.
Saat tangannya menyentuh pintu itu, ukiran-ukiran tersebut menyala lebih terang.
Dan pintu itu... terbuka.
Di baliknya bukanlah kegelapan, melainkan dunia lain.
Sebuah kota.
Namun bukan kota biasa.
Kota itu melayang di tengah lautan bintang.
Bangunan-bangunannya terbuat dari cahaya, jembatan-jembatan menghubungkan pulau-pulau kecil yang melayang, dan di kejauhan, terlihat aliran bintang seperti sungai yang mengalir tanpa suara.
Nara melangkah masuk, tak mampu menahan rasa kagumnya.
“Selamat datang di Astryalis.”
Suara itu membuatnya terkejut.
Seorang pria muda dengan jubah biru gelap berdiri di hadapannya. Matanya bersinar seperti langit malam.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Siapa kamu?” tanya Nara.
“Aku Orion,” jawabnya. “Penjaga kota ini.”
Nara menatap sekelilingnya. “Tempat apa ini?”
Orion tersenyum tipis. “Ini adalah kota yang lahir dari bintang-bintang yang jatuh. Tempat di mana cahaya yang hilang menemukan rumahnya.”
Nara mencoba memahami. “Jadi... semua bintang yang jatuh...”
“Berakhir di sini,” lanjut Orion.
Namun ada sesuatu yang mengganggunya.
Jika ini tempat yang indah, mengapa bintang-bintang itu harus jatuh?
“Ada yang tidak beres, bukan?” tanya Nara.
Orion terdiam sejenak.
Lalu ia mengangguk.
“Langit sedang sekarat.”
Kata-kata itu membuat Nara merinding.
“Bintang-bintang tidak jatuh dengan sendirinya,” lanjut Orion. “Ada sesuatu yang menarik mereka turun... sesuatu yang ingin memadamkan cahaya.”
Nara menelan ludah. “Apa itu?”
Orion menatap ke arah langit kota itu—atau lebih tepatnya, ke arah kehampaan di atas mereka.
“Bayangan.”
Seolah dipanggil oleh kata itu, suasana tiba-tiba berubah.
Cahaya kota meredup.
Sungai bintang berhenti mengalir.
Dan dari kejauhan, sesuatu muncul.
Gelap.
Bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sesuatu yang hidup dan bergerak. Ia menyebar seperti kabut, menelan bintang-bintang di jalurnya.
“Tidak...” bisik Orion.
“Itu dia?” tanya Nara dengan suara gemetar.
Orion mengangguk. “Ia datang lebih cepat dari yang kuduga.”
Bayangan itu terus mendekat, menghapus cahaya yang disentuhnya.
“Kita harus menghentikannya!” kata Nara.
Orion menatapnya. “Kau tidak mengerti. Itu bukan sesuatu yang bisa dilawan dengan kekuatan biasa.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Lalu bagaimana?” tanya Nara.
Orion mendekat, menatap matanya dalam-dalam.
“Kenapa pintu itu terbuka untukmu?”
Nara terdiam.
Ia tidak tahu jawabannya.
Namun jauh di dalam dirinya, ia merasakan sesuatu—sesuatu yang sama dengan cahaya kota ini.
“Aku... tidak tahu,” katanya pelan.
Orion menghela napas. “Kalau begitu, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.”
Ia mengangkat tangannya.
Sebuah cahaya kecil muncul, melayang di antara mereka.
“Sentuh ini,” katanya.
Nara ragu sejenak, lalu mengulurkan tangan.
Begitu ia menyentuh cahaya itu, dunia di sekitarnya berubah.
Ia melihat langit yang runtuh, bintang-bintang yang berjatuhan, dan bayangan yang tumbuh dari dalam kehampaan.
Namun ia juga melihat sesuatu yang lain.
Dirinya sendiri.
Berdiri di tengah semua itu, memegang cahaya yang lebih terang dari bintang mana pun.
Nara tersentak, kembali ke realitas.
“Apa itu?” tanyanya.
Orion tersenyum, kali ini dengan harapan.
“Itu adalah masa depan,” katanya. “Dan kau ada di dalamnya.”
Bayangan kini sudah sangat dekat.
Bagian luar kota mulai menghilang.
Nara mengepalkan tangan.
“Aku tidak akan membiarkan tempat ini hancur.”
Orion mengangguk. “Kalau begitu... gunakan itu.”
“Gunakan apa?”
“Cahaya dalam dirimu.”
Nara menutup mata.
Ia mengingat semua yang ia lihat—bintang, kota, dan masa depan yang mungkin terjadi.
Lalu ia mengulurkan tangan ke depan.
Cahaya muncul.
Awalnya kecil.
Namun kemudian membesar.
Semakin terang.
Bayangan itu berhenti.
Seolah merasakan sesuatu yang berbeda.
Nara melangkah maju, cahaya di sekitarnya semakin kuat.
“Ini bukan akhir,” katanya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Cahaya dan bayangan bertabrakan.
Ledakan energi menyebar ke seluruh kota.
Ketika semuanya mereda, bayangan itu menghilang.
Cahaya kembali.
Bintang-bintang kembali bersinar.
Nara terjatuh ke lututnya, kelelahan.
Orion mendekatinya.
“Kau melakukannya,” katanya.
Nara tersenyum lemah. “Apa sekarang semuanya sudah selesai?”
Orion menatap langit.
Retakan kecil masih terlihat.
“Belum,” katanya pelan. “Ini baru awal.”
Nara menatap kota itu, lalu ke arah pintu yang membawanya ke sini.
Ia tahu, ia tidak bisa kembali menjadi orang yang sama.
Karena kini, ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang menghubungkan langit, bintang, dan dunia yang belum terungkap.
Dan petualangannya...
baru saja dimulai.
--------------
