𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Langit di atas Kerajaan Valthera tidak lagi berwarna biru.
Sejak retakan pertama muncul, awan berubah menjadi merah gelap seperti bara yang membara. Setiap malam, kilatan cahaya turun dari langit yang pecah, menghantam tanah dan meninggalkan bekas seperti luka yang tidak pernah sembuh.
Orang-orang menyebutnya sebagai Pertanda Akhir.
Namun bagi Kael, itu adalah panggilan.
Ia berdiri di tepi tebing, menatap langit yang retak seperti kaca. Angin kencang menerpa wajahnya, membawa debu panas dari kejauhan.
“Ini bukan bencana,” bisiknya. “Ini sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.”
Sejak kecil, Kael selalu merasa terhubung dengan langit. Ia sering bermimpi tentang api yang jatuh, tentang suara yang memanggil namanya dari atas sana.
Dan malam ini, suara itu kembali.
“Kael...”
Ia menoleh, tapi tak ada siapa pun di belakangnya.
“Naiklah...”
Tiba-tiba, cahaya menyambar dari langit, jatuh tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanah bergetar hebat, membuat Kael hampir terjatuh.
Tanpa ragu, ia berlari menuju sumber cahaya itu.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Di tengah kawah yang masih mengepulkan asap, terdapat sebuah benda—mahkota berwarna emas gelap dengan nyala api yang tidak padam.
Kael mendekat perlahan.
Saat tangannya menyentuh mahkota itu, api tiba-tiba menyala lebih terang.
Visi menyerangnya.
Ia melihat perang besar, kerajaan yang hancur, dan sosok raksasa dari api yang menghancurkan langit itu sendiri. Di tengah kehancuran, berdiri seseorang yang mengenakan mahkota yang sama.
Dan orang itu... adalah dirinya.
Kael terjatuh ke belakang, napasnya terengah.
“Apa ini...?”
“Takdir.”
Suara itu datang dari belakangnya.
Seorang wanita dengan jubah merah berdiri di tepi kawah. Rambutnya hitam panjang, dan matanya bersinar seperti bara.
“Mahkota itu memilihmu,” katanya.
Kael menatapnya waspada. “Siapa kamu?”
“Aku Seraphine,” jawabnya. “Penjaga Api Langit.”
Kael kembali melihat mahkota itu. “Kenapa aku?”
Seraphine melangkah mendekat. “Karena hanya yang memiliki jiwa retak yang bisa menyatukan langit.”
Kael mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti.”
Seraphine menghela napas. “Langit tidak retak dengan sendirinya. Ada yang menghancurkannya dari dalam. Dan sekarang, dunia ini perlahan runtuh.”
“Dan mahkota itu...?” tanya Kael.
“Adalah kunci,” jawabnya. “Untuk memperbaiki... atau menghancurkan segalanya.”
Keheningan menyelimuti mereka.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Kael menatap langit yang terus retak, lalu kembali pada mahkota itu.
Jika ia meninggalkannya, mungkin dunia akan tetap seperti ini—perlahan hancur.
Jika ia mengambilnya... ia mungkin menjadi sesuatu yang tidak ia kenal.
Dengan tangan gemetar, Kael meraih mahkota itu.
Api langsung menyelimuti tubuhnya.
“AAARGH!”
Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah darahnya berubah menjadi lava. Cahaya menyala dari matanya, dan tanah di sekitarnya mulai retak.
Seraphine mundur beberapa langkah, matanya melebar.
“Kekuatan itu... terlalu cepat bangkit,” gumamnya.
Kael berlutut, berusaha mengendalikan energi yang mengamuk dalam dirinya.
“Aku... tidak bisa...”
“Tahan!” teriak Seraphine. “Jika kau kehilangan kendali, kau akan menghancurkan semuanya!”
Kael mengepalkan tangan, mencoba melawan rasa sakit yang luar biasa.
Dalam benaknya, ia kembali melihat visi itu—dunia yang terbakar, langit yang runtuh.
“Tidak...” bisiknya. “Aku tidak akan jadi seperti itu.”
Dengan sisa kekuatannya, ia menahan api itu.
Perlahan, nyala di tubuhnya mereda.
Kael terjatuh, napasnya berat.
Namun sesuatu telah berubah.
Matanya kini menyala samar, seperti bara yang tidak pernah padam.
Seraphine mendekat perlahan. “Kau berhasil... mengendalikannya.”
Kael menatap tangannya. Api kecil menari di ujung jarinya.
“Apa yang akan terjadi sekarang?” tanyanya.
Seraphine menatap langit. Retakan itu semakin melebar.
“Kita tidak punya banyak waktu,” katanya. “Ada yang lain yang mengincar mahkota itu.”
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Seolah menjawab kata-katanya, suara gemuruh terdengar dari kejauhan.
Langit kembali retak, kali ini lebih besar.
Dari celah itu, sesuatu turun.
Sosok raksasa dengan sayap api, matanya bersinar seperti matahari.
“Pemilik baru...” suara itu menggema. “Serahkan mahkota itu... atau dunia ini akan terbakar.”
Kael berdiri, meski tubuhnya masih lemah.
“Aku tidak akan menyerahkannya,” katanya tegas.
Seraphine tersenyum tipis. “Bagus. Karena jika kau menyerahkannya... semuanya akan berakhir.”
Makhluk itu mengepakkan sayapnya, menciptakan badai api yang menyapu daratan.
Kael mengangkat tangannya.
Api di sekitarnya merespons.
Untuk pertama kalinya, ia tidak takut.
Ia melangkah maju.
“Kalau ini takdirku...” katanya pelan, “maka aku yang akan menentukannya.”
Api dan langit bertabrakan.
Pertarungan yang akan menentukan nasib dunia pun dimulai.
Dan di tengah langit yang retak, sebuah kekuatan baru telah lahir.
Kekuatan yang bisa menyelamatkan... atau menghancurkan segalanya.
--------
